Selasa, 26 Juli 2011

eningkatkan Hasil Belajar Biologi Pokok Bahasan Ekosistem Melalui Pembelajaran Kooperatif NHT dengan Pendekatan CTL (Contextual Teaching And Learning

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dari waktu ke waktu semakin pesat, arus globalisasi semakin hebat. Akibat dari fenomena ini antara lain memunculkan persaingan dalam berbagai bidang kehidupan terutama dalam bidang lapangan kerja. Untuk menghadapi tantangan berat ini dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas. Untuk mencetak sumber daya manusia yang berkualitas diperlukan adanya peningkatan mutu pendidikan.
Berbicara mengenai pendidikan yang ada di sekolah seringkali membuat kita kecewa, apalagi bila dikaitkan dengan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Walaupun seringkali kita mengetahui bahwa banyak siswa yang mungkin mampu menyajikan tingkat hapalan yang baik terhadap materi yang diterimanya, tetapi pada kenyatannya mereka seringkali tidak memahami atau tidak mengerti secara mendalam pengetahuan yang bersifat hapalan tersebut. Sebagian besar dari siwa tidak mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pengetahuan itu dapat dipergunakan / dimanfaatkan.
Pembelajaran Biologi di SMP pada umumnya masih didominasi oleh aktifitas guru. Kelas berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan dan KBM berpegang pada buku paket saja. Sehingga kegiatan pembelajaran kurang memberikan kestujuhan kepada siswa untuk berinteraksi dengan benda-benda konkrit dalam situasi yang nyata.
Pada pengamatan awal di SMP Negeri 002 Loa Janan menunjukkan kenyataan bahwa proses KBM berjalan secara teoritis dan tidak terkait dengan lingkungan nyata ttujuh siswa berada. Padahal kondisi lingkungan sekolah sangat memungkinkan untuk diadakannya kegiatan praktikum, yang dalam pelaksanaannya tidak harus di dalam laboratorium. Sehingga siswa hanya dapat membayangkan obyek yang sedang dipelajarinya secara abstrak. Pada gilirannya minat dan motivasi serta keaktifan siswa menurun. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar baik secara individu maupun secara klasikal. Hasil pengamatan awal ketuntasan belajar siswa hanya mencapai 60 %. Ketidaktuntasan hasil belajar siswa dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti fasilitas sekolah yang kurang memadai, pemilihan metode pembelajaran yang kurang tepat, media pembelajaran kurang menarik dan tingkat keaktifan siswa yang rendah.
Untuk mengatasi masalah tersebut, diperlukan adanya sebuah strategi pembelajaran yang lebih memberdayakan siswa, yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang mampu meningkatkan minat dan motivasi siswa. Pendekatan pembelajaran ini salah satunya menekankan kepada bagaimana belajar di sekolah yang dikontekskan ke dalam situasi dunia nyata, sehingga hasil belajar dapat diterima dan berguna bagi siswa selama di sekolah atau setelah mereka lulus dari sekolah tersebut.
Pendekatan pembelajaran tersebut adalah pendekatan pembelajaran yang didasarkan kepada pembelajaran kontekstual. Penerapan pembelajaran kontekstual ini daharapkan dapat mendorong minat, motivasi, dan keaktifan siswa dalam proses KBM, yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa secara optimal.
Hakekat pembelajaran kontekstual ini adalah pembelajaran yang menekankan aspek-aspek REACT, yaitu aspek mengaitkan (relating), aspek mengalami (experiencing), aspek menerapkan teori pada situasi tertentu (applying), aspek kerja sama (cooperating), dan aspek perolehan pengetahuan baru (tranferring). Aspek-aspek tersebut aspek-aspek pokok pada pembelajaran Biologi sebagai proses. Sehingga dengan pendekatan CTL siswa dapat mengamati sendiri, merasakan, memegang suatu obyek, bekerja menggunakan alat dan bahan, yang pada akhirnya akan ,memudahkan siswa untuk mengingat materi pelajaran yang telah dipelajarinya.
Sehubungan dengan latar belakang yang telah penulis uraikan diatas, penulis tertarik untuk mendalami masalah ini melalui suatu penelitian yang berjudul “Peningkatkan Hasil Belajar Biologi Pokok Bahasan Ekosistem Melalui Pembelajaran Kooperatif NHT dengan Pendekatan CTL (Contextual Teaching And Learning) Pada Siswa Kelas VII Semester II SMPN 002 Loa Janan ".
B. Batasan Masalah
Agar ruang lingkup permasalahan dalam penelitian ini tidak terlalu luas, maka peneliti hanya membatasi tentang “Peningkatkan Hasil Belajar Biologi Pokok Bahasan Ekosistem Melalui Pembelajaran Kooperatif NHT dengan Pendekatan CTL (Contextual Teaching And Learning) Pada Siswa Kelas VII Semester II SMPN 002 Loa Janan".


C. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana Peningkatkan Hasil Belajar Biologi Pokok Bahasan Ekosistem Melalui Pembelajaran Kooperatif NHT dengan Pendekatan CTL (Contextual Teaching And Learning) Pada Siswa Kelas VII Semester II SMPN 002 Loa Janan".

D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui “Peningkatkan Hasil Belajar Biologi Pokok Bahasan Ekosistem Melalui Pembelajaran Kooperatif NHT dengan Pendekatan CTL (Contextual Teaching And Learning) Pada Siswa Kelas VII Semester II SMPN 002 Loa Janan".


E. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :
A. Bagi Siswa
1. Materi pembelajaran lebih menarik, karena contoh-contoh yang diberikan guru bersifat aplikatif, mudah diingat dan dijumpai secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
2. Menggalakkan cara pemecahan masalah melalui interaksi antar siswa.
B. Bagi Guru
1. Mendapatkan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan materi ekosistem.
2. Membantu pencapaian tujuan kurikulum yang seimbang dalam aspek akademik, kepribadian dan sosial.
C. Bagi Sekolah
Memberikan sumbangan bagi sekolah dalam rangka perbaikan proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan prestasi siswa.














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Belajar Biologi
Belajar biologi di SMP bertujuan agar siwa mampu menguasai konsep-konsep biologi dan saling keterkaitannya, serta mampu menggunakan metode ilmiah untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Kata menguasai disini mengisyaratkan bahwa pendidikan biologi harus menjadikan siswa tidak sekedar tahu (knowing) dan hafal (memorizing) tentang konsep konsep biologi, melainkan harus menjadikan siswa untuk mengerti dan memahami konsep konsep tersebut dan menghubungkan keterkaitan suatu konsep dengan konsep lain. Pada tingkatan sekolah menengah pertama (SMP) pembelajaran haruslah dipusatkan pada pemberdayaan siswa untuk mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi.Hal ini terkait dengan cara guru menyampaikan proses pembelajaran, baik selama proses KBM berlangsung maupun pada saat melakukan evaluasi. Dalam mengembangkan pembelajaran Biologi di kelas seharusnya siswa lebih aktif dalam pembelajaran untuk menemukan sendiri pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. Siswa dituntut aktif secara fisik dan mental dalam memahami konsep yaitu dengan menggunakan berbagai ketrampilan proses untuk dapat mengalami pembelajaran bermakna yang pada hakekatnya merupakan peningkatan tingkatan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran.
Mata pelajaran biologi di SMP merupakan perluasan dan pendalaman IPA di Sekolah Dasar. Khususnya biologi memperoleh 3 jam pelajaran pada setiap tingkatan kelasnya, sehingga diharapkan siswa cukup memperoleh pemahaman materi pelajaran yang diajarkan. Mata pelajaran biologi di SMP berfungsi untuk memberikan pengetahuan tentang lingkungan alam dan segala kekayaannya baik di darat maupun di laut. Salah satunya yaitu mengenal berbagai jenis hewan yang telah dibagi sesuai dengan klasifikasinya masing-masing.
Sebagai ilmu, biologi mengkaji berbagai persoalan yang berkaitan dengan berbagai fenomena kehidupan makhluk hidup pada berbagai tingkat organisasi kehidupan dan tingkat interaksinya dengan faktor lingkungannya pada dimensi ruang dan waktu. Biologi sebagai bagian dari sains terdiri dari produk dan proses. Produk biologi terdiri atas fakta , konsep, prinsip, teori, hukum dan postulat yang berkait dengan kehidupan makhluk hidup beserta interaksinya dengan lingkungan (Depdiknas, 2002). Dari segi proses maka Biologi memiliki ketrampilan proses yaitu : mengamati dengan indera, menggolongkan atau mengelompokkan, menerapkan konsep atau prinsip, menggunakan alat dan bahan, berkomunikasi, berhipotesis, menafsirkan data, melakukan percobaan, dan mengajukan pertanyaan. Agar mampu bekerja secara ilmiah, maka para siswa perlu mengembangkan sikap-sikap sebagai berikut :
1. Sikap ingin tahu (Curiosity)
Rasa ingin tahu ditandai dengan tingginya minat keingintahuan siswa terhadap perilaku alam dan sekitarnya. Anak sering melakukan eksplorasi pada benda- benda yang ditemuinya dan mencoba beberapa pengalaman baru. Anak sering mengamati benda-benda di sekitarnya. Sikap ingin tahu biasanya diawali dengan pengajuan sebuah pertanyaan.
2. Sikap senantiasa mendahulukan bukti (Respect for evidence)
Proses biologiI merupakan upaya pengumpulan dan penggunaan bukti untuk menguji dan mengembangkan gagasan. Suatu teori pada mulanya merupakan gagasan imaginatif, dan gagasan itu tetap sebagai gagasan imaginatif selama belum mampu menyajikan sejumlah bukti untuk memverivikasi gagasan itu.
3. Sikap luwes terhadap gagasan baru (Flexibility)
Konsep yang dibangun anak untuk memahami lingkungannya senantiasa berubah sejalan dengan penambahan pengalaman dan bukti baru. Pengalaman dan bukti baru ini seringkali bertentangan dengan konsep yang sudah dipegang sebelumnya. Pemahaman suatu konsep ilmiah sering berlangsung secara bertahap. Kondisi ini memerlukan sikap luwes untuk membangun gagasan baru yang lebih baik.
4. Sikap merenung secara kritis (Critical reflection)
Dalam kegiatan biologi, anak sengaja dibiasakan dengan sikap untuk merenung dan mengkaji kembali kegiatan yang sudah dilakukan. Dalam pembelajaran kegiatan sehari-hari sikap ini diwujudkan melalui komentar kritis terhadap diri. Karena itu anak perlu mengulangi percobaan pada bagian-bagian tertentu. Anak juga perlu menggunakan cara alternative lainnya sewaktu akan memecahkan suatu permasalahan.
5. Sikap peka terhadap makluk hidup dan lingkungannya (Sensitiviyt to living things and the environment)
Selama kegiatan biologiI anak mungkin perlu menggunakan hewan dan tumbuhan yang ada di sekitar sekolah. Siswa mungkin perlu mengambil berbagai jenis ikan dari kolam atau menangkap sejumlah serangga yang ada di padang rumput. Setelah kegiatan pengujian / penelitian siswa perlu mengembalikan makhluk hidup yang telah digunakan ke habitatnya. Cara ini dapat memupuk rasa cinta dan kepekaan siswa terhadap lingkungannya. (Karim, 2002)
Kegiatan belajar mengajar diharapkan mampu memperluas wawasan pengetahuan, meningkatkan ketrampilan, dan menumbuhkan sejumlah sikap positif yang direfleksikan siswa melalui cara berpikir dan bertindak sebagai dampak hasil belajarnya. Guru perlu menyediakan beragam kegiatan pembelajaran yang berimplikasi pada beragamnya pengalaman belajar supaya siswa mampu mengembangkan kompetensi setelah menerapkan pemahaman/pengetahuannya. Pendekatan apapun yang digunakan oleh guru akan mampu membawa siswa pada pemahaman konsep bila pendekatan yang digunakan tersebut dapat mengkaitkan antara pengetahuan yang diterima disekolah dengan pengalamam siswa. Pembelajaran yang dimaksud tersebut adalah pembelajaran kontekstual.


B. Hasil Belajar
Amirin dan Samsu Irawan (2000 43), mengatakan hasil belajar adalah kemajuan yang diperoleh seseorang dalam segala hal akibat dan belajar. Seseorang yang mempelajani suatu melalui proses pembelajaran telah mernperoleh hasil dan apa yang telah dipelajarinya, hasil maksimal yang diperoleh inilah yang dikatakan hasil belajar.
Sudjana (2001 : 82), menjelaskan hasil belajar adalah kemampuan — kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajamya. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2002 : 95), hasil belajar merupakan hasil dan suatu intruksi tindak belajar dan tindak mengajar.
Hasil belajar menentukan tercapai tidaknya tujuan pendidikan yang diaplikasikan dalam bentuk penilaian dalam rangka memberikan pertimbangan apakah tujuan pendidikan tersebut tercapai. Penilaian hasil belajar tersebut dilakukan terhadap proses belajar mengajar untuk mengetahui tercapainya tidaknya tujuan pengajaran dalam hal penguasaan bahan pelajaran oleh siswa, selain itu penilaian tersebut dilakukan untuk mengetahui keefektifan proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru. Dengan kata lain rendahnya hasil belajar yang dicapai siswa tidak hanya disebabkan oleh kurang berhasilnya guru mengajar.
Djamarah dan Zain (2002), menjelaskan belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan artinya, tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap.
Sujana (2001), mengatakan hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.
Dalam sistem pendidikan rasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikulum maupun tujuan intruksional, menggunakan kiasifikasi hasil belajar biologi dan Bloom (dalam Sujana, 2001) secara garis besar menjadi tiga ranah yaitu:
1. Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dan enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sentesis, dan evaluasi.
2. Ranah efektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dan lima aspek yakni, penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi dan internalisasi.
3. Ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak yang terdiri dan enam aspek yakni, gerakan refleksi, ketepatan, gerakan keterampilan kompleks dan gerakan ekspresif dan interpretatif.
Dimyanti dan Mujiono (2002), mengatakan hasil belajar merupakan hasil dari suatu intraksi tindak belajar dan tindak mengajar.
Dan beberapa pendapat diatas maka hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti suatu pembelajaran
C. Pengertian Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama, yakni kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Para siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi yang telah ditentukan. Tujuan pembelajaran kooperatif adalah untuk membangkitkan interaksi yang efektif diantaraanggota kelompok melalui diskusi. Dengan interaksi yang efektif dimungkinkan semua anggota kelompok dapat menguasai materi pada tingkat yang relatif sejajar, Sukidin ( dalam bambang S, 2009)
Menurut Slavin (1997), pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok, siswa dalam satu kelas dijadikan kelompok -kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 6 orang untuk memahami konsep yang difasilitasi oleh guru. Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran dengan setting kelompok-kelompok kecil dengan memperhatikan keberagaman anggota kelompok sebagai wadah siswa bekerjasama dan memecahkan suatu masalah melalui interaksi sosial dengan teman sebayanya, memberikan kestujuhan pada peserta didik untuk mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang bersamaan dan ia menjadi narasumber bagi teman yang lain.
Menurut Johnson (dalam Isjoni 2007), pembelajaran kooperatif mempunyai cir-ciri: 1) saling ketergantungan yang positif, 2) dapat dipertanggungjawabkan secara individu, 3) heterogen, 4) berbagi kepemimpinan, 5) berbagi tanggungjawab, 6) ditekankan pada tugas dan kebersamaan, 7) mempunyai ketrampilan dalam berhubungan sosial, 8)guru mengamati, dan 9) efektivitas tergantung pada kelompok. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1). Untuk menuntaskan materi belajarnya, siswa belajar dalam kelompok secara kooperatif.
2). Kelompok dibentuk dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
3) Jika dalam kelas terdapat siswa-siswa yang terdiri dari beberapa ras, suku, budaya jenis kelamin yang berbeda, maka diupayakan agar dalam tiap kelompok terdiri dari ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda pula, dan
4). Penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok dari pada perorangan.
Berdasarkan beberapa pendapat yang ada pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang memandang keberhasilan individu diorientasikan dalam keberhasilan kelompok. Dalam hal ini, maka siswa bekerjasama dalam mencapai tujuan dan siswa berusaha keras membantu dan mendorong teman-temannya untuk berhasil bersama-sama dalam belajar.
D. Pembelajaran Kooperatif tipe NHT
Umumnya, jika seorang guru ingin mengetahui tingkat pemahaman siswa pada saat pembelajaran, guru akan mengajukan pertanyaan kepada siswa. Selanjutnya, guru akan menunjuk salah seorang siswa (yang telah mengangkat tangannya ketika guru memberikan pertanyaan) untuk menjawabnya. Seandainya jawaban yang diberikan tidak tepat, barulah siswa yang lain berpeluang untuk menjawab pertanyaan tersebut. Itupun seorang saja.
Untuk menghindari terjadinya hal seperti itu, salah satu cara ialah melalui pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Number Heads Together merupakan kegiatan belajar kooperatif yang dikembangkan oleh Spencer Kagan (1993) untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.
Tipe NHT adalah suatu metode belajar dimana setiap siswa diberi nomor kemudian dibuat suatu kelompok kemudian secara acak guru memanggil nomor dari siswa Pembelajaran kooperatif tipe NHT menggunakan tujuh langkah
Tabel 2 Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT
FASE TINGKAH LAKU GURU
Fase-1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa. Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
Fase-2
Menyajikan informasi. Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Fase-3
Penomoran Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 3-5 siswa dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1 sampai 5.
Fase-4
Mengajukan pertanyaan/ permasalahan. Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa untuk dipecahkan bersama dalam kelompok. Pertanyaan dapat bervariasi
Fase-5
Berpikir bersama. Siswa menyatukan pendapatnya terhadap pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban itu.
Fase-6
Menjawab (evaluasi). Guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.
Fase-7
Memberikan penghargaan Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

E. Pembentukan dan Penghargaan Kelompok
Salah satu cara membentuk kelompok berdasarkan kemampuan akademik (http://zainurie.files.wordpress.com/2007/12/ppp pembelajaran kooperatif.pdf) seperti berikut ini.
Tabel 3 Cara membentuk kelompok berdasarkan kemampuan akademik.
Kemampuan No Nama Rangking Kelompok
Tinggi 1 1 A
2 2 B
3 3 C
4 4 D
Sedang 5 5 D
6 6 C
7 7 B
8 8 A
9 9 A
10 10 B
11 11 C
12 12 D
Rendah 13 13 D
14 14 C
15 15 B
16 16 A

Umumnya guru memberikan penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar dari nilai dasar (awal) ke nilai kuis/tes setelah siswa bekerja dalam kelompok.
Cara-cara penentuan nilai penghargaan kepada kelompok (http://zainurie.files.wordpress.com/2007/12/ppp pembelajaran kooperatif.pdf) dijelaskan sebagai berikut:
Langkah-langkah memberi penghargaan kelompok:
1. Menentukan nilai dasar (awal) masing-masing siswa. Nilai dasar (awal) dapat berupa nilai tes/kuis awal atau menggunakan nilai ulangan sebelumnya.
2. Menentukan nilai tes/kuis yang telah dilaksanakan siswa bekerja dalam kelompok; misal nilai kuis I, nilai kuis II, atau rata-rata nilai kuis I dan kuis II kepada setiap siswa yang telah kita sebut nilai kuis terkini.
3. Menentukan nilai peningkatan hasil belajar yang besarnya ditentukan berdasarkan selisih nilai kuis terkini atau nilai dasar (awal) masing-masing siswa dengan menggunakan kriteria berikut ini:

KRITERIA NILAI PENINGKATAN
Nilai kuis/tes terkini turun lebih dari 10 poin di bawah nilai awal. 5
Nilai kuis/tes terkini turun 1 sampai dengan 10 poin di bawah nilai awal. 10
Nilai kuis/tes terkini sama dengan nilai awal sampai dengan 10 di atas nilai awal. 20
Nilai kuis/tes terkini lebih dari 10 poin di atas nilai awal. 30

Penghargaan kelompok diberikan berdasarkan rata-rata nilai peningkatan yang diperoleh masing-masing kelompok dengan memberikan predikat cukup, baik, sangat baik, dan sempurna.
Kriteria untuk status kelompok

Nilai Rata-rata peningkatan kelompok Penghargaan
N<15 Cukup
15 ≤ N < 20 Baik
20 ≤ N < 25 Sangat Baik
N ≥ 25 Sempurna

F. Pengertian Pembelajaran Kontekstual /CTL ((Contextual Teaching and Learning)

Pembelajaran kontekstual/CTL (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Ada tujuh komponen utama pembelajaran kontekstual yang efektif, yaitu konstruktifisme (constructivism), bertanya (question), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modelling), dan penilaian sebenarnya (authentic assesment) (Depdiknas ,2002). Dengan konsep ini pembelajaran diharapkan dapat lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran yang berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan praktikum siswa, sehingga siswa mengalami sendiri bukan transfer pengetahuan dari guru.
Pembelajaran kontekstual berbeda dengan pembelajaran konvensional yang selama ini dikenal. Perbedaan tersebut digambarkan oleh Rustana (2002 ) seperti pada tabel dibawah ini.
Tabel 1. Perbedaan pola pembelajaran konvensional dengan pembelajaran kontekstual

Pembelajaran Konvensional Pembelajaran Kontekstual
1. Menyandarkan pada hafalan 1. Menyandarkan pada memorispasial
2. Pemilihan informasi ditentukan oleh guru 2. Pemilihan berdasarkan kebutuhan individu siswa
3. Memberikan tumpukan pada satu bidang (disiplin) 3. Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang (disiplin)
4. Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai pada saatnya diperlukan 4. Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan awal yang telah dimilki siswa.

5. Penilaian hasil belajar hanya melalui kegiatan akademik berupa ujian / ulangan.
5. Menerapkan penilaian autentik melalui penerapan praktis dalam pemecahan masalah

Sumber Rustana (2002)

Strategi pembelajaran kontektual yang dikemukakan oleh Center for Occupational Research and Develoment (CORD) (dalam Rustana, 2002 ) yang dikenal dengan REACT, yaitu :
1. Relating, belajar dikaitkan dengan konteks dunia nyata.
2. Experiencing, belajar ditekankan pada penggalian (eksplorasi), penemuan (discovery), dan penciptaan (invention)
3. Applying, belajar bilamana pengetahuan dipresentasikan di dalam konteks pemanfaatannya.
4. Coopeerating, belajar melalui konteks komunikasi interpersonal, pemakaian bersama, atau tugas kelompok.
5. Trasferring, belajar melalui pemanfaatan pengetahuan di dalam situasi atau konteks baru.
Selama ini kelas-kelas dalam pendidikan di sekolah kurang produktif karena adanya pandangan mengenai pengetahuan sebagai seperangkat fakta yang harus dihafal. Sehari-hari kelas diisi dengan ceramah dan guru sebagai sumber utama pengetahuan, sementara siswa dipaksa untuk menerima dan menghafal fakta-fakta yang diberikan oleh guru. Untuk itu, diperlukan sebuah strategi belajar yang lebih
memberdayakan siswa. Bagi CTL, program pembelajraan adalah rencana guru mengenai skenario (tahap-tahap) pembelajaran yang akan dilaksanakannya dalam satu pertemuan atau lebih. Dalam program itulah guru dapat melihat apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum proses KBM berlangsung. Dalam pembelajaran kontekstual dituntut untuk bagaimana menghidupkan kelas dengan mengembangkan pemikiran anak, sehingga proses belajar akan lebih bermakna karena anak bekerja sendiri untuk menemukan sendiri dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya.
Pendekatan kontekstual ini menekankan salah satunya kepada bagaimana belajar di sekolah yang dapat diterapkan ke dalam situasi dunia nyata, sehingga siswa dapat menggunakan pengetahuan yang dipelajarinya dalam kehidupan mereka. Pada pembelajaran kontekstual tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta yang hasilnya tidak akan bertahan lama, tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri melalui keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran.
Pengetahuan tumbuh dan berkembang melalui pengalaman dalam bentuk siswa bekerja, praktek mengerjakan sesuatu, berlatih secara fisik, mendemonstrasikan sendiri, dan lain sebagainya. Dengan begitu siswa belajar mengalami sendiri (Depdiknas , 2002)

G. Materi Pelajaran Biologi Kelas VII Semester II
Pada konsep ekosistem siswa membangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri dari pengalaman yang telah dialaminya, contohnya banyak siswa yang memiliki hewan peliharaan yang berbeda, otomatis mereka akan tahu makanan apa saja yang biasa dimakan oleh hewan peliharaannya tersebut. Dengan demikian siswa dapat mengkelompokkan hewan-hewan tersebut berdasarkan perbedaan makanannya, yaitu kedalam kelompok herbivora, karnivora, atau omnivora. Dalam hal ini siswa memahami konsep penggolongan hewan berdasarkan jenis makanannya dengan menemukan sendiri, karena siswa mengalaminya secara langsung. Contoh lain siswa dapat praktek di laboratrium misalnya untuk konsep organisme autotrof dengan mengadakan percobaan proses fotosintesis. Selama kegiatan berlangsung siswa mengamati perubahan warna daun , membandingkan, dan mencatat hasilnya kemudian disajikan dalam bentuk tabel untuk dianalisis serta mendiskusikannya dalam kelompok masing-masing.
a. Pengertian Ekosistem
Pengertian ekosistem adalah kesatuan antara komunitas dengan lingkungan abiotiknya. Berdasarkan cara terjadinya, ada ekosistem alami dan ekosistem buatan. Tingkatan organisme dalam ekosistem adalah individu, populasi, komunitas, ekosistem dan biosfer. Ttujuh hidup yang paling sesuai dengan kebutuhan hidup organisme adalah habitat. Ekosistem tersusun atas komponen biotik dan abiotik. Berdasarkan peranannya, komponen biotik dapat dibedakan menjadi produsen, konsumen, dan pengurai. Komponen abiotik meliputi cahaya, angin, air, suhu, tanah, dan kelembaban udara. Didalam ekosisten terdapat organisme autotrof dan heterotrof. Organisme autotrof adalah organisme yang mampu membentuk zat organik melalui proses fotosintesis atau kemosintesis, contohnya tumbuhan hijau, ganggang, dan lumut. Organisme heterotrof ialah organisme yang tidak mampu membentuk zat organik dari zat anorganik, sehingga tergantung pada organisme autotrof. Contohnya herbivora, karnivora, omnivora, detrivor dan pemakan bangkai (scavenger).
b. Susunan Ekosistem
Dilihat dari susunan dan fungsinya, suatu ekosistem tersusun atas komponen sebagai berikut.
a. Komponen autotrof
Autotrof adalah organisme yang mampu menyediakan/mensintesis makanan sendiri yang berupa bahan organik dari bahan anorganik dengan bantuan energi seperti matahari dan kimia. Komponen autotrof berfungsi sebagai produsen, contohnya tumbuh-tumbuhan hijau.
b. Komponen heterotrof
Heterotrof merupakan organisme yang memanfaatkan bahan-bahan organik sebagai makanannya dan bahan tersebut disediakan oleh organisme lain. Yang tergolong heterotrof adalah manusia, hewan, jamur, dan mikroba.
c. Bahan tak hidup (abiotik)
Bahan tak hidup yaitu komponen fisik dan kimia yang terdiri dari tanah, air, udara, sinar matahari. Bahan tak hidup merupakan medium atau substrat ttujuh berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan ttujuh hidup.
d. Pengurai (dekomposer)
Pengurai adalah organisme heterotrof yang menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati (bahan organik kompleks). Organisme pengurai menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepaskan bahan-bahan yang sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen. Termasuk pengurai ini adalah bakteri dan jamur.
c. Macam-macam Ekosistem
Secara garis besar ekosistem dibedakan menjadi ekosistem darat dan ekosistem perairan. Ekosistem perairan dibedakan atas ekosistem air tawar dan ekosistem air Laut.
a. Ekosistem darat
Ekosistem darat ialah ekosistem yang lingkungan fisiknya berupa daratan. Berdasarkan letak geografisnya (garis lintangnya), ekosistem darat dibedakan menjadi beberapa bioma, yaitu sebagai berikut.
1. Bioma gurun
2. Bioma Padang rumput
3. Bioma Hutan Basah
4. Bioma Hutan gugur
5. Bioma taiga
6. Bioma tundra
b. Ekosistem Air Tawar
Ciri-ciri ekosistem air tawar antara lain variasi suhu tidak menyolok, penetrasi cahaya kurang, dan terpengaruh oleh iklim dan cuaca. Macam tumbuhan yang terbanyak adalah jenis ganggang, sedangkan lainnya tumbuhan biji. Hampir semua filum hewan terdapat dalam air tawar. Organisme yang hidup di air tawar pada umumnya telah beradaptasi.
Adaptasi organisme air tawar adalah sebagai berikut:
1. Adaptasi Tumbuhan
2. Adapatasi Hewan
Ekosistem air tawar digolongkan menjadi air tenang dan air mengalir. Termasuk ekosistem air tenang adalah danau dan rawa, termasuk ekosistem air mengalir adalah sungai.
c. Ekosistem air laut
Ekosistem air laut dibedakan atas lautan, pantai, estuari, dan terumbu karang.
1. Ekosistem lautan
Habitat laut (oseanik) ditandai oleh salinitas (kadar garam) yang tinggi dengan ion CI- mencapai 55% terutama di daerah laut tropik, karena suhunya tinggi dan penguapan besar. Di daerah tropik, suhu laut sekitar 25°C. Perbedaan suhu bagian atas dan bawah tinggi. Batas antara lapisan air yang panas di bagian atas dengan air yang dingin di bagian bawah disebut daerah termoklin.
2. Ekosistem Pantai
Ekosistem pantai letaknya berbatasan dengan ekosistem darat, laut, dan daerah pasang surut. Ekosistem pantai dipengaruhi oleh siklus harian pasang surut laut. Organisme yang hidup di pantai memiliki adaptasi struktural sehingga dapat melekat erat di substrat keras. Daerah paling atas pantai hanya terendam saat pasang naik tinggi. Daerah ini dihuni oleh beberapa jenis ganggang, moluska, dan remis yang menjadi konsumsi bagi kepiting dan burung pantai. Daerah tengah pantai terendam saat pasang tinggi dan pasang rendah. Daerah ini dihuni oleh ganggang, porifera, anemon laut, remis dan kerang, siput herbivora dan karnivora, kepiting, landak laut, bintang laut, dan ikan-ikan kecil. Daerah pantai terdalam terendam saat air pasang maupun surut. Daerah ini dihuni oleh beragam invertebrata dan ikan serta rumput laut.
3. Ekosistem Easturi
Estuari (muara) merupakan ttujuh bersatunya sungai dengan laut. Estuari sering dipagari oleh lempengan lumpur intertidal yang luas atau rawa garam. Salinitas air berubah secara bertahap mulai dari daerah air tawar ke laut. Salinitas ini juga dipengaruhi oleh siklus harian dengan pasang surut aimya. Nutrien dari sungai memperkaya estuari. Komunitas tumbuhan yang hidup di estuari antara lain rumput rawa garam, ganggang, dan fitoplankton. Komunitas hewannya antara lain berbagai cacing, kerang, kepiting, dan ikan. Bahkan ada beberapa invertebrata laut dan ikan laut yang menjadikan estuari sebagai ttujuh kawin atau bermigrasi untuk menuju habitat air tawar. Estuari juga merupakan ttujuh mencari makan bagi vertebrata semi air, yaitu unggas air.

4. Ekositem Terumbu Karang
Di laut tropis, pada daerah neritik, terdapat suatu komunitas yang khusus yang terdiri dari karang batu dan organisme-organisme lainnya. Komunitas ini disebut terumbu karang. Daerah komunitas ini masih dapat ditembus cahaya matahari sehingga fotosintesis dapat berlangsung.Terumbu karang didominasi oleh karang (koral) yang merupakan kelompok Cnidaria yang mensekresikan kalsium karbonat. Rangka dari kalsium karbonat ini bermacammacam bentuknya dan menyusun substrat ttujuh hidup karang lain dan ganggang. Hewan-hewan yang hidup di karang memakan organisme mikroskopis dan sisa organik lain. Berbagai invertebrata, mikro organisme, dan ikan, hidup di antara karang dan ganggang. Herbivora seperti siput, landak laut, ikan, menjadi mangsa bagi gurita, bintang laut, dan ikan karnivora.


H. Ketuntasan Belajar Biologi
Melalui belajar tuntas ini, siswa yang sudah menguasai materi pelajaran perlu diberikan kegiatan pembelajaran pengayaan (enrichment), sedangkan kepada siswa yang belum menguasai materi pelajaran perlu diberikan kegiatan.
Pembelajaran perbaikan (remedial). sehingga sebagian besar atau seluruh siswa dapat mencapai ketuntasan belajar yang diharapkan (Muhtar dan Rusmini, 2003).
Pembelajaran remedial merupakan suatu bentuk pembelajaran yang bersifat mengobati, menyembuhkan atau membetulkan pembelajaran dan membuatnya menjadi lebih baik dalam mencapai tujuan pembelajaran yang optimal, terutama di peruntukkan bagi para siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar atau belum dapat mencapai ketuntasan belajar. Pembelajaran pengayaan adalah pembelajaran yang bersifat memperluas. memperdalam dan menunjang satuan pelajaran dan di peruntukkan btii siswa yang telah tuntas belajar. Melalui pembelajaran remedial dan pengayaan mi, perhatian guru tidak hanya tertuju pada pemberian bantuan dan bimbingan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar, tetapi juga ditujukan kepada siswa yang memiliki kemampuan belajar yang lebih tinggi dan pada yang dituntut oleh program standar, agar kelebihan yang mereka miliki tidak sia-sia (Muktar dan Rusmini, 2003).
Untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap tujuan pembelajaran dan suatu unit pelajaran tertentu tersebut dapat di ukur melalui tes hasil belajar siswa.
Dan pendapat di atas dapat disimpulkan, ketuntasan belajar Biologi adalah tingkat penguasaan siswa terhadap tujuan pembelajaran.



















BAB III
METODELOGI PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian
Penelitian Tindakan kelas (PTK) merupakan proses pengkajian melalui sistem berdaur dari berbagai kegiatan pembelajaran yang bertujuan untuk memberikan solusi berupa tindakan untuk mengatasi permasalahan pembelajaran. Adapun prosedur berdaur pelaksanaan PTK itu dapat digambarkan sebagai berikut :
























Gambar 7. Alur dalam Penelitian Tindakan Kelas
Sumber : Tim Pelatihan PGSM 1999

Tiap putaran dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai yang meliputi faktor – faktor seperti berikut :
1. Faktor siswa : yaitu dengan melihat keaktifan siswa dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung.
2. Faktor guru : yaitu bagaimana kegiatan pembelajaran yang dilakukan, penguasaan materi yang diberikan serta teknik yang digunakan dalam melaksanakan pembelajaran dikelas.
3. Faktor sumber pembelajaran : yaitu dengan memperhatikan sumber atau bahan yang akan diajarkan serta media yang digunakan apakah sesuai dengan tujuan dan tingkat kemampuan siswa dan tujuan yang akan dicapai.
Secara lebih rinci langkah–langkah prosedur penelitian tindakan adalah sebagai berikut :
1. permasalahan
Permasalahan yang dihadapi adalah masih rendahnya partisbiologisi dan hasil belajar siswa secara keseluruhan
2. Perencanaan
Kegiatan yang dilakukan dalam perencanaan ini adalah sebagai berikut :
a. Pembuatan skenario pembelajaran dan penyusunan rencana pelajaran.
b. Membuat lembar observasi umtuk melihat bagaimana kondisi belajar mengajar dikelas pada waktu pengajaran dengan metode pembelajaran kooperatif tipe .
c. Menyusun alat evaluasi untuk melihat hasil belajar siswa setelah kegiatan pembelajaran berupa tes terakhir.
3. Pelaksanaan tindakan
Kegiatan ini dilaksanakan oleh guru sesuai proses pembelajaran yang telah direncanakan (dalam rencana pelajaran). Pelaku tindakan adalah penulis selaku guru dan yang yang bertindak sebagai observer adalah teman sejawat sesama guru biologi.Pelaksanaan penelitian tindakan kelas dilaksanakan 3 siklus. Siklus I terdiri terdiri dari tiga pertemuan yaitu pertemuan pertama dan kedua membahas tentang
4. Observasi
Pada tahap observasi, peneliti sebagai guru pengajar melakukan tindakan dengan menggunakan pembelajaran tipe NHT dengan pendekatan CTL, sedangkan untuk mengobservasi tindakan yang sedang dilakukan oleh guru dan aktivitas siswa di dalam kelas dilakukan oleh teman sejawat yang merupakan guru biologi dengan lembar observasi dan tes. Adapun untuk mengobsevasi proses pembelajaran siswa menggunakan lembar observasi.
5. Analisis Data
Untuk mengetahui keberhasilan hipotesis tindakan yang telah dirumuskan maka data yang telah didapat dianalisis melalui tiga tahap (Nasution, 1998), yaitu reduksi data, paparan data, dan penyimpulan. Reduksi data adalah proses penyederhanaan yang dilakukan melalui seleksi pemfokusan data menjadi informasi yang bermakna. Paparan data adalah proses penampilan data secara lebih sederhana. Penyimpulan data adalah proses pengambilan inti sari dari sajian data yang telah terorganisir dalam bentuk pernyataan kalimat yang singkat dan padat tetapi mengandung pengertian yang luas. Dari analisis data tersebut dapat diperoleh gambaran tentang keberhasilan (ketuntasan) belajar secara individual maupun klasikal, Sehingga dapat dbiologikai sebagai dasar untuk melakukan perbaikan- perbaikan pada tindakan selanjutnya.
6. Refleksi
Pada tahap ini peneliti bersama guru mendiskusikan hasil observasi tentang aktifitas guru dan siswa selama pembelajaran berlangsung, memperhatikan kelemahan dan hambatan yang ada dan menentukan langkah–langkah perbaikan sebagai acuan untuk putaran berikutnya.
Secara keseluruhan prosedur penelitian tindakan untuk setiap putaran dapat dijabarkan sebagai berikut:
a. Putaran Pertama
1) Mempersiapkan skenario dan rencana pembelajaran 1 pada materi Gejala abiotik serta lembar observasi.
2) Mempersiapkan alat evaluasi untuk dikerjakan dikelas.
3) Melaksanakan skenario pembelajaran berdasarkan rencana pembelajaran 1 yaitu pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan pendekatan CTL pada materi Ekosistem
4) Melakukan pemantauan (observasi) proses belajar mengajar Biologi yang dilakukan oleh guru Biologi di kelas bersama peneliti. Sasaran pemantauan adalah pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan pendekatan CTL yang dilakukan oleh guru, dan aktifitas siswa sesuai waktu yang tersedia untuk melihat hasil belajar siswa.
5) Sebagai refleksi pada kegiatan ini peneliti bersama guru menentukan langkah–langkah perbaikan pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan pendekatan CTL pada materi berikutnya sebagai dasar untuk menyusun tindakan yang akan dilakukan pada putaran 2.
b. Putaran Kedua
Setelah diperoleh data hasil analisis pada putaran 1 dan gambaran keadaan kelas tentang perhatian, aktifitas dan kesalahan/kelemahan dalam pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan pendekatan CTL ini didiskusikan dan dicarikan solusi sehingga kesalahan dan kelemahan pada putaran I tidak terulang lagi.ini dijabarkan dalam rencana pembelajaran selanjutnya.
c. Putaran Ketiga
Setelah diperoleh hasil analisis pada putaran II dan gambaran tentang keadaan kelas tentang perhatian,aktifitas dan kekurangan dalam pembelajaran koperatif tipe NHT dengan pendekatan CTL akan dicarikan solusi di putaran III

B. Waktu dan Ttujuh Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2009 semester II tahun ajaran 2010/2011 di kelas VII SMPN 002 Loa Janan.

C. Subjek dan Objek Penelitian
Sebagai subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas VIIA SMPN 002 Loa Janan semester II Tahun Pelajaran 2010/2011. Jumlah siswa kelas VII adalah 30 orang siswa yang terdiri dari 12 siswa laki – laki dan 17 orang siswa perempuan.
Sedangkan objek pada penelitian ini adalah pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan pendekatan CTL

D. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan dokumentasi data yaitu:
1. Dokumentasi nilai adalah data yang dimiliki oleh guru biologi pada nilai ulangan biologi sebelumnya. Digunakan sebagai perbandingan dengan hasil tes akhir siklus.
2. Tugas dan Pekerjaan rumah (PR) untuk mengetahui hasil belajar Biologi siswa diakhir pembelajaran.
3. Tes akhir siklus untuk mengetahui peningkatan hasil belajar persiklus.
4. Observasi menggunakan tabel pedoman observasi untuk mengetahui tingkat aktivitas siswa dan aktivitas guru apda saat pembelajaran berlangsung.

E. Tehnik Analisis Data
Jenis Penelitian ini adalah tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 3 siklus dan setiap putaran dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan pada siklus I dan siklus II, yang masing-masing pertemuan dilaksanakan dalam 3 jam mata pelajaran. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan rata-rata, presentasi, dan grafik.
1. Rata-rata
Rata-rata digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa dalam satu kelas dan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar dengan membandingkan rata-rata skor hasil belajar masing-masing siklus dengan
menggunakan rumus:
(Sudjana, 1996)
Keterangan:
= Nilai rata-rata hasil belajar siswa pada setiap siklus
= Banyaknya siswa
= Jumlah skor seluruh siswa
Tugas di kelas dan pekerjaan rumah (PR) untuk mengetahui hasil belajar biologi siswa dengan menggunakan rumus:
(Depdiknas, 2005)

Keterangan:
NK = Nilai hasil belajar siswa dalam setiap siklus
UH = Skor tes akhir siklus
T = Skor tugas
2. Persentase
Persentase digunakan untuk menggambarkan peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II dengan menggunakan rumus:
Persentasi = x 100 %
Keterangan :
a. Selisih skor rata-rata prestasi siswa pada dua siklus
b. Skor rata-rata prestasi siswa pada siklus sebelummnya
3. Grafik
Grafik digunakan untuk menvisualisasikan peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran biologi dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan pendekatan CTL pada masing-masing siklus.
4. Peningkatan hasil belajar siswa
Peningkatan hasil belajar siswa baik individu maupun kelompok diukur dengan kriteria nilai peningkatan dan kriteria penghargaan. Kriteria nilai peningkatan dan kriteria penghargaan sebagai berikut:

Tabel 3.1 Kriteria Nilai Peningkatan Siswa
Kriteria Nilai Peningkatan
Lebih dari 10 poin di bawah skor dasar 0 poin
10 poin di bawah sampai 1 poin di bawah skor dasar 10 poin
Skor dasar sampai 10 poin di atas skor dasar 20 poin
Lebih dari 10 poin di atas skor dasar 30 poin
Kerjaan sempurna (tanpa memperhatikan skor) 30 poin
Sumber: Ismail (2003)
Sedangkan untuk skor kelompok ini dihitung dengan membuat rata-rata skor peningkatan anggota kelompok, yaitu dengan menjumlah semua skor peningkatan yang diperoleh anggota kelompok dibagi dengan jumlah anggota kelompok. Sesuai dengan rata-rata skor peningkatan kelompok, diperoleh kategori skor kelompok seperti tercantum pada tabel berikut ini:
Tabel 3.2 Tingkat penghargaan kelompok
Rata-rata tim Predikat
0 ≤ x < 5
5 ≤ x < 15
15 ≤ x < 25
25 ≤ x ≤ 30 -
Tim baik
Tim hebat
Tim super
(Sumber: Ratu Manan, 2002)



BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMPN 002 Loa Janan kelas VII A (tujuh) yang berjumlah 30 siswa. Penelitian ini dilaksanakan pada semester I Tahun Ajaran 2010/2011.
Pelaksanaan penelitian ini diawali dengan menyampaikan gagasan penelitian ini kepada Kepala SMPN 002 Loa Janan tentang penelitian yang akan dilaksanakan. Kemudian peneliti yang juga guru bidang studi biologi bersama teman sejawat mulai mendiskusikan langkah-langkah selanjutnya yang akan dilaksanakan pada penelitian.
Penelitian ini terdiri dari tiga siklus dimana masing-masing siklus terdiri dari dua kali pertemuan yaitu setiap pertemuan dilakukan tes ,observasi aktivitas siswa dan pemberian tugas (PR) akhir pertemuan
Untuk mengetahui peningkatan pada tiap siklus yaitu dengan membandingkan nilai akhir tes dan hasil observasi aktivitas siswa pada siklus sebelumnya dan yang di jadikan nilai dasar adalah nilai ulangan harian dari materi sub kompetensi yang lalu
Adapun data nilai dasar yang diperoleh adalah sebagai berikut:



Tabel 4.1 Nilai dasar dari nilai ulangan harian dari materi sub kompetensi yang lalu
No. Nama Siswa Nilai
Dasar

1 AKMAL 45,00 TIDAK TUNTAS
2 ALDO.R 60,00 TUNTAS
3 AMIR H. 70,00 TUNTAS
4 ANDI NUR A. 45,00 TIDAK TUNTAS
5 ARI S. 50,00 TIDAK TUNTAS
6 ARIANTO 45,00 TIDAK TUNTAS
7 ARIS M. 50,00 TIDAK TUNTAS
8 ASRUL S. 40,00 TIDAK TUNTAS
9 HARDIAN 40,00 TIDAK TUNTAS
10 IJA A. 50,00 TIDAK TUNTAS
11 IKWAL 50,00 TIDAK TUNTAS
12 JITA F. 50,00 TIDAK TUNTAS
13 JUMIYATI 65,00 TUNTAS
14 UFIA.E 70,00 TUNTAS
15 LILI.N 65,00 TUNTAS
16 NADA Y. 50,00 TIDAK TUNTAS
17 FAISAL.S 45,00 TIDAK TUNTAS
18 RAHMADANI 50,00 TIDAK TUNTAS
19 RATIH.L 40,00 TIDAK TUNTAS
20 RENI A. 40,00 TIDAK TUNTAS
21 RINA.K 60,00 TUNTAS
22 RISMAWATI 60,00 TUNTAS
23 SALASIAH 55,00 TIDAK TUNTAS
24 ST. HADIJAH 50,00 TIDAK TUNTAS
25 SOPIYA A. 70,00 TUNTAS
26 SUPIRMAN 60,00 TUNTAS
27 SUPRIADI A. 50,00 TIDAK TUNTAS
28 SYAHRUL G. 55,00 TIDAK TUNTAS
29 UCI K. 45,00 TIDAK TUNTAS
30 YUSMAN S. 50,00 TIDAK TUNTAS
JUMLAH 1575,00
RATA-RATA 52,50





Berdasarkan tabel 4.1 diketahui bahwa jumlah siswa (N) = 30, jumlah nilai dasar ( ∑Xd ) = 1797,17, sehingga rata-rata nilai dasar siswa adalah

d =

Adapun data nilai dasar siswa yang diperoleh kemudian diinterpretasikan berdasarkan petunjuk teknis Standar Ketuntasan Belajar mengajar pada SMPN 002 Loa Janan 2010/2011 dan untuk mengetahui ketuntasan belajar maka data yang terkumpul dianalisa dengan menggunakan rumus statistik sederhana yang dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.2 Distribusi Nilai Dasar Siswa
Interval Nilai N P = x 100%
Keterangan

60 – 100 9 30 % Tuntas
0 – 59.9 21 70 % Belum Tuntas
Sumber : Hasil Penelitian, Loa Janan 2010
Berdasarkan tabel 4.2 di atas jika disajikan dalam bentuk diagram lingkaran, maka persentase ketuntasan belajar siswa adalah sebagai berikut :



Gambar 4.1 Diagram Persentase ketuntasan Belajar Nilai Dasar Siswa
1. Deskripsi Data Nilai Dasar dan Siklus I
Tabel 4.3 Perbandingan Nilai Dasar dan Nilai Akhir Siklus I

No. Nama Siswa Nilai Nilai Peningkatan
Dasar Siklus (%)
I
1 AKMAL 45,00 51,33 0,06
2 ALDO.R 60,00 68,83 0,09
3 AMIR H. 70,00 74,67 0,05
4 ANDI NUR A. 45,00 58,33 0,13
5 ARI S. 50,00 56,00 0,06
6 ARIANTO 45,00 55,00 0,10
7 ARIS M. 50,00 53,50 0,04
8 ASRUL S. 40,00 45,50 0,06
9 HARDIAN 40,00 48,17 0,08
10 IJA A. 50,00 61,50 0,12
11 IKWAL 50,00 54,50 0,05
12 JITA F. 50,00 54,67 0,05
13 JUMIYATI 65,00 71,33 0,06
14 UFIA.E 70,00 78,17 0,08
15 LILI.N 65,00 70,83 0,06
16 NADA Y. 50,00 61,00 0,11
17 FAISAL.S 45,00 55,00 0,10
18 RAHMADANI 50,00 53,50 0,04
19 RATIH.L 40,00 45,50 0,06
20 RENI A. 40,00 48,17 0,08
21 RINA.K 60,00 61,50 0,02
22 RISMAWATI 60,00 60,50 0,01
23 SALASIAH 55,00 63,33 0,08
24 ST. HADIJAH 50,00 67,83 0,18
25 SOPIYA A. 70,00 70,00 0,00
26 SUPIRMAN 60,00 68,33 0,08
27 SUPRIADI A. 50,00 55,33 0,05
28 SYAHRUL G. 55,00 60,00 0,05
29 UCI K. 45,00 50,00 0,05
30 YUSMAN S. 50,00 53,33 0,03
JUMLAH 1575,00 1775,67 2,01
RATA-RATA 52,50 59,19 0,07



Berdasarkan tabel 4.3 diketahui bahwa jumlah siswa (N) = 25, jumlah nilai dasar (Pra Siklus ) ( ∑Xd ) = 1512, sehingga rata-rata nilai dasar siswa adalah

d =

Berdasarkan tabel 4.3 diketahui bahwa jumlah siswa (N) = 25, jumlah akhir siklus 1 seluruh siswa ( ∑X1 ) = 1675, sehingga rata-rata nilai siklus I adalah :

1 =

Jadi nilai rata-rata siswa mengalami peningkatan dari 60.48 pada pra siklus menjadi 67.02 pada siklus pertama
Berdasarkan observasi oleh teman sejawat, perbandingan nilai aktivitas siswa pada Pra Siklus dan Siklus I pada tabel 4.4 berikut ini;






Tabel 4.4 Perbandingan nilai aktivitas siswa pada pra siklus dan siklus I
No. Nama Siswa Nilai Nilai Peningkatan (%)
Aktivitas Aktivitas
Pra Siklus Siklus I
1 WENDA S. 43,33 56,67 30,77
2 MEDIA H. 56,67 70,00 23,53
3 KETI SUSINI 63,33 80,00 26,32
4 AGUS F 50,00 70,00 40,00
5 HASRAFUDDIN 50,00 63,33 26,67
6 DINDA T. 46,67 70,00 50,00
7 FAISAL H 36,67 60,00 63,64
8 RAKHA C. 70,00 80,00 14,29
9 DELLA CITRA 76,67 80,00 4,35
10 M. AINUR 63,33 73,33 15,79
11 EUNISKE 56,67 66,67 17,65
12 YOHANES 43,33 70,00 61,54
13 SILVITRI 43,33 56,67 30,77
14 ANDRIAN D 33,33 53,33 60,00
15 NOVIA R. 46,67 66,67 42,86
16 TRILIANI 50,00 53,33 6,67
17 RAHAYU 60,00 60,00 0,00
18 SELA SINTIA 63,33 66,67 5,26
19 ALDI 66,67 70,00 5,00
20 MUZSALIFAH 73,33 73,33 0,00
21 SISKA PUTRI 66,67 80,00 20,00
22 HEMALIA 56,67 60,00 5,88
23 JUMADIONO 50,00 53,33 6,67
24 FEBRI A. 43,33 53,33 23,08
25 DIKI 50,00 56,67 13,33
JUMLAH 1360,00 1636,67 594,04
RATA-RATA 54,40 65,47 23,76

Berdasarkan tabel 4.4 Jadi nilai rata-rata aktivitas siswa mengalami peningkatan dari 54.40 pada pra siklus menjadi 65.07 pada siklus pertama
Adapun data nilai Pra siklus siswa yang diperoleh kemudian diinterpretasikan berdasarkan petunjuk teknis Standar Ketuntasan Belajar mengajar pada SMPN 002 Loa Janan 2010/2011 dan untuk mengetahui ketuntasan belajar dalam pembelajaran tipe NHT (Number Head Together), maka data yang terkumpul dianalisa dengan menggunakan rumus statistik sederhana yang dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.5 Distribusi Nilai Pra Siklus Siswa
Interval Nilai f P = x 100%
Keterangan
60 – 100 13 52 % Tuntas
0 – 59.9 12 48 % Belum Tuntas
Sumber : Hasil Penelitian, Loa Janan 2010
Berdasarkan tabel 4.5 di atas jika disajikan dalam bentuk diagram lingkaran, maka persentase ketuntasan belajar pada Pra Siklus siswa adalah sebagai berikut :




Gambar 4.1 Diagram Persentase ketuntasan Belajar Nilai Dasar Siswa
Untuk data hasil tes siswa yang diperoleh setelah akhir proses belajar mengajar menggunakan pembelajaran kooperatif tipe NHT (siklus I ), dan dianalisis dengan menggunakan rumus persentase ketuntasan belajar, maka akan dilihat dalam bentuk tabel di bawah ini.


Tabel 4.6 Distribusi Nilai Siklus I Siswa
Interval Nilai f P = x 100%
Keterangan
60 – 100 18 72 % Tuntas
0 – 59.9 7 28 % Belum Tuntas
Sumber : Hasil Penelitian, Loa Janan 2010
Berdasarkan tabel 4.6 di atas jika disajikan dalam bentuk diagram lingkaran, maka persentase ketuntasan belajar pada nilai siklus I siswa adalah sebagai berikut:




Gambar 4.2 Diagram Persentase Ketuntasan Belajar Nilai Siklus I Siswa
Dari hasil analisis data menunjukkan bahwa rata-rata nilai siswa sedikit mengalami peningkatan dari 60.48 menjadi 67.02, sementara siswa yang telah tuntas belajar meningkat dari 13 siswa atau 52 % menjadi 18 siswa atau 72 %, dan siswa yang belum tuntas belajar mengalami penurunan dari 12 siswa menjadi 7 siswa atau dari 48 % menjadi 28 %.
Sedangkan untuk aktivitas siswa mengalami peningkatan, hal ini dapat dilihat dari tabel 4.4 dengan rata-rata peningkatan siswa 23.76 %



2. Deskripsi Data Siklus I dan Siklus II
Tabel 4.7 Perbandingan Nilai Akhir Siklus I dan Nilai Akhir Siklus II
No. Nama Siswa Nilai Nilai Peningatan (%)
Akhir Akhir
Siklus I Siklus II
1 WENDA S. 59,50 66,33 11,48
2 MEDIA H. 75,00 80,67 7,56
3 KETI SUSINI 80,00 82,50 3,13
4 AGUS F 70,00 72,00 2,86
5 HASRAFUDDIN 61,67 72,83 18,11
6 DINDA T. 67,67 74,67 10,34
7 FAISAL H 59,83 70,83 18,38
8 RAKHA C. 73,33 75,00 2,27
9 DELLA CITRA 80,33 80,33 0,00
10 M. AINUR 75,33 75,67 0,44
11 EUNISKE 66,67 68,50 2,75
12 YOHANES 69,00 70,33 1,93
13 SILVITRI 59,00 65,00 10,17
14 ANDRIAN D 55,83 62,50 11,94
15 NOVIA R. 54,33 60,67 11,66
16 TRILIANI 68,00 72,33 6,37
17 RAHAYU 68,17 74,00 8,56
18 SELA SINTIA 68,33 78,33 14,63
19 ALDI 70,17 70,67 0,71
20 MUZSALIFAH 80,00 82,00 2,50
21 SISKA PUTRI 75,33 79,33 5,31
22 HEMALIA 58,50 61,00 4,27
23 JUMADIONO 66,67 69,17 3,75
24 FEBRI A. 56,00 64,50 15,18
25 DIKI 56,83 66,67 17,30
JUMLAH 1675,50 1795,83 191,61
RATA-RATA 67,02 71,83 7,66

Berdasarkan tabel 4.7 diketahui bahwa jumlah siswa (N) = 25, jumlah nilai Siklus I ( ∑X1 ) = 1675.50, sehingga rata-rata nilai siklus I adalah
d =
Berdasarkan tabel 4.7 diketahui bahwa jumlah siswa (N) = 25, jumlah nilai akhir siklus II seluruh siswa ( ∑X2 ) = 1795.83, sehingga rata-rata nilai siklus II adalah :
2 =
Jadi nilai rata-rata siswa mengalami peningkatan dari 67.02 pada pra siklus menjadi 71.83 pada siklus kedua
Berdasarkan observasi oleh teman sejawat, perbandingan nilai aktivitas siswa pada Siklus I dan Siklus II pada tabel 4.8 berikut ini;
No. Nama Siswa Nilai Nilai Peningkatan (%)
Aktivitas Aktivitas
Siklus I Siklus II
1 WENDA S. 56,67 70,00 23,53
2 MEDIA H. 70,00 80,00 14,29
3 KETI SUSINI 80,00 86,67 8,33
4 AGUS F 70,00 73,33 4,76
5 HASRAFUDDIN 63,33 73,33 15,79
6 DINDA T. 70,00 80,00 14,29
7 FAISAL H 60,00 76,67 27,78
8 RAKHA C. 80,00 80,00 0,00
9 DELLA CITRA 80,00 80,00 0,00
10 M. AINUR 73,33 73,33 0,00
11 EUNISKE 66,67 73,33 10,00
12 YOHANES 70,00 73,33 4,76
13 SILVITRI 56,67 66,67 17,65
14 ANDRIAN D 53,33 63,33 18,75
15 NOVIA R. 66,67 66,67 0,00
16 TRILIANI 53,33 76,67 43,75
17 RAHAYU 60,00 70,00 16,67
18 SELA SINTIA 66,67 76,67 15,00
19 ALDI 70,00 73,33 4,76
20 MUZSALIFAH 73,33 80,00 9,09
21 SISKA PUTRI 80,00 80,00 0,00
22 HEMALIA 60,00 66,67 11,11
23 JUMADIONO 53,33 66,67 25,00
24 FEBRI A. 53,33 63,33 18,75
25 DIKI 56,67 70,00 23,53
JUMLAH 1636,67 1840,33 327,58
RATA-RATA 65,47 73,60 13,10


Berdasarkan tabel 4.7 Jadi nilai rata-rata aktivitas siswa mengalami peningkatan dari 65.47 pada pra siklus menjadi 73.60 pada siklus kedua
Adapun data nilai siklus II siswa yang diperoleh kemudian diinterpretasikan berdasarkan petunjuk teknis Standar Ketuntasan Belajar mengajar pada SMPN 002 Loa Janan 2010/2011 dan untuk mengetahui ketuntasan belajar dalam pembelajaran tipe NHT (Number Head Together), maka data yang terkumpul dianalisa dengan menggunakan rumus statistik sederhana yang dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.9 Distribusi Nilai Siklus II Siswa
Interval Nilai f P = x 100%
Keterangan
60 – 100 25 100 % Tuntas
0 – 59.9 0 0 % Belum Tuntas
Sumber : Hasil Penelitian, Loa Janan 2010
Berdasarkan tabel 4.9 di atas jika disajikan dalam bentuk diagram lingkaran, maka persentase ketuntasan belajar pada Pra Siklus siswa adalah sebagai berikut :




Gambar 4.3 Diagram Persentase ketuntasan Belajar Nilai Dasar Siswa
Untuk data hasil tes siswa yang diperoleh setelah akhir proses belajar mengajar menggunakan pembelajaran kooperatif tipe NHT, dan dianalisis dengan menggunakan rumus persentase untuk melihat sejauh mana peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II, dapat diketahui dengan menggunakan rumus.
Persentasi =
Persentasi = x 100 % = 7.18 %
Dari hasil analisis data menunjukkan bahwa rata-rata nilai siswa mengalami peningkatan dari 67.02 menjadi 71.83 sementara siswa yang telah tuntas belajar meningkat dari 18 siswa menjadi 25 siswa atau 72 % menjadi 100 % dan siswa yang belum tuntas belajar mengalami penurunan dari 7 siswa menjadi 0 siswa atau dari 28 % menjadi 0 %.
Sedangkan untuk aktivitas siswa mengalami peningkatan hal ini dapat dilihat dari tabel 4.8 yaitu nilai rata-rata aktivitas siswa dari 65,47 pada siklus I dan meningkat menjadi 73,60 atau meningkat sebesar 12. 41 %

B. Pembahasan
Pembelajaran kooperatif tipe NHT diawali dengan memperkenalkan tipe belajar pada siswa, kemudian dilanjutkan dengan mengelompokkan siswa ke dalam kelompok belajar kecil yang beranggotakan 3 hingga 5 orang. Pembentukan kelompok ini dengan memperhatikan penyebaran nilai ulangan harian pada kompetensi/sub kompetensi sebelumnya. Kemudian dilanjutkan dengan memberikan nomor kepada setiap siswa sehingga tiap siswa dalam kelompok memiliki nomor yang berbeda. Setelah dibentuk kelompok guru menyampaikan informasi singkat mengenai materi yang akan dipelajari. Tiap-tiap kelompok akan diberikan beberapa pertanyaan yang ada dalam lembar kerja siswa dan pertanyaan dapat bervariasi, dan yang bersifat spesifik hingga yang bersifat umum mengenai materi yang akan dipelajari.
Para siswa dalam tiap kelompok berdiskusi dan berfikir bersama untuk menjawab pertanyaan dan meyakinkan tiap anggotanya mengetahui jawaban tersebut. Dalam kegiatan ini guru memberikan bimbingan dan juga memberikan kestujuhan kepada para siswa untuk mengajukan pertanyaan jika masih ada yang belum dipahami pada lembar kerja siswa. Disini penulis menemukan masalah karena sebagian siswa masih kurang bisa` berkomunikasi dengan anggota kelompok yang lain, sehingga alokasi waktu yang diberikan menjadi tidak terpenuhi dan sepertinya siswa masih terbiasa dengan pemberian materi seluruhnya dan belum terbiasa mencari sendiri dalam melengkapi informasi yang diberikan. Namun pada pertemuan selanjutnya siswa sudah dapat berinteraksi dan berdiskusi dengan baik sehingga penulis hanya sedikit memberikan bimbingan dan mengamati aktivitas siswa, dalam pembelajaran dan alokasi waktu pun dapat tercapai dengan baik.
Setelah diskusi kelompok selesai saatnya untuk mengetahui jawaban dan pertanyaan yang ada dalam lembar kerja siswa, penulis meminta jawaban pertanyaan dari tiap-tiap siswa dengan cara menyebut satu nomor dari nomor yang ada dari siswa, dan setiap kelompok yang memiliki nomor yang sama seperti yang telah disebutkan mengangkat tangan, dan siswa tersebut menyiapkan jawaban yang telah diperoleh untuk disampaikan kepada seluruh siswa. Dan kelompok yang lain diberi kestujuhan untuk menanggapi sesuai dengan nomor siswa yang diitunjuk penulis. Setelah pemberian jawaban selesai guru memastikan kembali apakah semua siswa telah mengetahui jawaban yang sebenarnya.serta memberikan validasi dan penghargaan kepada tiap kelompok atas hasil kerjanya. Pada kegiatan terakhir penulis bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari dan penulis memberikan tugas untuk kegiatan dirumah dan dikumpulkan pada pertemuan selanjutnya. Pada saat proses belajar mengajar berlangsung, observer yaitu teman sejawat penulis yang juga sama-sama guru biologi melakukan pengamatan terhadap aktivitas siswa dan aktivitas guru. Berdasarkan hasil pengamatan, aktivitas siswa dapat dikatakan efektif karena dapat dilihat dari hasil pengamatan yang dituliskan dalam lembar observasi yang diamati pada saat proses pembelajaran di kelas.
Berikut ini aktivitas siswa dan kondisi siswa saat berlangsungnya kegiatan belajar mangajar pada pembelajaran kooperatif tipe NHT
Siklus I
1. Kondisi kelas pada saat guru menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Pada siklus pertama saat menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa, keadaan kelas kurang terkendali dan siswa masih belum mengerti tentang metode pembelajaran yang akan disampaikan. Siswa siswi terlihat serius dan semangat memperhatikan guru di depan karena sebagian besar penasaran dengan metode pembelajaran kooperatif tipe NHT yang diberikan. Guru terlihat berusaha agar siswa mau mengerti dan termotivasi dengan pembelajaran yang diberikan. Hal ini bertujuan memberikan pengaruh kepada siswa dan membantu siswa tentang bagaimana bekerjasama dengan orang lain dan saling memberikan kestujuhan untuk saling belajar.
2. Kondisi kelas saat guru menyajikan Informasi.
Pada saat guru menyampaikan informasi, siswa-siswi terlihat serius. Keadaan kelas tetap kondusif, guru menyampaikan informasi verbal secara jelas dan untuk memenuhi waktu yang tersedia maka materi yang disampaikan kepada siswa tidak secara rinci namun garis-garis besarnya saja, sehingga siswa-siswi sendirilah yang mengembangkan materi yang dipelajari tersebut dan jika memang belumpaham baru dibahas bersama-sama, selain menyampaikan materi guru juga memberikan petunjuk-petunjuk bagaimana cara mengerjakan lembar kerja siswa (LKS) atau panduan belajar siswa. Keantusiasan siswa terlihat pada saat guru mengajukan pertanyaan terhadap apa yang belum dipahami, pada fase ini terdapat kendala yang dialami baik siswa maupun guru, karena sebagian besar siswa belum memahami pelaksanaan pembelajaran tipe NHT.
3. Kondisi kelas pada saat guru mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar/diskusi.
Pada waktu guru mengorganisasikan siswa pada kelompok belajar, keadaan kelas mulai terjadi kegaduhan, hal ini disebabkan peralihan dimana 25 siswa berpindah ke ttujuh-ttujuh kecil. Di sini guru juga mendapat kendala, yaitu ada sebagian siswa kebingungan, karena siswa tersebut kurang memperhatikan penjelasan guru tentang pembagian kelompok yang telah ditetapkan. Guru sudah mempersiapkan jumlah anggota kelompok beserta nama-nama kelompoknya. Dari 25 siswa yang ada guru membagi masing-masing kelompok terdiri dari 4-5 orang sehingga jumlah kelompok sebanyak 5 kelompok. Setelah itu guru memberi nomor pada tiap siswa, sehingga tiap siswa dalam kelompok memiliki nomor yang berbeda.
4. Kondisi kelas pada saat siswa bekerja dalam kelompok diskusi dalam kelompok
Pada saat siswa bekerja dalam kelompok, siswa –siswi terlihat serius dan aktif dalam mengerjakan lembar kerja siswa pada kelompok masing-masing, walaupun ada sebagian siswa masih kurang aktif. Sehingga guru tetap membimbing dan mengawasi jalannya diskusi sambil mengisi lembar observasi siswa. Ketika guru membimbing kelompok bekerja dan belajar, guru membantu siswa yang kurang jelas dengan prosedur LKS. Tetapi dalam membimbing kelompok bekerja dan belajar, guru tidak ikut campur tangan terlalu banyak, karena dapat mengganggu siswa berkreasi dan mengurangi frekuensi siswa dalam bekerja. Dalam hal ini siswa diberi kestujuhan seluas-luasnya untuk bekerja dengan inisiatif masing-masing, guru hanya mengarahkan agar terbentuk kerjasama kelompok, serta mengingatkan siswa mengenai waktu pelaksanaan agar pembelajaran dapat berjalan optimal.
5. Kondisi kelas saat guru mengevaluasi
Sebelum evaluasi berlangsung guru harus mengkondisikan kelas terlebih dahulu. Kemudian guru menanyakan hasil kerja masing-masing kelompok dengan cara menyebut satu nomor dari sebuah kelompok, dan siswa dengan nomor tersebut mangangkat tangan dan mempresentasikan jawaban dari salah satu pertanyaan yang diberikan dan ditanggapi oleh kelompok lain, guru bertindak sebagai moderator sekaligus narasumber.
6. Kondisi kelas pada saat guru memberikan penghargaan
Guru memberikan penghargaan berdasarkan penilaian tersendiri kepada kelompok yang berhasil bekerja sama antar anggota kelompoknya dan dalam menjawab pertanyaan LKS. Pada saat penghargaan diberikan kepada siswa, siswa menjadi gaduh, hal ini dikarenakan tepuk tangan dan teriakan para siswa yang begitu antusias, sehingga memberi semangat dan memotivasi siswa untuk dapat saling bekerjasama dengan anggota kelompoknya dan siswa merasa sangat dihargai atas hasil kerjasama mereka. Setelah pembelajaran selesai, untuk mengetahui apakah masing-masing siswa telah berhasil dalam belajar kelompok dan sudah menguasai soal-soal LKS serta materi yang dipelajari, maka pada pertemuan ke III penulis mengadakan evaluasi secara individual sehingga diperoleh data hasil tes.
Siklus II
Dari hasil observasi pada siklus kedua, proses belajar mengajar sudah agak lebih baik dan terarah. Beberapa siswa terlihat mulai aktif dalam kelompoknya masing-masing. Baik itu perhatian, antusias, aktif dalam diskusi, aktif dalam mengajukan pendapat/ide serta menghargai pendapat orang lain. Walaupun ada diantara mereka yang terlihat masih malu-malu dalam menyampaikan pendapatnya.
Adapun kondisi siswa pada saat proses belajar-mengajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe NHT ini adalah sebagai berikut.
1. Kondisi kelas pada saat guru menyampaikan tujuan dan motivasi siswa
Pada siklus kedua ini saat guru menyampaikan tujuan dan motivasi siswa, keadaan kelas terkendali dan beberapa siswa terlihat antusias. Beberapa siswa-siswi terlihat serius dan semangat memperhatikan guru di depan kelas. Keberhasilan guru memotivasi siswa dapat dilihat saat guru memberikan pertanyaan, beberapa siswa-siswi terlihat aktif dalam menjawab pertanyaan yang diberikan guru.
2. Kondisi kelas saat guru menyajikan informasi
Pada saat guru memberikan informasi, para siswa mendengarkan secara serius dan kelas dapat dikendalikan dengan baik oleh guru, guru menyampaikan materi pelajaran secara singkat, jelas dan terarah. Guru memberikan kestujuhan kepada siswa untuk saling berbagi informasi dan cara dalam menyelesaikan soal-soal latihan yang diberikan kepada teman sekelompoknya. Terlihat dengan jelas keantusiasan siswa pada saat guru memberikan pertanyaan, siswa dengan cepat merespon dan saling berlomba untuk menjawab pertanyaan yang diberikan. Pada fase ini tidak terdapat kendala yang berarti karena sebagian besar siswa sudah mulai memahami pelaksanaan pembelajaran tipe NHT.
3. Kondisi kelas pada saat guru mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar/diskusi.
Pada siklus kedua ini pengorganisasian berjalan lancer dan terkendali, siswa dengan tertib bergabung ke dalam kelompok masing-masing sesuai dengan nomor yang telah ditentukan oleh guru, hal ini disebabkan siswa sudah faham dan sudah mulai terbiasa dengan model pembelajaran NHT
4. Kondisi kelas pada saat siswa bekerja dalam kelompok diskusi dalam kelompok.
Pada fase ini, siswa-siswi terlihat serius dan aktif dalam mengerjakan lembar kerja siswa pada kelompok masing-masing, siswa terlihat saling bekerjasama antar sesama kelompok dalam memecahkan soal, di sini setiap siswa diberikan kestujuhan sebesar-besarnya untuk memberikan ide dan pendapat, juga terlibat dalam diskusi. Sesekali Guru memberikan bimbingan kepada para siswa agar tidak keluar dari permasalahan atau soal yang diberikan. Diskusi kelompok berjalan dengan lebih baik dari siklus sebelumnya, hal ini disebabkan setiap siswa merasa bertanggung jawab atas keberhasilan kelompoknya masing-masing.
5. Kondisi kelas saat guru mengevaluasi
Pada saat guru akan mengevaluaasi terjadi sedikit keributan kecil karena ada dua siswa yang terlibat percecokan mulut namun suasana kelas dapat ditenangkan oleh guru, setelah suasana kelas kembali kondusif barulah guru menanyakan hasil kerja masing-masing kelompok dengan cara menyebut satu nomor dari sebuah kelompok dan siswa dengan nomor tersebut mengangkat tangan dan mempresentasikan jawaban dari salah satu pertanyaan yang diberikan dan ditanggapi oleh kelompok lain, guru bertindak sebagai moderator sekaligus narasumber.
6. Kondisi kelas pada saat guru memberikan penghargaan
Pada saat penghargaan diberikan kepada siswa, seluruh kelas menjadi lebih bersemangat dan ramai, dikarenakan tepuk tangan dan teriakan para siswa yang begitu antusias, sehingga member semangat dan motivasi siswa untuk dapat lebih saling bekerjasama dengan anggota kelompoknya masing-masing demi keberhasilan bersama
Siklus III
Dari hasil observasi pada siklus ketiga, proses belajar mengajar sudah semakin lebih baik dan terarah. Siswa mulai aktif dalam kelompoknya masing-masing. Baik itu perhatian, antusias, aktif dala diskusi, aktif dalam mengajukan pendapat/ide serta menghargai pendapat orang lain.
Adapun kondisi siswa pada saat proses belajar-mengajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe NHT ini adalah sebagai berikut.
1. Kondisi kelas pada saat guru menyampaikan tujuan dan motivasi siswa
Pada siklus ketiga ini saat guru menyampaikan tujuan dan motivasi siswa, keadaan kelas terkendali dan siswa antusias. Siswa-siswi terlihat serius dan semangat memperhatikan guru di depan kelas. Keberhasilan guru memotivasi siswa dapat dilihat saat guru memberikan pertanyaan, siswa-siswi terlihat aktif dalam menjawab pertanyaan yang diberikan guru.
2. Kondisi kelas saat guru menyajikan informasi
Pada saat guru memberikan informasi, para siswa mendengarkan secara serius dan kelas dapat dikendalikan dengan baik oleh guru, guru menyampaikan materi pelajaran secara singkat, jelas dan terarah. Guru memberikan kestujuhan kepada siswa untuk saling berbagi informasi dan cara dalam menyelesaikan soal-soal latihan yang diberikan kepada teman sekelompoknya. Terlihat dengan jelas keantusiasan siswa pada saat guru memberikan pertanyaan, siswa dengan cepat merespon dan saling berlomba untuk menjawab pertanyaan yang diberikan. Pada fase ini tidak terdapat kendala yang berarti karena sebagian besar siswa sudah memahami pelaksanaan pembelajaran tipe NHT karena pembelajaran ini mudah dipahami oleh para siswa.
3. Kondisi kelas pada saat guru mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar/diskusi.
Pada waktu guru mengorganisasikan siswa kepada kelompok belajar pada siklus ketiga ini pengorganisasian berjalan lancer dan terkendali, siswa dengan tertib masuk ke dalam kelompok masing-masing sesuai dengan nomor yang telah ditentukan oleh guru, karena siswa sudah mulai terbiasa dengan model pembelajaran NHT
4. Kondisi kelas pada saat siswa bekerja dalam kelompok diskusi dalam kelompok.
Pada saat siswa bekerja dalam kelompok, siswa-siswi terlihat serius dan aktif dalam mengerjakan lembar kerja siswa pada kelompok masing-masing, siswa terlihat saling bekerjasama antar sesame kelompok dalam memecahkan soal, siswa boleh memberikan jawaban dari berbagai literatur yang dibawa, dan di sini setiap siswa diberikan kestujuhan sebesar-besarnya untuk memberikan ide dan pendapat, juga terlibat dalam diskusi. Walaupun begitu guru tetap selalu membimbing para siswa agar tidak keluar dari permasalahan atau soal yang diberikan. Diskusi kelompok berjalan dengan lebih baik dari siklus sebelumnya, hal ini disebabkan setiap siswa merasa bertanggung jawab atas keberhasilan kelompoknya masing-masing.
5. Kondisi kelas saat guru mengevaluasi
Sebelum evaluasin berlangsung guru harus mengkondisikan kelas terlebih dahulu, di sini kondisi kelas cukup kondusif, kemudian guru menanyakan hasil kerja masing-masing kelompok dengan cara menyebut satu nomor dari sebuah kelompok dan siswa dengan nomor tersebut mengangkat tangan dan mempresentasikan jawaban dari salah satu pertanyaan yang diberikan dan ditanggapi oleh kelompok lain, guru bertindak sebagai moderator sekaligus narasumber.
6. Kondisi kelas pada saat guru memberikan penghargaan
Pada siklus ketiga ini hampir sama dengan siklus kedua, dimana pada saat penghargaan diberikan kepada siswa, seluruh kelas menjadi lebih bersemangat dan ramai, dikarenakan tepuk tangan dan teriakan para siswa yang begitu antusias, sehingga member semangat dan motivasi siswa untuk dapat lebih saling bekerjasama dengan anggota kelompoknya masing-masing demi keberhasilan bersama
Analisis data yang dilakukan penulis, menunjukkan bahwa persentase belajar tuntas yang dicapai pada nilai dasar hanya sebesar 52 % atau 13 orang siswa yang tuntas dalam belajar, dan sebanyak 48 % atau 12 orang siswa belum tuntas. Sedangkan setelah menggunakan pembelajaran NHT (Number Head Together) pada Pra siklus sebanyak 18 orang siswa atau 72 % yang tuntas, dan sebanyak 7 orang siswa atau 28 % yang belum tuntas dalam belajar. Pada siklus pertama sebanyak 18 orang siswa atau 72 % yang tuntas dalam belajarnya dan sebanyak 7 orang atau 18 % yang belum tuntas dalam belajar. Dan pada siklus kedua sebanyak 25 orang atau 100 % telah tuntas belajar.
Mengacu pada kriteria hasil persentase maka dari persentase di atas menunjukkan bahwa sebagian besar siswa dapat menerima pelajaran dengan baik sekali dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif tipe NHT pada pokok bahasan Kelipatan dan faktor, dari analisis data yang dilakukan ternyata melalui penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan nilai rata-rata siswa. Siswa dan dapat menciptakan belajar tuntas sebesar 100 %. Karena jika dilihat nilai rata-rata dasar siswa sebesar 60.48 pada Pra Siklus meningkat menjadi 71.83 pada siklus II setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT, dan aktivitas siswa meningkat dari nilai rata-rata 54.40 pada pra siklus menjadi 73.60 pada siklus kedua. Peningkatan pada setiap siklus dikarenakan siswa dapat beradaptasi dengan baik pada pembelajaran kooperatif tipe NHT yang diterapkan, oleh karena itu dalam pembelajaran matematka hendaknya dapat diterapkan pembelajaran tipe NHT. Karena selain pembelajaran lebih menarik, juga seluruh siswa belajar lebih aktif, kreatif dan mandiri.
Setiap kelompok akan belajar untuk menyampaikan materi, sehingga konsep akan dapat diingat lebih lama, sementara siswa kelompok bawah bebas bertanya dengan teman dan berdiskusi dalam kelompok tanpa ada perasaan malu, sebab, dalam kelompok biasanya siswa akan merasa terbebani jika harus bertanya kepada guru, sehingga guru hanya sedikit membantu dalam membimbing dan mengarahkan jalannya diskusi.
Gambar 4.4 Grafik peningkatan hasil belajar siswa kelas VII A SMPN 002 Loa Janan dengan pembelajaraan kooperatif tipe NHT.









BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan maka kesimpulan yang dapat diambil adalah: Terjadi peningkatan hasil belajar siswa yaitu nilai rata-rata siswa meningkat dari 60,48 (Pra Siklus) menjadi 67,02 pada siklus I, dengan presentase peningkatan 10,80%, adapun peningkatan dari sikus I ke siklus II adalah 67,02 menjadi 71,83 terdapat peningkatan dengan presentase peningkatan sebesar 7,18 %.
B. Saran
1. Guru sebaiknya lebih banyak menerapkan tipe-tipe belajar mengajar yang baru kepada siswa contohnya NHT, agar siswa memilki ketertarikan terhadap materi-materi pelajaran biologi
2. Selama proses belajar mengajar berlangsung hendaknya terjadi komunikasi yang baik dan terbuka antara siswa dan guru, sehingga semua permasalahan belajar yang berkaitan dengan daya serap dan penguasaan materi dalam pembelajaran di sekolah dapat di atasi dengan baik.


















































DAFTAR PUSTAKA


Amirin dan SamsuIrawan 2000. Penelitian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung PT. Remaja Rusda Karya.

Dimyati dan Mujiono 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.

Dujana 2001. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung PT. Remaja Rosdakarya.

Djamarah dan Zain 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.

Higgisn dan Suydam 1999. Strategi Belajar Mengajar Biologi. Jakarta : Rineka Cipta.

Higgard dan Sanjaya 2007. Belajar dan Pembelajaran . Jakarta : Rineka Cipta.

Mukhtar dan Rusmini 2003. Pengajaran Remedial Teori dan Penerapannya dalam Pembelqjaran Jakarta : Fifa Mulia Sejahtera.

Nurhadi 2004. Psikologi Pendidikan. Bandung : Remaja Rosda Karya
Purwanto . 2004. Psikologi Pendidikan . Bandung : Remaja Rosda Karya.
Soejadi 2000. Belajar dan Pembelajaran . Jakarta : Rineka Karya.

Sujana 2001. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung Remaja Rusda Karya.

Dr.I.G.A.K. Wardani, Drs. Kuswaya Wihardit M, Ed. dan Drs. Noehi Nasoetion, M.A. 2004. Penelitian Tindakan Kelas, Pusat Penerbit Universitas Terbuka.

Widodo, W. 2002. Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual (Versi Transparansi).
Jakarta : Depdiknas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar