Selasa, 26 Juli 2011

Peningkatan Hasil Belajar Matematika Pokok Bahasan Luas Bangun Datar Melalui Metode Discovery pada Kelas V SDN 013 Tenggarong Seberan

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dunia pendidikan perlu di tingkatkan melalui berbagai upaya dan proses pendidikan antara lain dalam bentuk penataran guru, kualifikasi pendidikan guru, penerapan model atau metode pembelajaran, persediaan alat peraga yang cukup, penelitian tentang kesulitan dan kesalahan siswa dalam belajar.
Dalam proses pendidikan tentunya sangat terkait erat dengan kegiatan belajar mengajar yang terjadi didalamnya. Kegiatan belajar mengajar merupakan suatu proses pembelajaran antara guru dan siswa.
Pembelajaran merupakan upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa lainnya.
Dalam pencapaian dari tujuan pembelajaran yang diberikan ini, diperlukan suatu strategi pembelajaran, yaitu upaya perencanaan dan tindakan yang cermat mengenai kegiatan pembelajaran agar kompetensi yang diharapkan tercapai. Selain itu, pemilihan metode dalam mengajar, teknik mengajar, dan penggunaan alat peraga atau media pembelajaran akan berpengaruh dari keberhasilan pembelajaran itu sendiri.
Pelajaran matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang dirasa cukup sulit dan tidak menarik bagi banyak siswa di sekolah. Hal ini berdampak buruk bagi prestasi/ hasil belajar siswa. Adanya bukti dari hasil evaluasi pelajaran matematika tiap semester maupun ujian akhir masih sering di bawah standart mata pelajaran lain.
Keadaan ini sungguh sangat memprihatinkan. Salah satu cara dalam mengatasi keadaan ini adalah bagaimana agar siswa mampu berperan secara aktif dalam mengembangkan kemampuan yang dimilikinya untuk bisa memahami, mengerti, mengamati, merencanakan, melaksanakan, mengkomunikasikan hasil dan lain sebagainya. Hal itu perlu adanya strategi guru dalam proses belajar mengajarnya yaitu melalui metode atau model yang digunakan dalam proses pembelajarannya yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan.

Bangun datar merupakan salah satu materi yang diajarkan pada jenjang Sekolah Dasar. Di kelas V Semester II bangun datar difokuskan pada pembahasan luas daerah dan keliling bangun segitiga dan persegi panjang. Secara umum materi geometri ini akan diteruskan pembahasannya di tingkat SMP maupun SMA, oleh karena itu pembahasan di tingkat SD akan menjadi dasar dan pondasi bagi siswa terutama pada bab geometri. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa ini terutama dalam hal geometri, dapat dimulai dari penanaman konsep yang benar tentang geometri itu sendiri sehingga tidak terjadi salah tafsir.
Bagi kebanyakan siswa, pokok bahasan bangun datar biasanya masih berada pada tahap hafalan, sehingga jika suatu saat lupa sifat atau rumusnya maka akan mengalami kesulitan menyelesaikan soal-soal yang berhubungan dengan bangun datar. Untuk siswa yang daya ingatnya tinggi menghafal tidaklah terlalu mengalami kesulitan, tetapi bagi siswa yang daya ingatnya rendah, biasanya mengalami kesulitan menghafal. Untuk menghadapi permasalahan tersebut seorang guru harus menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif dan efektif. Discovery / penemuan secara terbimbing dari guru merupakan salah satu metode yang dapat digunakan guru dalam menyampaikan materi-materi yang berhubungan dengan geometri, dan strategi yang dapat digunakan guru untuk menjembatani ilmu matematika yang masih bersifat abstrak dengan dunia nyata yang dihadapi siswa perlu adanya alat peraga. Pada dasarnya untuk penciptaan alat peraga itu tidak selalu membutuhkan biaya yang mahal dan rumit, tapi cukup murah dengan biaya yang murah dan sederhana yaitu dengan memanfaatkan beberapa barang atau bahan yang ada di sekitar kita, misalnya kertas, benang, sedotan minuman, karton, maupun kardus. Sekolah Dasar Negeri 013 Tenggarong Seberang adalah salah satu sekolah dasar yang ada di Kabupaten Kutai Kartanegara ini selalu berusaha meningkatkan mutu dan prestasinya dalam segala hal, termasuk di dalamnya peningkatan hasil belajar siswa.
Selama ini proses pembalajaran matematika yang berlangsung di SD ini masih menggunakan metode sederhana, yaitu seorang guru hanya memberikan rumus-rumus pada siswa. Siswa tidak pernah tahu asal diperolehnya rumus tersebut, kemudian diberikan contoh soal dan diakhiri dengan test. Hal ini menyebabkan kualitas proses dalam pembelajaran itu sendiri cenderung berlangsung satu arah, siswa kurang aktif dan guru hanya menggunakan metode pembelajaran itu-itu saja tanpa ada pembaharuan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
Dilihat dari dokumen nilai hasil belajar matematika kelas V SDN 013 Tenggarong Seberang yang nilai matematikannya 65 % siswa dengan nilai masih di bawah KKM yang di tetapkan di sekolah, kami sebagai guru kelas V merasa belum berhasil dalam kegiatan belajar mengajar (KBM).
Terkait dari permasalahan diatas, penulis ingin melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar Matematika Pokok Bahasan Luas Bangun Datar Melalui Metode Discovery pada Kelas V SDN 013 Tenggarong Seberang”.
B. Batasan Masalah
Agar ruang lingkup permasalahan dalam penelitian ini tidak terlalu luas, maka peneliti hanya membatasi tentang peningkatan hasil belajar matematika pokok bahasan bangun datar melalui metode discovery
C. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana peningkatan hasil belajar matematika pokok bahasan luas bangun datar dengan menggunakan metode discovery pada kelas V SDN 013 Tenggarong Seberang ?”



D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peningkatkan hasil belajar matematika pokok bahasan luas bangun datar dengan menggunakan metode discovery pada kelas V SDN 013 Tenggarong Seberang.

E. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Bagi siswa : Memperolah cara belajar matematika yang lebih efektif, yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami materi yang diajarkan guru
2. Bagi guru : Menambah pengetahuan dalam mengembangkan metode mengajar materi pembelajaran matematika
3. Bagi Sekolah : Sebagai nilai tambah dan perbaikan materi pembelajaran.














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Belajar Matematika
Belajar dianggap sebagai proses dan pengalaman dan latihan. Higgard dan Sanjaya (2007 : 53) mengatakan bahwa belajar adalah proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur, baik latihan di dalam laboratorium maupun di lingkungan alamiah. Belajar bukanlah sekedar mengumpulkan pengetahuan. Sehingga menyebabkan munculnya perubahan perilaku.
Terlepas dan pengertian tentang belajar, Soejadi (2000 : 42) memberikan beberapa pengertian tentang matematika, sebagai berikut :
a. Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak yang terorganisasi secara sistematik
b. Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi
c. Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan berhubungan dengan bilangan.
d. Matematika adalah pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk.
e. Matematika adalah pengetahuan tentang struktur-struktur yang logik.
Belajar maternatika adalah belajar yang berkenaan dengan ide-ide / konsep-konsep dasar abstrak yang diatur menurut aturan yang logis dengan penataran deduktif. Melalui proses belajar matematika, subyek pelajar diharapkan memperoleh pengertian dan mampu mengaplikasikan konsep yang dimiliki dalam situasi yang nyata. Agar terjadi perubahan kemampuan tersebut. perlu faktor pendukung yang dapat mempengaruhi proses belajar yakni faktor yang terdapat dalam din siswa yang disebut faktor internal seperti motivasi, bakat, keinginan kemampuan, dan faktor eksternal seperti guru, sarana dan kondisi lingkungan. Belajar matematika berarti ilmu pasti. Belajar ilmu pasti berarti belajar bernalar. Jadi belajar matematika berarti berhubungan dengan peranan Nurhadi (2004: 82).
Gagne mengatakan bahwa belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi sedemikian rupa sehingga perbuatannya berubah dan waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah mengalami situasi tadi (Purwanto, 2004). Belajar dapat dikatakan jika perubahan itu relatif mantap, harus merupakan akhir dan suatu periode waktu yang cukup lama.
Belajar matematika lebih di katakan pada kemampuan berpikir logik yaitu pengertian konsep-konsep dan struktur matematika. Pelajaran matematika harus dibawa ke belajar bermakna. Dimana siswa dapat rnengetahui makna yang terkandung dalam pelajaran matematika itu sendiri tanpa hams menghafalkan karena matematika bukan suatu pelajaran yang harus dihafal. Untuk mengetahui matematika tidak cukup hanya dengan menghafal saja, tetapi harus dengan pengertian guru mempunyai peranan yang penting bagaimana membawa matematika itu sehingga menarik bagi siswa dapat diterima dan di pahami sehingga menghilangkan, anggapan bahwa matematika suatu pelajaran yang sulit dan sangat ditakuti.
Dari beberapa pendapat di atas dapat di artikan bahwa belajar matematika adalah belajar ilmu abstrak yang memerlukan cara yang terpola tertuju pada din siswa, dalam mempelajari matematika tidak cukup bila hanya dibaca dihafal rumusnya secara berulang-ulang, melainkan juga harus melibatkan berbagai kegiatan yang dapat meningkatkan kemampuan daya pikir.
Belajar matematika yaitu suatu usaha perubahan tingkah laku yang diperoleh dan pengalaman yang terorganisasi secara sistematis dan menggunakan penalaran yang logik.

B. Hasil Belajar
Amirin dan Samsu Irawan (2000 43), mengatakan hasil belajar adalah kemajuan yang diperoleh seseorang dalam segala hal akibat dan belajar. Seseorang yang mempelajani suatu melalui proses pembelajaran telah mernperoleh hasil dan apa yang telah dipelajarinya, hasil maksimal yang diperoleh inilah yang dikatakan hasil belajar.
Sudjana (2001 : 82), menjelaskan hasil belajar adalah kemampuan — kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajamya. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2002 : 95), hasil belajar merupakan hasil dan suatu intruksi tindak belajar dan tindak mengajar.
Hasil belajar menentukan tercapai tidaknya tujuan pendidikan yang diaplikasikan dalam bentuk penilaian dalam rangka memberikan pertimbangan apakah tujuan pendidikan tersebut tercapai. Penilaian hasil belajar tersebut dilakukan terhadap proses belajar mengajar untuk mengetahui tercapainya tidaknya tujuan pengajaran dalam hal penguasaan bahan pelajaran oleh siswa, selain itu penilaian tersebut dilakukan untuk mengetahui keefektifan proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru. Dengan kata lain rendahnya hasil belajar yang dicapai siswa tidak hanya disebabkan oleh kurang berhasilnya guru mengajar.
Djamarah dan Zain (2002), menjelaskan belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan artinya, tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap.
Sujana (2001), mengatakan hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.
Dalam sistem pendidikan rasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikulum maupun tujuan intruksional, menggunakan kiasifikasi hasil belajar matematika dan Bloom (dalam Sujana, 2001) secara garis besar menjadi tiga ranah yaitu:
1. Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dan enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sentesis, dan evaluasi.
2. Ranah efektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dan lima aspek yakni, penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi dan internalisasi.
3. Ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak yang terdiri dan enam aspek yakni, gerakan refleksi, ketepatan, gerakan keterampilan kompleks dan gerakan ekspresif dan interpretatif.
Dimyanti dan Mujiono (2002), mengatakan hasil belajar merupakan hasil dari suatu intraksi tindak belajar dan tindak mengajar.
Dan beberapa pendapat diatas maka hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti suatu pembelajaran matematika.

C. Ketuntasan Belajar Matematika
Melalui belajar tuntas ini, siswa yang sudah menguasai materi pelajaran perlu diberikan kegiatan pembelajaran pengayaan (enrichment), sedangkan kepada siswa yang belum menguasai materi pelajaran perlu diberikan kegiatan.
Pembelajaran perbaikan (remedial). sehingga sebagian besar atau seluruh siswa dapat mencapai ketuntasan belajar yang diharapkan (Muhtar dan Rusmini, 2003).
Pembelajaran remedial merupakan suatu bentuk pembelajaran yang bersifat mengobati, menyembuhkan atau membetulkan pembelajaran dan membuatnya menjadi lebih baik dalam mencapai tujuan pembelajaran yang optimal, terutama di peruntukkan bagi para siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar atau belum dapat mencapai ketuntasan belajar. Pembelajaran pengayaan adalah pembelajaran yang bersifat memperluas. memperdalam dan menunjang satuan pelajaran dan di peruntukkan btii siswa yang telah tuntas belajar. Melalui pembelajaran remedial dan pengayaan mi, perhatian guru tidak hanya tertuju pada pemberian bantuan dan bimbingan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar, tetapi juga ditujukan kepada siswa yang memiliki kemampuan belajar yang lebih tinggi dan pada yang dituntut oleh program standar, agar kelebihan yang mereka miliki tidak sia-sia (Muktar dan Rusmini, 2003).
Untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap tujuan pembelajaran dan suatu unit pelajaran tertentu tersebut dapat di ukur melalui tes hasil belajar siswa.
Dan pendapat di atas dapat disimpulkan, ketuntasan belajar matematika adalah tingkat penguasaan siswa terhadap tujuan pembelajaran.

D. Bangun Datar
Bangun datar adalah bagian dari bidang datar yang dibatasi oleh garis-garis lurus atau lengkung (Imam Roji, 1997)
Bangun datar dapat didefinisikan sebagai bangun yang rata yang mempunyai dua dimensi yaitu panjang dan lebar, tetapi tidak mempunyai tinggi atau tebal (Julius Hambali, Siskandar, dan Mohamad Rohmad, 1996)
Berdasarkan pengertian tersebut dapat ditegaskan bahwa bangun datar merupakan bangun dua dimensi yang hanya memiliki panjang dan lebar, yang dibatasi oleh garis lurus atau lengkung.
Jenis bangun datar bermacam-macam, antara lain, segitiga, persegi, persegi panjang,jajar genjang, segi lima, layang-layang, belah ketupat, trapesium dan lingkaran.
1. Segitiga

Segitiga adalah suatu bentuk yang dibuat dari tiga sisi yang berupa garis lurus dan tiga sudut (http://id.wikipedia.org/wiki/segitiga), alat peraga yang digunakan terbuat dari benang dan sedotan minuman dan papan berpaku. Unsur unsur yang terdapat dalam segitiga antara lain : sisi, sudut, alas, tinggi
a) Sisi dan Sudut Segitiga

C



A B
Pada Segitiga ABC di atas, garis AB, BC, dan AC disebut sisi segitiga. sudutnya ada 3 pula, yaitu < BAC, b) Alas dan Tinggi Segitiga

Pada dasarnya dalam suatu segitiga semua sisinya bisa menjadi alas, tergantung dari mana orang memandang. Tinggi segitiga adalah garis yang tegak lurus dengan alas yang menghubungkan alas dan salah satu titik di luar alas.
c) Jenis-Jenis Segitiga ditinjau dari sisinya:
1) Segitiga sama kaki (segitiga dengan dua sisi sama panjang)
2) Segitiga sama sisi (segitiga dengan ketiga sisi sama panjang)
3) Segitiga sebarang (segitiga dengan tiga sisi tidak ada yang sama panjang)
d). Jenis-Jenis Segitiga Ditinjau dari sudutnya:
1) Segitiga lancip (ketiga sudutnya lancip/kurang dari 90º)
2) Segitiga siku-siku (salah satu sudutnya 90º / siku-siku)
3) Segitiga tumpul (salah satu sudutnya tumpul / lebih dari 90º)
e). Keliling dan Luas Daerah Segitiga.
1) Keliling segitiga.
C

A B
Keliling segitiga ABC = AB + AC + BC.
Rumus keliling segitiga = K = a + b + c.
2) Luas Daerah Segitiga
Luas daerah segitiga ini akan dibuktikan dengan menggunakan bantuan alat peraga yang telah disediakan guru (terbuat dari karton/kardus dan atau papan berpaku)
L = ½ alas x tinggi
(Kusni, 2003)

2. Persegi Panjang
1). Definisi Persegi Panjang dan unsur-unsurnya
Persegi panjang adalah suatu bidang datar yang mempunyai dua pasang sisi sejajar, dan sudutnya siku-siku (90).
Unsur-unsur yang terdapat dalam persegi panjang, antara lain sebagai
berikut.
a). Sisi sepasang – sepasang sejajar (ada 4 buah sisi)
b). Empat buah sudut yang masing-masing besarnya 90o.
2). Keliling dan Luas Daerah Persegi panjang




AB = CD dan BC = DA
a). Keliling
Persegi panjang ABCD kelilingnya = AB + BC + CD + DA
= 2AB + 2BC
= 2 (AB+BC)
Keliling persegi = p + l + p + l
= 2p + 2 l
= 2 (p + l)
b). Luas daerah
Luas daerah persegi panjang ABCD = AB x BC
Luas daerah persegi panjang = p x l
(Untuk mencari keliling dan luas daerah persegi panjang ini digunakan alat peraga yang terbuat dari karton/kerdus dan atau papan perpaku)



E. Metode Discovery (Penemuan Terbimbing)
1. Pengertian Discovery (Penemuan Terbimbing)
Metode penemuan yang dipandu oleh guru ini pertama dikenalkan oleh Plato dalam suatu dialog antara Socrates dan seorang anak, maka sering disebut juga dengan metoda Socratic (Cooney,
Davis:1975, 136). Metode ini melibatkan suatu dialog/interaksi antara siswa dan guru di mana siswa mencari kesimpulan yang diinginkan melalui suatu urutan pertanyaan yang diatur oleh guru. Salah satu buku yang pertama menggunakan teknik penemuan terbimbing adalah tentang aritmetika oleh Warren Colburn yang pelajaran pertamanya berjudul: Intellectual Arithmetic upon the Inductive Method of Instruction, diterbitkan pada tahun 1821, yang isinya menekankan penggunaan suatu urutan pertanyaan dalam mengembangkan konsep dan prinsip matematika. Ini menirukan metode Socratic di mana Socrates dengan pertolongan pertanyaan yang ia tanyakan dimungkinkan siswa untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Interaksi dalam metode ini menekankan pada adanya interaksi dalam kegiatan belajar mengajar.
Interaksi tersebut dapat juga terjadi antara siswa dengan siswa (S – S), siswa dengan bahan ajar (S – B), siswa dengan guru (S – G), siswa dengan bahan ajar dan siswa (S – B – S) dan siswa dengan bahan ajar dan guru (S – B – G).
Interaksi yang mungkin terjadi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :











Interaksi dapat pula dilakukan antara siswa baik dalam kelompok-kelompok kecil maupun kelompok besar (kelas). Dalam melakukan aktivitas atau penemuan dalam kelompok- kelompok kecil, siswa berinteraksi satu dengan yang lain. Interaksi ini dapat berupa saling sharing atau siswa yang lemah bertanya dan dijelaskan oleh siswa yang lebih pandai. Kondisi semacam ini selain akan berpengaruh pada penguasaan siswa terhadap materi matematika, juga akan dapat meningkatkan social skills siswa, sehingga interaksi merupakan aspek penting dalam pembelajaran matematika.
Menurut Burscheid dan Struve (Voigt, 1996:23), belajar konsep-konsep teoritis di sekolah, tidak cukup hanya dengan memfokuskan pada individu siswa yang akan menemukan konsep-konsep, tetapi perlu adanya social impuls di sekolah sehingga siswa dapat mengkonstruksikan konsep-konsep teoritis seperti yang diinginkan.
Interaksi dapat terjadi antar guru dengan siswa tertentu, dengan beberapa siswa, atau serentak dengan semua siswa dalam kelas. Tujuannya untuk saling mempengaruhi berpikir masing-masing, guru memancing berpikir siswa yaitu dengan pertanyaan-pertanyaan terfokus sehingga dapat memungkinkan siswa untuk memahami dan mengkontruksikan konsep-konsep tertentu, membangun aturan-aturan dan belajar menemukan sesuatu untuk memecahkan masalah.
Metode penemuan terbimbing sering disebut metode discovery, dalam metode penemuan terbimbing, para siswa diberi bimbingan singkat untuk menemukan jawabannya. Harus diusahakan agar jawaban atau hasil akhir itu tetap ditemukan sendiri oleh siswa (Suyitno, 2004:5).
Jika siswa belajar menemukan sesuatu dikatakan ia belajar melalui penemuan. Bila guru mengajar siswa tidak dengan memberitahu tetapi memberikan kesempatan atau berdialog dengan siswa agar ia menemukan sendiri, cara guru mengajar demikian disebut metode penemuan (Ruseffendi,1980)
Metode penemuan merupakan komponen dari suatu bagian praktik pendidikan yang seringkali diterjemahkan sebagai mengajar heuristik, yakni suatu jenis mengajar yang meliputi metode-metode yang dirancang untuk meningkatkan rentangan keaktifan siswa yang lebih besar, berorientasi kepada proses, mengarahkan pada diri sendiri, mencari sendiri, dan refleksi yang sering muncul sebagai kegiatan belajar. Metode penemuan adalah poses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip.
Proses mental yang dimaksud adalah mengamati, mencerna, menggolong- golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur dan membuat kesimpulan.
Metode penemuan sebagai metode belajar mengajar digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dengan tujuan sebagai berikut:
a. Meningkatkan keterlibatan siswa secara aktif dalam memperoleh dan memproses perolehan belajar.
b. Mengarahkan para siswa sebagai pelajar seumur hidup.
c. Mengurangi ketergantungan kepada guru sebagai satu-satunya sumber informasi yang diperlukan oleh para siswa.
d. Melatih para siswa mengeksplorasi atau memanfaatkan lingkungan sebagai sumber informasi yang tidak pernah tuntas digali.
Kata penemuan sebagai metode mengajar merupakan penemuan yang dilakukan oleh siswa. Siswa menemukan sendiri sesuatu yang baru, ini tidak berarti yang ditemukannya benar-benar baru, sebab sudah diketahui oleh orang lain (Suyitno, 2004:5).
Metode Discovery memungkinkan para siswa menemukan sendiri informasi-informasi yang diperlukan untuk mencapai tujuan instruksional. Ini berarti berpengaruh terhadap peranan guru sebagai penyampai informasi kearah peran guru sebagai pengelola interaksi belajar mengajar kelas. Ditandai pula bahwa metode penemuan tidak terlepas dari adanya keterlibatan siswa dalam interaksi belajar mengajar.
Di dalam model penemuan ini, guru dapat menggunakan strategi penemuan yaitu secara induktif, deduktif atau keduanya. Sebuah argumen induktif meliputi dua komponen, yang pertama terdiri dari pernyataan/fakta yang mengakui untuk mendukung kesimpulan dan yang kedua bagian dari argumentasi itu (Cooney dan Davis, 1975). Kesimpulan dari suatu argumentasi induktif tidak perlu mengikuti fakta yang mendukungnya. Fakta mungkin membuat lebih dipercaya, tergantung sifatnya, tetapi itu tidak bisa membuktikan dalil untuk mendukung. Sedangan deduktif, yaitu kebenaran suatu pernyataan diperoleh sebagai akibat logis kebenaran sebelumnya, sehingga kaitan antar pernyataan dalam matematika bersifat konsisten. Berarti dengan strategi penemuan deduktif , kepada siswa dijelaskan konsep dan prinsip materi tertentu untuk mendukung perolehan pengetahuan matematika yang tidak dikenalnya dan guru cenderung untuk menanyakan suatu urutan pertanyaan untuk mengarahkan pemikiran siswa ke arah penarikan kesimpulan yang menjadi tujuan dari pembelajaran.
2. Langkah–langkah dalam Penemuan Terbimbing

Markaban.2006,mengatakan agar pelaksanaan model penemuan terbimbing ini berjalan dengan efektif, beberapa langkah yang perlu ditempuh oleh guru matematika adalah sebagai berikut.
a. Merumuskan masalah yang akan diberikan kepada siswa dengan data secukupnya, perumusannya harus jelas, hindari pernyataan yang menimbulkan salah tafsir sehingga arah yang ditempuh siswa tidak salah.
b. Dari data yang diberikan guru, siswa menyusun, memproses, mengorganisir, dan menganalisis data tersebut. Dalam hal ini, bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang diperlukan saja. Bimbingan ini sebaiknya mengarahkan siswa untuk melangkah ke arah yang hendak dituju, melalui pertanyaan-pertanyaan, atau LKS.
c. Siswa menyusun konjektur (prakiraan) dari hasil analisis yang dilakukannya.
d. Bila dipandang perlu, konjektur yang telah dibuat siswa tersebut diatas diperiksa oleh guru. Hal ini penting dilakukan untuk meyakinkan kebenaran prakiraan siswa, sehingga akan menuju arah yang hendak dicapai.
e. Apabila telah diperoleh kepastian tentang kebenaran konjektur tersebut, maka verbalisasi konjektur sebaiknya diserahkan juga kepada siswa untuk menyusunya. Di samping itu perlu diingat pula bahwa induksi tidak menjamin 100% kebenaran konjektur.
f. Sesudah siswa menemukan apa yang dicari, hendaknya guru menyediakan soal latihan atau soal tambahan untuk memeriksa apakah hasil penemuan itu benar.
3. Kelebihan dan Kelemahan metode Discovery
Kelebihan metode Discovery adalah sebagai berikut.
a. Siswa aktif dalam kegiatan belajar mengajar.
b. Siswa memehami benar bahwa pelajaran.
c. Menimbulakan rasa puas bagi siswa.
d. Siswa akan dapat mentransfer pengetahuannya keberbagai konteks.
e. Melatih siswa belajar mandiri.
Kelemahan metode Discovery adalah sebagai berikut.
a. Menyita waktu banyak.
b. Menyita pekerjaan guru
c. Tidak semua siswa mampu melakukan penemuan
d. Tidak berlaku untuk semua topik
e. Untuk kelas yang besar sangat merepotkan guru

BAB III
METODELOGI PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian
Penelitian Tindakan kelas (PTK) merupakan proses pengkajian melalui sistem berdaur dari berbagai kegiatan pembelajaran yang bertujuan untuk memberikan solusi berupa tindakan untuk mengatasi permasalahan pembelajaran. Adapun prosedur berdaur pelaksanaan PTK itu dapat digambarkan sebagai berikut :























Gambar 7. Alur dalam Penelitian Tindakan Kelas
Sumber : Tim Pelatihan PGSM 1999

Secara rinci prosedur pelaksanaan rancangan penelitian tindakan kelas untuk setiap siklus dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Permasalahan
Permasalahan penelitian tindakan kelas (PTK) pada siklus I
1. Nilai dasar yang belum mencapai ketuntasan belajar
2. Proses pembelajaran belum baik
2. Perencanaan
Pada tahap perencanaan, peneliti merencanakan kegiatan yang akan dilakukan pada Penelitian Tindakan Kelas (PTK), adapun kegiatan yang akan dilakukan dalam perencanaan adalah sebagai berikut :
Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran
Membuat skenario
Membuat alat evaluasi
Membuat lembar observasi
3. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap pelaksanaan tindakan kegiatan yang dilaksanakan adalah melakukan skenario pembelajaran yang telah direncanakan, yang bertindak sebagai guru dalam penelitian ini adalah peneliti sedangkan yang bertindak sebagai observator adalah guru matematika kelas V pelaksanaan penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam tiga siklus. Setiap siklus dilaksanakan dalam 2 pertemuan kemudian pertemuan terakhir pada masing – masing siklus diberikan tes hasil belajar. Waktu pertemuan 2 jam pelajaran 70 menit.
4. Observasi
Pada observasi, penelitian sebagai guru pengajar melakukan tindakan yaitu pembelajaran bangun datar sedangkan untuk mengobservasi tindakan yang sedang dilakukan oleh teman guru dan aktivitas siswa di dalam kelas dilakukan oleh guru matematika. Dengan menggunakan lembar observasi untuk mengobservasi hasil belajar siswa dengan menggunakan tes.
Analisis Analisis dokumen yang berupa hasil tes belajar yang diberikan kepada siswa pada setiap putaran catatan lapangan digunakan untuk menganalisis tindakan selama pembelajaran berlangsung. Sedangkan analisis dokumen digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa dari tes yang diberikan untuk setiap putaran.
5. Analisis
Analisis dokumen yang berupa hasil tes belajar yang diberikan kepada siswa pada setiap putaran. Catatan lapangan digunakan untuk menganalisis tindakan selama pembelajaran berlangsung, sedangkan analisis dokumen digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa dari tes yang diberikan untuk setiap putaran.
6. Refleksi
Pada tahap refleksi, peneliti dan guru mendiskusikan hasil tindakan yang telah dilaksanakan, kemudian bila perlu merevisi tindakan sebelumnya untuk dilaksanakan pada tahap berikutnya.

B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) akan dilaksanakan dalam semester II 2011 di SDN 013 Tenggarong Seberang.

C. Subjek dan Objek
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V semester II SDN 013 Tenggarong Seberang yang berjumlah 36 siswa.
Objeknya adalah penggunaan metode Discovery pada materi pembelajaran bangun datar.

D. Teknik Pengumpulan Data
Sesuai dengan tujuan penelitian, maka pengumpulan data di peroleh melalui :
1. Observasi dilakukan pada tahap perencanaan dan selama kegiatan pembelajaran setiap siklus.
2. Tes dilaksanakan pada setiap siklus untuk melihat kemampuan pemecahan masalah siswa pada materi yang telah di ajarkan.
3. Dokumentasi nilai yakni data nilai tes yang diberikan pada awal pembelajaran digunakan sebagai perbandingan dengan tes hasil belajar pada akhir siklus I.



E. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan secara deskreptif yaitu hanya mengumpulkan data yang diperoleh melalui observasi dan tes hasil belajar di susun, dijelaskan, dan akhimya di analisis dalam tiga tahapan yaitu:
1. Reduksi Data
Reduksi data merupakan suatu proses pemilihan, pemusatan dan perbaikan pada penyederhanaan data. Pada tahap reduksi data observasi pengamatan terhadap proses pembelajaran bangun datar.
2. Pengajian Data
Data yang diperoleh melalui observasi dan tes hasil belajar berbentuk table dan kalimat sederhana setiap putaran. Sedangkan analisis data kuantitatif menggunakan rata-rata, prosentase dan diagram
a. Rata – rata
Rata – rata digunakan untuk mengetahui peningkatn hasil belajar siswa dengan menggunakn rata – rata skor hasil belajar masing – masing siklus. Adapun rumus mencari rata – rata adalah sebagai berikut.
(Sudjana 2005)
Keterangan :
: Nilai rata –rata hasil belajar siswa pada setiap siklus
: Jumlah nilai seluruh siswa
n : Banyaknya siswa

Untuk mengetahui hasil belajar siswa dapat dilakukan dengan menganalisis data berupa nilai tugas dan nilai tes pada setiap siklus (tes formatif) menggunakan rumus, nilai rata – rata tugsa setiap siklus dijumlahkan dengan dua kali nilai rata – rata tes hasil belajar (nilai tes formatif)
NA =
Keterangan :
Na = Nilai Akhir Setiap Siklus (Depdiknas, 2005 : 29)
NT = Nilai Tugas
NH = Nilai Test Akhir Siklus
Modifikasi Depdiknas 2005 : 29
b. Presentase
Menentukan tingkat kemampuan siswa secara menyeluruh dengan menggunakan rumus.
M = ( Purwanto 2004 )
Keterangan :
M = Besarnya rata – rata dalam persen
x = Jumlah siswa yang termasuk kategori mampu
N = Jumlah siswa secara keseluruhan
c. Diagram
Diagram digunakan untuk menggambarkan peningkatan hasil belajar siswa dalam materi pembelajaran matematika pada bangun datar.
3. Kesimpulan
Data yang telah di analisis kemudian dibuat suatu kesimpulan.

F. Indikator Peningkatan
Peningkatan nilai rata – rata akhir setiap siklus dari nilai rata–rata siklus sebelumnya setelah diterapkan penggunaan metode discovery dapat dilihat pada kriteria hasil belajar berikut ini.
Tabel. 2. Kriteria Hasil Belajar
Nilai Keterangan
85 < x  100 Baik Sekali
71 < x  84 Baik
56 < x  70 Cukup
41 < x  55 Kurang
< 40 Sangat Kurang
Sumber : Buku Laporan Pendidikan Sekolah Dasar Negeri 013 Tenggarong
Seberang









DAFTAR PUSTAKA



Amirin dan SamsuIrawan 2000. Penelitian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung PT. Remaja Rusda Karya.

Anonim; 2001; Kamus Besar Bahasa Indonesia: Jakarta; Balai Pustaka

Dimyati dan Mujiono 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.

Dujana 2001. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung PT. Remaja Rosdakarya.

Djamarah dan Zain 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.

Gatot Muhsetyo, dkk. 2007. Pembelajaran Matematika SD. Universitas Terbuka

Higgisn dan Suydam 1999. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Jakarta : Rineka Cipta.

Higgard dan Sanjaya 2007. Belajar dan Pembelajaran . Jakarta : Rineka Cipta.

Kusni. 2003. Geometri Dasar. Semarang : UNNES


Markaban.2006. Model Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan Penemuan Terbimbing.Yokyakarta : Team PPPG Matematika


Mukhtar dan Rusmini 2003. Pengajaran Remedial Teori dan Penerapannya dalam Pembelqjaran Jakarta : Fifa Mulia Sejahtera.

Nurhadi 2004. Psikologi Pendidikan. Bandung : Remaja Rosda Karya
Purwanto . 2004. Psikologi Pendidikan . Bandung : Remaja Rosda Karya









RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )
1. Identitas
Sekolah : SDN 013 Tenggarong Seberang
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : V/ 2
Pertemuan Ke :
Alokasi Waktu : 2 x 35 Menit

2. Standar Kompetensi :
6. Memahami sifat-sifat bangun dan hubungan antar bangun

3. Kompetensi Dasar
6.1 Mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar

4. Indikator
1) Memberikan definisi persegi panjang dengan benar.
2) Mengetahui rumus luas persegi panjang.
3) Menyelesaikan soal/permasalahan yang berhubungan dengan luas persegi panjang

5. Tujuan Pembelajaran
Peserta didik dapat :
1) Memberikan definisi persegi panjang dengan benar.
2) Mengetahui rumus luas persegi panjang.
3) Menyelesaikan soal/permasalahan yang berhubungan dengan luas persegi panjang

6. Materi Ajar
Sifat-sifat Bangun Datar

7. Metode Pembelajaran
Metode Discovery

8. Langkah-langkah Pembelajaran
Kegiatan awal
a. Guru mengucapkan salam dan mempersilahkan siswa untuk berdoa, menanyakan kondisi kelas, menyiapkan siswa untuk memulai pelajaran matematika
b. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
c. Guru menyampaikan manfaat dari materi yang akan dipelajari.

 Kegiatan Inti
 Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
Peserta didik dapat Mengetahui sifat-sifat bangun datar
 Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi, guru:
- Guru menggali berbagai macam pendapat siswa tentang definisi persegi panjang.
- Guru menanyakan ke siswa, siapa yang dapat memberikan contoh persegi panjang.
- Guru menunjukan ke siswa alat peraga (sedotan benang dan papan berpaku) dan mengajak siswa untuk mengamati sisi, dan sudutnya sehingga menemukan definisi persegi panjang, dan menunjukan contoh dalam kehidupan.
- Siswa diarahkan untuk dapat membedakan persegi panjang dan daerah persegi panjang
- Sambil berkeliling, guru menanyakan siapa yang belum memahami materi
- Siswa diajak untuk mengamati papan berpaku, mempersilahkan beberapa siswa (5 sampai 10 siswa) untuk maju ke depan dan memberikan contoh persegi panjang dengan menggunakan alat peraga.
- Fokuskan perhatian siswa untuk mengamati salah satu bentuk persegi panjang yang ada di papan berpaku.
- Siswa diarahkan untuk mengamati kotak kotak kecil yang berada didalam persegi panjang, kemudian guru bersama siswa menghitung kotak kotak kecil yang berada di dalam persegi panjang.
- Setelah itu siswa diajak untuk memperhatikan beberapa persegi panjang yang lain di papan berpaku dan kemudian menghitung jumlah kotak kecil yang ada di dalamnya.
- Siswa diajak untuk mengamati salah satu persegi panjang di papan berpaku.
- Arahkan perhatian siswa pada salah satu sisi panjangnya (panjang).
- Gurumenanyakan berapa panjangnya? Setelah itu arahkan siswa untuk mengamati sisi pendeknya (lebar), berapa panjangnya?
- Guru bertanya pada siswa: bagaimana jika kita mengalikan sisi panjang dan sisi pendek? Berapa hasil perkalian sisi panjang (panjang) dan sisi pendek (lebar) persegi panjang itu?.
- Guru menayakan kembali jumlah kotak kecil dalam persegi panjang itu. Kemudian menanyakan kepada siswa : apakah hasil perkalian sisi panjang (panjang) dan sisi pendek (pendek) itu sama dengan jumlah kotak kecil yang ada dalam persegi panjang itu sama?.
- Siswa dipersilahkan untuk membuktikan persegi panjang yang lain. Kemudian guru bertanya: apakakah hasilnya sama?.
- Guru memberi penjelasan bahwa luas daerah persegi panjang adalah jumlah kotak-kotak kecil yang ada di dalam persegi panjang itu.
- Guru menanyakan apakah siswa telah memahami materi.
- Guru menggeneralisasikan kotak kotak kecil dalam satuan panjang dan memberikan contoh menghitung luas persegi panjang dalam ukuran satuan panjang.
- Guru memberikan contoh dan soal penggunaan Luas persegi panjang dalam kehidupan sehari-hari.

 Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, guru:
– Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa
– Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan dan penyimpulan
 Kegiatan Penutup
Dalam kegiatan penutup, guru:
– Guru membimbing siswa untuk merangkum pelajaran
– Guru mengulang kembali kesimpulan yang didapatkan pada saat diskusi kelas memberikan pekerrjaan rumah dan menginformasikan materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya. .

9. Alat/Bahan dan Sumber Belajar
o Buku Pelajaran Matematika untuk Sekolah Dasar Kelas 5 .
o Matematika SD untuk Kelas V 5 B Esis
o Matematika Progesif Teks Utama SD Kelas 5
o Macam-macam bentuk bangun datar
o LKS
o Alat Peraga : benang dan sedotan, karton, papan berpaku dan karet gelang

10. Penilaian

- Teknik Penilaian : tugas individu
- Bentuk instrument : uraian
- Instrument soal
1. Jelaskan pengertian dari persegi panjang!
2. Perhatikan bangun di bawah ini
C 9 D

4

A B
a. Hitung luas kedua persegi panjang di atas!!
b. Hitunglah keliling persegi diatas
3. SDN 013 Tenggarong seberang mempunyai taman berbentuk berbentuk persegi panjang denganukuran panjang 24 m dan lebar 12 m. Pihak sekolah ingin membeli rumput agar bisa menutupi seluruh taman, juga ingin memagar keseluruhan tepi taman.
a. Berapa luas rumput yang harus di beli?
b. Berapa panjang keseluruhan pagar?
5. Suatu papan triplek mempunyai luas 100 m2 dengan lebar 8 m, berapakah
keliling dan panjang papan triplek tersebut.
Format Kriteria Penilaian
No. Aspek Kriteria Skor
1. Konsep * semua benar
* sebagian besar benar
* sebagian kecil benar
* semua salah 4
3
2
1
PERFORMANSI
No. Aspek Kriteria Skor
1.



2. Pengetahuan



Sikap * Pengetahuan
* kadang-kadang Pengetahuan
* tidak Pengetahuan

* Sikap
* kadang-kadang Sikap
* tidak Sikap 4
2
1

4
2
1

Lembar Penilaian
No Nama Siswa Performan Produk Jumlah Skor Nilai
Pengetahuan Sikap
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Mengetahui
Kepala Sekolah Guru Mapel Matematika



.................................. ..................................
NIP : NIP :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar