Selasa, 26 Juli 2011

Peningkatan Hasil Belajar PKn Melalui kooperatif Jigsaw materi Kebudayan Indonesia Di Kelas IV 001 Tengggarong Seberang”

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Sekolah memiliki peranan dan tanggung jawab yang sangat penting dalam mempersiapkan warga negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Upaya yang dapat dilakukan adalah menyelenggarakan program pendidikan yang memberikan berbagai kemampuan sebagai seorang warga negara melalui berbagai mata pelajaran termasuk salah satunya Pendidikan Kewarganegaraan. Kemampuan dasar, materi pokok, dan indikator pencapaian hasil belajar yang dicantumkan dalam Standar Nasional merupakan bahan minimal yang harus dikuasai siswa. Oleh karena itu, daerah, sekolah atau guru dapat mengembangkan, menggabungkan, atau menyesuaikan bahan yang disajikan dengan situasi dan kondisi setempat Realitanya hasil belajar siswa dalam materi Pendidikan Kewarganegaraan belum menunjukkan hasil yang diinginkan.
Kondisi rendahnya hasil belajar siswa siswa dalam kebudayaan Indonesia tercermin juga dalam hasil belajar SDN 011 Tenggarong Seberang siswa pada siswa kelas IV Hal itu dapat diketahui dari rata-rata nilai harian siswa. Pada tiga kali ulangan harian yang diadakan guru dengan kompetensi dasar kebudayaan Indonesia menunjukkan rata-rata kurang dari nilai 70. Dari ulangan harian yang pernah dilakukan, + 60 % siswa mendapatkan nilai dibawah 70,00. Angka-angka tersebut dapat diartikan, bahwa pemahaman siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan tersebut relatif masih rendah. Dengan kata lain, pemahaman siswa SDN 011 Tenggarong Seberang terhadap mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang diajarkan mencapai baru tercapai sekitar 40 persen.
Secara tidak disadari, karena rutinitas tugasnya mengakibatkan guru tidak begitu menghiraukan/peduli apakah siswanya telah atau belum memperoleh pengalaman belajar yang bermakna. Sejauh mana siswa telah mengerti (understanding) dan tidak hanya sekedar tahu (knowing), tentang konsep Pendidikan Kewarganegaraan yang sudah disampaikan dalam proses pembelajaran? Rutinitas yang dilakukan para guru tersebut meliputi penggunaan metode pembelajaran yang cenderung monoton yaitu kapur dan tutur (chalk-and-talk), kurangnya pelaksanaan evaluasi selama proses kegiatan belajar dan mengajar (KBM) berlangsung, serta kecenderungan penggunaan soal-soal bentuk pilihan ganda murni pada waktu ulangan harian maupun ulangan sumatif tiap akhir semester.
Sebelum penelitian dilakukan guru memang belum mengoptimalkan metode pembelajaran Kooperatif Jigsaw. Guru baru sebatas memanfaatkan metode ceramah serta penugasan (PR) kepada siswa. Kalaupun ada penugasan, siswa hanya di beri pekerjaan rumah yang dinilai secara individual oleh guru tanpa didiskusikan di kelas. Secara operasional, guru menjelaskan materi kepada siswa kemudian memberikan contoh-contoh di papan tulis. Setelah selesai menerangkan materi, guru menyuruh siswa untuk mengerjakan soal.
Kenyataan hasil belajar siswa dalam kebudayaan Indonesia yang rendah tersebut perlu diperbaiki sebab Pendidikan Kewarganegaraan termasuk mata pelajaran inti dengan nilai minimum ketuntasan belajar 70. Disamping itu, dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah juga dinyatakan bahwa salah satu tujuan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan adalah agar siswa menaruh perhatian terhadap isu-isu dan masalah-masalah sosial, serta mampu membuat analisis yang kritis, selanjutnya mampu mengambil tindakan yang tepat.
Melalui tindakan yang akan dilakukan guru hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan akan meningkat. Nilai rata-rata ulangan harian yang diharapkan setelah penelitian adalah 70 atau mencapai nilai batas ketuntasan Pendidikan Kewarganegaraan. Guna meningkatkan hasil belajar siswa dalam kebudayaan Indonesia siswa, guru perlu melakukan tindakan kelas yakni dengan memperbaiki proses pembelajaran dengan memodifikasi pola pembelajaran yang selama ini hanya monoton pembelajaran kelas dengan ceramah menjadi pembelajaran mandiri atas dasar inisiatif siswa..
Berdasarkan uraian di atas nampak adanya kesenjangan antara kondisi nyata dengan harapan. Kesenjangan pokok dari subyek yakni pada kondisi awal hasil belajar siswa dalam kebudayaan Indonesia yang rendah sedangkan kondisi akhir yang diharapkan hasil belajar siswa dalam kebudayaan Indonesia meningkat. Kesenjangan pokok dari peneliti yakni pada kondisi awal peneliti masih menyampaikan materi menggunakan model pembelajaran konvensional sedangkan kondisi akhir peneliti menggunakan Kooperatif Jigsaw. Jadi, upaya untuk memecahkan masalah dari kesenjangan yang terjadi adalah guru perlu menerapkan Kooperatif jigsaw . Kegiatan demostrasi dilakukan secara mandiri, artinya siswa sesuai prosedur kerja diberi kebebasan untuk berkreasi sendiri dan tidak berada di bawah dikte guru.
Dari uraian di atas muncul kerangka pemikiran bahwa rendahnya nilai mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dikarenakan siswa kurang memahami konsep kebudayaan Indonesia yang selama ini hanya diajarkan guru melalui metode ceramah. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut adalah pelaksanaan kegiatan tindak lanjut berupa pengajaran dengan menerapkan Kooperatif Jigsaw. Hal itu dimaksudkan agar siswa dapat mudah memahami dan menerima materi yang disampaikan guru yang secara tidak langsung memberi penekanan agar siswa memperhatikan penjelasan guru dan pada akhirnya siswa akan lebih memahami konsep kebudayaan Indonesia yang dipelajarinya. Dengan demikian adanya pemahaman konsep tersebut maka akan dapat membantu meningkatkan pemahaman siswa dan akhirnya akan dapat mengatasi rendahnya hasil belajar siswa.
Terkait dari permasalahan diatas, penulis ingin melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar PKn Melalui kooperatif Jigsaw materi Kebudayan Indonesia Di Kelas IV 001 Tengggarong Seberang”.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana Peningkatan Hasil Belajar PKn Siswa pada Materi Kebudayaan Indonesia Dengan Menggunakan Kooperatif Jigsaw di Kelas IV SDN 011 Tenggarong Seberang ?”

C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peningkatkan hasil belajar PKn siswa pada materi kebudayaan Indonesia melalui kooperatif jigsaw di kelas IV SDN. 011 Tenggarong Seberang.


D. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Bagi siswa : Melatih siswa untuk rajin mengerjakan lembar kerja sekolah supaya hasil belajar meningkat
2. Bagi guru : Menambah pengetahuan dalam mengembangkan alat peraga meqip dan materi pembelajaran PKn
3. Bagi Sekolah : Sebagai nilai tambah dan perbaikan materi pembelajaran.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Karakteristik PKn
Menurut Malik Fajar (2004) bahwa PKn sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan, watak dan karakter warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab, PKn memiliki peranan yang amat penting. Mengingat banyak permasalahan mengenai pelaksanaan PKn sampai saat ini, maka arah baru PKn perlu segera dikembangkan dan dituangkan dalam bentuk standar nasional, standar materi serta model-model pembelajaran yang efektif dalam mencapai tujuannya. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan sebagai arah baru yaitu:
Pertama, PKn merupakan bidang kajian kewarganegaraan yang ditopang berbagai disiplin ilmu yang relevan, yaitu: ilmu politik, hukum, sosiologi, antropologi, psikologi, dan disiplin ilmu lainnya, yang digunakan sebagai landasan untuk melakukan kajian-kajian terhadap proses pengembangan konsep, nilai, dan perilaku demokrasi warganegara. Kemampuan dasar terkait dengan kemampuan intelektual, sosial (berpikir,bersikap, bertindak, serta berpartisipasi dalam hidup bermasyarakat). Substansi pendidikan (cita-cita, nilai, dan konsep demokrasi) dijadikan materi kurikulum PKn yang bersumber pada pilar- pilar demokrasi konstitusional Indonesia.
Kedua, PKn mengembangkan daya nalar (state of mind) bagi para peserta didik. Pembangunan karakter bangsa merupakan proses pengembangan warga negara yang cerdas dan berdaya nalar tinggi. PKn memusatkan perhatiannya pada pengembangan kecerdasan (civic intelligence), tanggungjawab (civic responsibility), dan partisipasi (civic participation) warga negara sebagai landasan pengembangan nilai dan perilaku demokrasi.
Ketiga, PKn sebagai suatu proses pencerdasan, maka pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah yang lebih inspiratif dan pertisipatif dengan menekankan pada pelatihan penggunaan logika dan penalaran. Untuk memfasilitasi pembelajaran PKn yang efektif dikembangkan bahan
belajar interaktif yang dikemas dalam berbagai bentuk paket seperti bahan belajar tercetak, terekam, tersiar, elektronik, dan bahan belajar yang digali dari lingkungan masyarakat sebagai pengalaman langsung. Di samping itu upaya peningkatan kualifikasi dan mutu guru PKn perlu dilakukan secara sistematis agar terjadinya kesinambungan antara pendidikan guru melalui LPTK, pelatihan dalam jabatan, serta pembinaan kemampuan profesional guru secara berkelanjutan dalam mengelola proses pembelajaran untuk mencapai hasil belajar yang diharapkan.
Keempat, kelas PKn sebagai laboratorium demokrasi. Melalui PKn, pemahaman, sikap, dan perilaku demokratis dikembangkan bukan semata-mata melalui ”mengajar demokrasi” (teaching democraty), tetapi melalui model pembelajaran yang secara langsung menerapkan cara hidup berdemokrasi (doing democray). Penilaian bukan semata-mata dimaksudkan sebagai alat kendali mutu tetapi juga sebagai alat untuk memberikan bantuan belajar bagi siswa sehingga dapat lebih berhasil di masa depan. Evaluasi dilakukan secara menyeluruh termasuk portofolio siswa dan evaluasi diri yang lebih berbasis kelas.
B. Tujuan Pembelajaran PKn

Menurut Malik Fajar (2004)Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan adalah mendidik warga Negara yang baik, yakni: (1) peka terhadap informasi baru yang dijadikan pengetahuan dalam kehidupannya; (2) warga negara yang berketerampilan sosial; (3) warga Negara yang memiliki komitmen terhadap nilai-nilai demokrasi, yang disyaratkan dalam membangun suatu tatanan masyarakat yang demokratis dan beradab, maka setiap warga negara haruslah memiliki karakter atau jiwa yang demokratis yang meliputi:
a. Rasa hormat dan tanggungjawab terhadap sesama waga negara terutama dalam konteks adanya pluralitas masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai etnis, suku, ras, keyakinan agama, dan ideologi politik. Selain itu, sebagai warga negara yang demokrat, seorang warga negara juga dituntut untuk turut bertanggung jawab menjaga keharmonisan hubungan antara etnis serta keteraturan dan ketertiban negara yang berdiri di atas pluralitas tersebut.
b. Bersikap kritis terhadap kenyataan empiris (realitas sosial, budaya, dan politik) maupun terhadap kenyataan supra empiris (agama, mitologi, kepercayaan). Sikap kritis juga harus ditunjukkan pada diri sendiri. Sikap kritis pada diri sendiri itu tentu disertai sikap kritis terhadap pendapat yang berbeda. Tentu saja sikap kritis ini harus didukung oleh sikap yang bertanggung jawab terhadap apa yng dikritik.
c. Membuka diskusi dan dialog yakni perbedaan dan pandangan serta perilaku merupakan realitas empirik yang pasti terjadi di tengah komunitas warga negara, apalagi di tengah komunitas masyarakat yang plural dan multietnik. Untuk meminimalisasi konflik yang ditimbulkan dari perbedaan tersebut, maka membuka ruang untuk berdiskusi dan berdialog merupakan salah satu solusi yang bisa digunakan. Oleh karenanya, sikap membuka diri untuk dialog dan diskusi merupakan salah satu ciri sikap warga Negara yang demokrat.
d. dBersikap terbuka yang merupakan bentuk penghargaan terhadap kebebasan sesama manusia, termasuk rasa menghargai terhadap hal-hal yang mungkin asing. Sikap terbuka yang didasarkan atas kesadaran akan pluralism dan keterbatasan diri akan melahirkan kemampuan untuk menahan diri dan tidak secepatnya menjatuhkan penilaian dan pilihan.
e. Rasional yaitu memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara bebas dan rasional adalah sesuatu hal yang harus dilakukan. Keputusankeputusan yang diambil secara rasional akan mengantarkan sikap yang logis yang ditampilkan oleh warga negara, Sementara, sikap dan keputusan yang diambil secara tidak rasional akan membawa implikasi emosional dan cenderung egois. Masalah-masalah yang terjadi di lingkungan warga negara, baik persoalan politik, sosial, budaya, dan sebagainya, sebaiknya dilakukan dengan keputusan-keputusan yang rasional.
f. Adil adalah menempatkan sesuatu secara proporsional. Tidak ada tujuan baik yang patut diwujudkan dengan cara-cara yang tidak adil. Penggunaan cara-cara yang tidak adil adalah bentuk pelanggaran hak asasi dari orang yang diperlakukan tidak adil. Dengan semangat keadilan, maka tujuan-tujuan bersama bukanlah suatu yang didiktekan tetapi ditawarkan. Mayoritas suara bukanlah diatur tetapi diperoleh.
g. Jujur yaitu memiliki sikap dan sifat yang jujur bagi warga negara merupakan suatu yang niscaya. Kejujuran merupakan kunci bagi terciptanya keselarasan diri keharmonisan hubungan antar warga negara. Sikap jujur bias diterapkan di segala sektor, baik politik, sosial dan sebagainya. Kejujuranpolitik adalah bahwa kesejahteraan warga.
B. Hasil Belajar
Amirin dan Samsu Irawan (2000 43), mengatakan hasil belajar adalah kemajuan yang diperoleh seseorang dalam segala hal akibat dan belajar. Seseorang yang mempelajani suatu melalui proses pembelajaran telah mernperoleh hasil dan apa yang telah dipelajarinya, hasil maksimal yang diperoleh inilah yang dikatakan hasil belajar.
Sudjana (2001 : 82), menjelaskan hasil belajar adalah kemampuan — kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajamya. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2002 : 95), hasil belajar merupakan hasil dan suatu intruksi tindak belajar dan tindak mengajar.
Hasil belajar menentukan tercapai tidaknya tujuan pendidikan yang diaplikasikan dalam bentuk penilaian dalam rangka memberikan pertimbangan apakah tujuan pendidikan tersebut tercapai. Penilaian hasil belajar tersebut dilakukan terhadap proses belajar mengajar untuk mengetahui tercapainya tidaknya tujuan pengajaran dalam hal penguasaan bahan pelajaran oleh siswa, selain itu penilaian tersebut dilakukan untuk mengetahui keefektifan proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru. Dengan kata lain rendahnya hasil belajar yang dicapai siswa tidak hanya disebabkan oleh kurang berhasilnya guru mengajar.
Djamarah dan Zain (2002), menjelaskan belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan artinya, tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap.
Sujana (2001), mengatakan hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.
Dalam sistem pendidikan rasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikulum maupun tujuan intruksional, menggunakan kiasifikasi hasil belajar PKn dan Bloom (dalam Sujana, 2001) secara garis besar menjadi tiga ranah yaitu:
1. Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dan enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sentesis, dan evaluasi.
2. Ranah efektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dan lima aspek yakni, penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi dan internalisasi.
3. Ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak yang terdiri dan enam aspek yakni, gerakan refleksi, ketepatan, gerakan keterampilan kompleks dan gerakan ekspresif dan interpretatif.
Dimyanti dan Mujiono (2002), mengatakan hasil belajar merupakan hasil dari suatu intraksi tindak belajar dan tindak mengajar.
Dan beberapa pendapat diatas maka hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti suatu pembelajaran

C. Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
1. Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
Ibrahim (2001:21) jigsaw telah dikembangkan dan diuji cobakan oleh Ellot Aronson dan kemudian diadaptasi oleh slavin. Dalam penerapan jigsaw, siswa dibagi berkelompok dengan lima atau enam anggota kelompok belajar heterogen. Setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari, menguasai bagian tertentu bahan yang diberikan kemudian menjelaskan pada anggota kelompoknya. Dengan demikian terdapat rasa saling membutuhkan dan harus bekerjasama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan. Para anggota dari kelompok lain yang bertugas mendapat topik yang sama berkumpul dan berdiskusi tentang topik tersebut. Kelompok ini disebut kelompok ahli. Kemudian anggota tim ahli kembali ke kelompok asal dan mengajarkan apa yang telah dipelajarinya dan didiskusikan didalam klompok ahlinya untuk diajarkan kepada teman kelompoknya sendiri. Hubungan antara kelompok asal dan kelompok ahli digambarkan sebagai berikut:








Para anggota dari kelompok asal yang berbeda, bertemu dengan topik yang sama dalam kelompok ahli untuk berdiskusi dan membahas materi yang ditugaskan pada masing-masing anggota kelompok serta membantu satu sama lain untuk mempelajari topik mereka tersebut.setelah pembahasan selesai , para anggota kelompok kemudian kembali pada kelompok semula ( asal ) dan berusaha mengajarkan pada teman sekelompoknya apa yang telah mereka dapatkan pada saat pertemuan dikelompok ahli.
Selanjutnya diakhir pembelajaran, siswa diberi kuis secara individu yang mencakup topik materi yang telah dibahas.Kunci tipe jigsaw ini adalah interdependensi yang diperlukan dengan tujuan agar dapat mengerjakan kuis dengan baik.
Nurhadi, dkk. (2004) menjelaskan bahwa melalui strategi pembelajaran jigsaw kelas dibagi menjadi beberapa tim yang anggotanya terdiri dari 5 atau 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen. Selanjutnya guru memberikan bahan akademik dan tiap siswa bertanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian dari bahan akademik tersebut. Para anggota dari berbagai tim yang berbeda memiliki tanggung jawab untuk mempelajari suatu bahan akademik yang sama dan selanjutnya berkumpul untuk saling membantu mengkaji bagian bahan tersebut. Kumpulan siswa semacam ini disebut “kelompok ahli” (Expert group). Selanjutnya para siswa yang berada dalam kelompok pakar kembali ke kelompok semula (home teams) dan para siswa dievaluasi secara individual mengenai bahan yang telah dipelajari. Jadi dalam strategi pembelajaran kooperatif jigsaw terdapat dua jenis kelompok yaitu kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok ahli yang mampu dalam bagian tertentu dalam topik yang diberikan akan bertemu dengan kelompok ahli yang telah mempelajari bagian yang berbeda di dalam kelompok asal.
2. Tahapan Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
Menurut Aronson (2007), terdapat sepuluh tahap yang mudah dilakukan dalam penerapan jigsaw, yaitu:
1) Guru membagi siswa dalam kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 5-6 orang. Siswa diacak sehingga diperoleh kelompok yang heterogen.
2) Guru menunjuk salah satu siswa dalam setiap kelompok sebagai ketua kelompok.
3) Guru membagi topik yang dipelajari menjadi subtopik-subtopik.
4) Guru menyuruh masing-masing anggota kelompok untuk bertanggung jawab mempelajari satu subtopik
5) Guru memberi waktu pada siswa untuk membaca sekilas tentang subtopik yang menjadi tanggung jawabnya minimal dua kali sehingga siswa paham tentang apa yang akan dipelajarinya.
6) Masing-masing siswa yang mempunyai subtopik sama membentuk kelompok ahli untuk mendiskusikan subtopiknya.
7) Masing-masing anggota kelompok ahli kembali ke kelompok asal.
8) Guru menyuruh masing-masing siswa untuk menyampaikan hasil diskusinya dari kelompok ahli dan anggota kelompok asal boleh bertanya.
9) Guru mengpengamatan proses dalam setiap kelompok dan guru memberikan arahan jika ada kelompok yang mengalami kesulitan.
10) Guru memberikan kuis/tes sehingga siswa sadar bahwa kegiatan yang mereka lakukan bukan hanya permainan, tetapi merupakan proses belajar.
Berdasarkan urutan diatas penulis membuat tahapan pembelajaran jigsaw sebagai berikut :
I. Tahap Pendahuluan
1. Review, apersepsi, motivasi
2. Menjelaskan pada siswa tentang model pembelajaran yang dipakai dan menjelaskan manfaatnya.
3. Pembentukan kelompok
4. Setiap kelompok terdiri dari 4-6 siswa dengan kemampuan yang heterogen.
5. Pembagian materi/soal pada setiap anggota kelompok
II. Tahap Penguasaan
1. Siswa dengan materi /soal sama bergabung dalam kelompok ahli dan berusaha menguasai materi sesuai dengan soal yang diterima 2.
2. Guru memberikan bantuan sepenuhnya
III. Tahap Penularan
1. Setiap siswa kembali ke kelompok asalnya
2. Tiap siswa dalam kelompok saling menularkan dan menerima materi dari siswa lain
3. Terjadi diskusi antar siswa dalam kelompok asal
4. Dari diskusi, siswa memperoleh jawaban soal.

IV. Penutup
1. Guru bersama siswa membahas soal
2. Kuis/Evaluasi
3. Kelebihan dan Kelemahan Pembembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
Kelebihan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw:
1. Dapat mengembangkan hubungan antar pribadi positif diantara siswa yang memiliki kemampuan belajar berbeda.
2. Menerapka bimbingan sesama teman
3. Rasa harga diri siswa yang lebih tinggi
4. Memperbaiki kehadiran
5. Penerimaan terhadap perbedaan individu lebih besar
6. Sikap apatis berkurang
7. Pemahaman materi lebih mendalam
8. Meningkatkan motivasi belajar
Kelemahan metode kooperatif jigsaw
1. Jika guru tidak meningkatkan agar siswa selalu menggunakan ketrampilan-ketrampilan kooperatif dalam kelompok masing-masing maka dikhawatirkan kelompok akan macet.
2. Jika jumlah anggota kelompok kurang akan menimbulkan masalah, misal jika ada anggota yang hanya membonceng dalam menyelesaikan tugas-tugas dan pasif dalam diskusi

F. Materi Pembelajaran PKn
1. Kebudayaan Daerah dan Kebudayaan Nasional
Kata ”kebudayaan” merupakan kata yang sering kita ucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tahukah kamu apa itu kebudayaan? Kebudayaan berasal dari kata ”budaya”. Budaya adalah pikiran dan akal budi. Sedangkan kebudayaan adalah semua hasil cipta, karya, rasa, dan karsa manusia yang dilakukan secara sadar dalam hidup bermasyarakat. Hasil kebudayaan ada yang dapat dilihat dan diraba atau berwujud, seperti pakaian, rumah, perkakas, dan sebagainya. Namun ada pula hasil kebudayaan yang tidak dapat diraba atau tidak berwujud, tetapi dapat dirasakan keberadaannya, seperti ilmu pengetahuan, bahasa, kepercayaan, nyanyian, adat-istiadat, hukum adat, dan lainnya. Dengan akal pikiran, rasa, dan karsa (kehendak) itu, maka manusia berbudaya. Tokoh pendidikan nasional Indonesia, KiHajar Dewantara, menyatakan bahwa ”Kebudayaan ialah buah budi manusia dalam hidup bermasyarakat”.
2. Penampilan Budaya Indonesia dalam misi kebudayaan Internasional
Awalnya kebudayaan itu diciptakan manusia untuk mempertahankan dan mempermudah kehidupannya. Tetapi selanjutnya kebudayaan dikembangkan untuk semua bidang kehidupan manusia, dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Corak kebudayaan yang berkembang di suatu masyarakat atau bangsa sangat erat hubungannya dengan alam lingkungan hidup masyarakat atau bangsa itu. Lingkungan alam akan mempengaruhi bentuk corak kehidupan masyarakatnya. Masyarakat yang tinggal di daerah pesisir akan mengembangkan kebudayaan maritim. Masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman akan mengembangkan kebudayaan pertanian (agraris). Keadaan lingkungan alam inilah yang menyebabkan beragamnya budaya daerah di Indonesia. Wilayah Indonesia yang luas memiliki hutan-hutan yang sangat lebat, sungai-sungai yang lebar, dan pegunungan-pegunungan yang cukup tinggi. Hal ini menyebabkan setiap daerah dapat mengembangkan kebudayaannya masing-masing. Kebudayaan itu berbeda satu sama lain, sesuai dengan lingkungan alamnya. Sebagai contoh, untuk bahasa saja Indonesia memiliki tak kurang dari 250 bahasa daerah dan logat.
Selain itu, masih banyak contoh yang dapat kita temukan dari keanekaragaman budaya di Indonesia, seperti pakaian, nyanyian, senjata, bentuk rumah, hukum adat, upacara, tari-tarian, dan banyak lagi. Setiap daerah mengembangkan kebudayaan daerahnya masing-masing. Singkatnya, lain lubuk lain ikannya, lain padang lain pula belalangnya. Indonesia memiliki beraneka ragam kebudayaan daerah yang jumlahnya sangat banyak. Masing-masing jenis budaya daerah tersebut memiliki ciri khas. Keragaman budaya menyebabkan Indonesia terkenal di mancanegara. Banyak pakar budaya atau antropolog dan arkeolog yang ingin mempelajari berbagai kebudayaan di Indonesia. Bahkan Indonesia menjadi salah satu tujuan wisata favorit wisatawan mancanegara. Mereka datang ke Indonesia untuk melihat keragaman budaya Indonesia.
Selain itu, banyak warga negara asing yang menampilkan berbagai kebudayaan daerah Indonesia di negaranya. Merekameminta kepada pemerintah Indonesia agar mengirimkan misi-misi kebudayaan Indonesia untuk ditampilkan dan diperkenalkan kepada masyarakat negara mereka. Penampilan misi-misi kebudayaan Indonesia di mancanegara semakin membuat Indonesia dikenal di mata dunia internasional.
Pengembangan kebudayaan daerah dan nasional telah terasa manfaatnya bagi bangsa Indonesia. Berbagai hasil budaya daerah berhasil digelar dalam acara yang berskala internasional. Kita dapat menyaksikan banyaknya warga asing yang menyukai pertunjukan seni-seni tradisional daerah Indonesia, seperti taritarian, wayang (wayang golek, kulit, dan wayang orang), seni musik (gamelan Jawa, Bali, dan berbagai daerah lainnya), drama, berbagai jenis upacara tradisional, dan masih banyak lagi.
Berikut ini adalah beberapa contoh misi kesenian dan budaya Indonesia yang tampil di tingkat internasional.
Tim kesenian Iriantos dari Manokwari, Irian Jaya, ke Canberra, Australia. Tim ini turut memeriahkan acara Canberra, Multicultural Festival 2004 di Garema Place dan Glebe Park, Canberra, pada tanggal 14 dan 15 Februari 2004. Mereka menampilkan lagu-lagu tradisional Irian Jaya untuk mengiringi tari Tifa, tari Mayai Marowa, dan tari Api. Tim kesenian dari Manokwari ini terdiri atas 26 orang dan dipimpin oleh Ocky Raubaba. Penampilan mereka ini dalam rangka memenuhi undangan KBRI mengikuti Multicultural
Festival yang diadakan di Canberra setiap tahunnya. Kesenian khas Irian Jaya ditampilkan di tengah-tengah masyarakat Canberra untuk menunjukkan kepada publik Australia bahwa Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika memiliki kesenian yang beragam dan masih tetap dipelihara dengan baik, seperti yang ditampilkan oleh kelompok Iriantos tersebut.
Tim kebudayaan Indonesia ke Republik Rakyat Tiongkok (RTT). Tim ini diberangkatkan pada tanggal 11 Maret 2007. Rombongan dipimpin langsung oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik. Terdapat kurang lebih 200 orang yang ikut dalam misi kebudayaan ini. Mereka terdiri atas artis, budayawan, dan seniman. Mereka tampil di dua tempat, yaitu Beijing dan Cina. Pengiriman misi kebudayaan ini bertujuan untuk memperkokoh kemitraan strategis di antara kedua negara.
Tim Kesenian Bali ke Peru. Seniman Bali I Nyoman Catra yang sedang tugas belajar di Universitas Wesleyan, dan Ida Ayu Ari Candrawati, penari Bali yang tinggal di New York, AS, meluncur ke Peru, Amerika Selatan. Di sana mereka bergabung dengan Ida Bagus Nyoman Mas, Ni Ketut Suryatini, dan Kadek Suartaya, tiga orang seniman yang khusus didatangkan dari Bali, Indonesia. Di Lima, ibu kota Peru, selama sepuluh hari, 20–28 Agustus 2002, mereka mengemban misi memperkenalkan Indonesia melalui kesenian Bali.
TIM kesenian Universitas Padjadjaran ke Jepang. Tim ini tampil pada tanggal 1 November 2006 untuk melakukan tugas kesenian. Tim yang berjumlah 35 orang ini berada di Jepang selama sepuluh hari. Setelah dari Jepang mereka langsung menuju Korea Selatan. Di kedua negara tersebut, tim ini menampilkan kesenian Nusantara berupa tari-tarian. Meski berasal dari tanah Sunda, namun mereka berhasil menampilkan pula beberapa kesenian dari daerah lain, seperti tari Toka-Toka dari Jakarta dan tari Rampai Aceh dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Tim Kesenian Bali ke Belanda. Tim ini tampil dalam Festival Tropikal di Museum Amsterdam, Belanda. Mereka terdiri atas sepuluh seniman serba bisa, baik dalam bidang tabuh maupun tari Bali. Festival ini berlangsung selama sebulan, namun tim kesenian Indonesia berada di sana hanya selama sepekan, yakni dari tanggal 9 Mei hingga pertengahan Mei 2007. Mereka menampilkan tari Baris, Leging Keraton, Teruna Jaya, dan tari Topeng Pajegan. Itulah beberapa contoh misi kesenian Indonesia yang tampil di tingkat internasional. Masih banyak misi-misi kebudayan lain yang menampilkan berbagai kebudayaan daerah di Indonesia. Karena itu sebagai bangsa Indonesia kita harus bangga dengan kebudayaan Indonesia. Bukan saja bangga, tetapi kita juga harus mengembangkannya terus ke tingkat yang lebih baik, demi jati diri dan martabat bangsa.


BAB III
METODELOGI PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian
Penelitian Tindakan kelas (PTK) merupakan proses pengkajian melalui sistem berdaur dari berbagai kegiatan pembelajaran yang bertujuan untuk memberikan solusi berupa tindakan untuk mengatasi permasalahan pembelajaran. Adapun prosedur berdaur pelaksanaan PTK itu dapat digambarkan sebagai berikut :























Gambar 7. Alur dalam Penelitian Tindakan Kelas
Secara rinci prosedur pelaksanaan rancangan penelitian tindakan kelas untuk setiap siklus dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Permasalahan
Permasalahan penelitian tindakan kelas (PTK) pada siklus I
1. Nilai dasar yang belum mencapai ketuntasan belajar
2. Proses pembelajaran belum baik
2. Perencanaan
Pada tahap perencanaan, peneliti merencanakan kegiatan yang akan dilakukan pada Penelitian Tindakan Kelas (PTK), adapun kegiatan yang akan dilakukan dalam perencanaan adalah sebagai berikut :
Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran
Membuat skenario
Membuat alat evaluasi
Membuat lembar observasi
3. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap pelaksanaan tindakan kegiatan yang dilaksanakan adalah melakukan skenario pembelajaran yang telah direncanakan, yang bertindak sebagai guru dalam penelitian ini adalah peneliti sedangkan yang bertindak sebagai observator adalah guru PKn kelas IV. pelaksanaan penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam tiga siklus. Setiap siklus dilaksanakan dalam 2 pertemuan kemudian pertemuan terakhir pada masing – masing siklus diberikan tes hasil belajar. Waktu pertemuan 2 jam pelajaran 70 menit.
4. Observasi
Pada observasi, penelitian sebagai guru pengajar melakukan tindakan yaitu pembelajaran sedangkan untuk mengobservasi tindakan yang sedang dilakukan oleh teman guru dan aktivitas siswa di dalam kelas dilakukan oleh guru PKn. Dengan menggunakan lembar observasi untuk mengobservasi hasil belajar siswa dengan menggunakan tes.
Analisis Analisis dokumen yang berupa hasil tes belajar yang diberikan kepada siswa pada setiap putaran catatan lapangan digunakan untuk menganalisis tindakan selama pembelajaran berlangsung. Sedangkan analisis dokumen digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa dari tes yang diberikan untuk setiap putaran.
5. Analisis
Analisis dokumen yang berupa hasil tes belajar yang diberikan kepada siswa pada setiap putaran. Catatan lapangan digunakan untuk menganalisis tindakan selama pembelajaran berlangsung, sedangkan analisis dokumen digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa dari tes yang diberikan untuk setiap putaran.
6. Refleksi
Pada tahap refleksi, peneliti dan guru mendiskusikan hasil tindakan yang telah dilaksanakan, kemudian bila perlu merevisi tindakan sebelumnya untuk dilaksanakan pada tahap berikutnya.


B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) akan dilaksanakan dalam semester 2 Tahun pembelajaran 2010-2011 di SDN. No. 011 Tenggarong Seberang.

C. Subjek dan Objek
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV semester II SDN. No. 011 Tenggarong Seberang yang berjumlah 32 siswa.
Objeknya adalah penggunaan Koopertif Jigsaw pada materi pembelajaran Kebudayaan Indonesia

D. Teknik Pengumpulan Data
Sesuai dengan tujuan penelitian, maka pengumpulan data di peroleh melalui :
1. Observasi dilakukan pada tahap perencanaan dan selama kegiatan pembelajaran setiap siklus.
2. Tes dilaksanakan pada setiap siklus untuk melihat kemampuan pemecahan masalah siswa pada materi yang telah di ajarkan.
3. Dokumentasi nilai yakni data nilai tes yang diberikan pada awal pembelajaran digunakan sebagai perbandingan dengan tes hasil belajar pada akhir siklus I.

E. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan secara deskreptif yaitu hanya mengumpulkan data yang diperoleh melalui observasi dan tes hasil belajar di susun, dijelaskan, dan akhimya di analisis dalam tiga tahapan yaitu:
1. Reduksi Data
Reduksi data merupakan suatu proses pemilihan, pemusatan dan perbaikan pada penyederhanaan data. Pada tahap reduksi data observasi pengamatan terhadap proses pembelajaran kebudayaan Indonesia.
2. Pengajian Data
Data yang diperoleh melalui observasi dan tes hasil belajar berbentuk table dan kalimat sederhana setiap putaran. Sedangkan analisis data kuantitatif menggunakan rata-rata, prosentase dan diagram
a. Rata – rata
Rata – rata digunakan untuk mengetahui peningkatn hasil belajar siswa dengan menggunakn rata – rata skor hasil belajar masing – masing siklus. Adapun rumus mencari rata – rata adalah sebagai berikut.
(Sudjana 2005)
Keterangan :
: Nilai rata –rata hasil belajar siswa pada setiap siklus
: Jumlah nilai seluruh siswa
n : Banyaknya siswa

Untuk mengetahui hasil belajar siswa dapat dilakukan dengan menganalisis data berupa nilai tugas dan nilai tes pada setiap siklus (tes formatif) menggunakan rumus, nilai rata – rata tugsa setiap siklus dijumlahkan dengan dua kali nilai rata – rata tes hasil belajar (nilai tes formatif)
NA =
Keterangan :
Na = Nilai Akhir Setiap Siklus (Depdiknas, 2005 : 29)
NT = Nilai Tugas
NH = Nilai Test Akhir Siklus
Modifikasi Depdiknas 2005 : 29
b. Presentase
Menentukan tingkat kemampuan siswa secara menyeluruh dengan menggunakan rumus.
M = ( Purwanto 2004 )
Keterangan :
M = Besarnya rata – rata dalam persen
x = Jumlah siswa yang termasuk kategori mampu
N = Jumlah siswa secara keseluruhan
c. Diagram
Diagram digunakan untuk menggambarkan peningkatan hasil belajar siswa dalam materi pembelajaran PKn .
3. Kesimpulan
Data yang telah di analisis kemudian dibuat suatu kesimpulan.

F. Indikator Peningkatan
Peningkatan nilai rata – rata akhir setiap siklus dari nilai rata–rata siklus sebelumnya setelah diterapkan penggunaan kooperatif Jigsaw dapat dilihat pada kriteria hasil belajar berikut ini.
Tabel. 2. Kriteria Hasil Belajar
Nilai Keterangan
85 < x  100 Baik Sekali
71 < x  84 Baik
56 < x  70 Cukup
41 < x  55 Kurang
< 40 Sangat Kurang














DAFTAR PUSTAKA


Amirin dan SamsuIrawan 2000. Penelitian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung PT. Remaja Rusda Karya.

Dimyati dan Mujiono 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.

Dujana 2001. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung PT. Remaja Rosdakarya.

Djamarah dan Zain 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.

Higgard dan Sanjaya 2007. Belajar dan Pembelajaran . Jakarta : Rineka Cipta.

Nurhadi 2004. Psikologi Pendidikan. Bandung : Remaja Rosda Karya
Purwanto . 2004. Psikologi Pendidikan . Bandung : Remaja Rosda Karya.
Priyatna Oppy 2009 Pendidikan kewarganegaraan 4. Jakarta: Pusat perbukuan, Depertemen Pendidikan Nasional

Soejadi 2000. Belajar dan Pembelajaran . Jakarta : Rineka Karya.

Sujana 2001. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung Remaja Rusda Karya.

Dr.I.G.A.K. Wardani, Drs. Kuswaya Wihardit M, Ed. dan Drs. Noehi Nasoetion, M.A. 2004. Penelitian Tindakan Kelas, Pusat Penerbit Universitas Terbuka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar