Selasa, 26 Juli 2011

Peningkatan Hasil Belajar IPA melalui Metode Peta Pikiran (Mind Mapping ) Pada siswa kelas II SDN 006 Loa Kulu Tahun Pembelajaran 2010/2011

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam pembangunan nasional, pendidikan diartikan sebagai upaya meningkatkan harkat dan martabat manusia serta dituntut untuk menghasilkan kualitas manusia yang lebih tinggi guna menjaminpelaksanaan dan kelangsungan pembangunan. Peningkatan kualitas pendidikan harus dipenuhi melalui peningkatan kualitas dan kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan lainnya. Pembaharuan kurikulum yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa mengesampingkan nilai-nilai luhur sopan santun dan etika serta didukung penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, karena pendidikan yang dilaksanakan sedini mungkin dan berlangsung seumur hidup menjadi tanggung jawab keluarga, sekolah, masyarakat dan pemerintah.
Pada era globalisasi, perkembangan IPTEK semakin marak dimasyarakat. Maraknya perkembangan IPTEK disebabkan oleh adanya tuntutan manusia untuk berkembang dan maju dalam berbagai bidang sesuai dengan perkembangan zaman. Tuntutan tersebut, dapat diperoleh melalui informasi aktual dari peralatan IPTEK yang canggih. Pendidikan merupakan upaya untuk membentuk sumber daya manusia yang dapat meningkatkan kualitas kehidupannya. Dengan demikian kebutuhan manusia yang semakin kompleks akan terpenuhi. Selain itu melalui pendidikan akan dibentuk manusia yang berakal dan berhati nurani. Kualifikasi sumber daya manusia yang mempunyai karakteristik seperti di atas, sangat diperlukan dalam menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga mampu menghadapi persaingan global.
Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan pembangunan disegala bidang. Hingga kini pendidikan masih diyakini sebagai wadah dalam pembentukan sumber daya manusia yang diinginkan. Melihat begitu pentingnya pendidikan dalam pembentukan sumber daya manusia, maka peningkatan mutu pendidikan merupakan hal yang wajib dilakukan secara berkesinambungan guna menjawab perubahan zaman. Masalah peningkatan mutu pendidikan tentulah sangat berhubungan dengan masalah proses pembelajaran.
Proses pembelajaran yang sementara ini dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan kita masih banyak yang mengandalkan cara-cara lama dalam penyampaian materinya. Di masa sekarang banyak orang mengukur keberhasilan suatu pendidikan hanya dilihat dari segi hasil. Pembelajaran yang baik adalah bersifat menyeluruh dalam melaksanakannya dan mencakup berbagai aspek, baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik, sehingga dalam pengukuran tingkat keberhasilannya selain dilihat dari segi kuantitas juga dari kualitas yang telah dilakukan di sekolah-sekolah. Mengacu dari pendapat tersebut, maka pembelajaran yang aktif ditandai adanya rangkaian kegiatan terencana yang melibatkan siswa secara langsung, komprehensif baik fisik, mental maupun emosi. Hal semacam ini sering diabaikan oleh guru karena guru lebih mementingkan pada pencapaian tujuan dan target kurikulum. Salah satu upaya guru dalam menciptakan suasana kelas yang aktif, efektif dan menyenangkan dalam pembelajaran yakni dengan menggunakan metode demonstrasi. Hal ini dapat membantu guru dalam menggerakkan, menjelaskan gambaran ide dari suatu materi.
Tujuan utama pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah agar siswa memahami konsep-konsep IPA secara sederhana dan mampu menggunakan metode ilmiah, bersikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dengan lebih menyadari kebesaran dan kekuasaan pencipta alam (Depdikbud, 1997:2).
Pembelajaran IPA memiliki fungsi yang fundamental dalam menimbulkan serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif dan inovatif. Agar tujuan tersebut dapat tercapai, maka IPA perlu diajarkan dengan cara yang tepat dan dapat melibatkan siswa secara aktif yaitu melalui proses dan sikap ilmiah. Mutu pembelajaran IPA perlu ditingkatkan secara berkelanjutan untuk mengimbangi perkembangan teknologi. Untuk meningkatkan mutu pembelajaran tersebut, tentu banyak tantangan yang dihadapi.. Permasalahan yang dihadapi siswa di SD adalah hasil belajar IPA yang belum tuntas yakni belum mencapai angka minimal daya serap yang telah ditentukan. Salah satu faktor dalam pembelajaran IPA guru lebih banyak berceramah, sehingga siswa menjadi cepat bosan dan menyebabkan hasil belajar IPA rendah. Guru belum menghayati hakekat IPA karena pembelajaran di sekolah baru menekankan produk saja. Hal itu ditambah dengan pendapat siswa bahwa pelajaran IPA dianggap sulit, sehingga tidak menarik untuk belajar, sehingga berdampak pada rendahnya hasil belajar yang diperoleh siswa. Rendahnya hasil belajar siswa juga terjadi pada kelas rendah yaitu kelas II . Hal tersebut, diperkirakan karena kurangnya pemahaman siswa terhadap konsep pembelajaran IPA. Mereka menganggap pelajaran IPA sulit dipahami. Untuk anak-anak yang taraf berpikirnya masih berada pada tingkat konkret, maka semua yang diamati, diraba, dicium, dilihat, didengar, dan dikecap akan kurang berkesan kalau sesuatu itu hanya diceritakan, karena mereka belum dapat menyerap hal yang bersifat abstrak. Perlu diketahui bahwa tingkat pemahaman tiap-tiap siswa tidak sama, sehingga kecepatan siswa dalam mencerna bahan pengajaran berbeda.
Berdasarkan pengamatan awal di SDN 006 Loa Kulu dengan jumlah siswa 25 anak diperoleh nilai hasil belajar siswa dengan nilai rata-rata 55,80 pada pokok bahasan mengenal bagian utama hewan dan tumbuhan. Nilai tersebut termasuk kategori rendah karena masih dibawah KKM yang telah ditentukan oleh SDN 006 Loa Kulu yaitu KKM 60. Bersamaan dengan itu dilakukan pengamatan dalam proses pembelajaran IPA (sains) yang dilaksanakan oleg guru ternyata kurang adanya penggunaan pendekatan, media dan metode yang tepat, sehingga cenderung guru yang aktif dan siswa pasif. Tugas utama guru adalah mengelola proses belajar dan mengajar, sehingga terjadi interaksi aktif antara guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa. Interaksi tersebut sudah barang tentu akan mengoptimalkan pencapaian tujuan yang dirumuskan.
Usman (2000:4) menyatakan bahwa proses belajar dan mengajar adalah suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.
Senada dengan Usman, Suryosubroto (1997:19) mengatakan bahwa proses belajar dan mengajar meliputi kegiatan yang dilakukan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi dan program tindak lanjut yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu yakni pengajaran.
Mengacu dari kedua pendapat tersebut, maka proses belajar dan mengajar yang aktif ditandai adanya keterlibatan siswa secara komprehensif, baik fisik, mental, maupun emosionalnya. Pelajaran IPA misalnya diperlukan kemampuan guru dalam mengelola proses belajar dan mengajar sehingga keterlibatan siswa dapat optimal, yang pada akhirnya berdampak pada perolehan hasil belajar. Hal tersebut, sangat penting karena dalam kehidupan sehari-hari, siswa tidak pernah lepas dengan dunia IPA (Sains), yang dekat dengan aktivitas kehidupan mereka.Salah satu hasil penelitian yang dilakukan oleh Senior Secondary Education Project 2006 memperlihatkan bahwa dalam proses belajar dan mengajar, guru berperan dominan dan informasi hanya berjalan satu arah dari guru ke siswa, sehingga siswa sangat pasif. Untuk itu dalam pembelajaran diperlukan metode yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. Dengan demikian pemilihan metode yang tepat dan efektif sangat diperlukan. Salah satu metode yang ingin peneliti lakukan penelitian yaitu Metode ( Peta Pikiran ) Mind Mapping diharapkan dapat membantu guru melakukan pembelajaran yang relatif mudah dipahami oleh siswa, sehingga pembelajaran dapat berlangsung dalam situasi yang menyenangkan dan dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa. Peta Pikiran (Mind Mapping) adalah salah satu dari strategi pembelajaran yang mengupayakan seorang peserta didik mampu menggali ideide kreatif dan aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Sehingga penulis yakin pembelajaran akan lebih hidup, variatif, dan membiasakan siswa memecahkan permasalahan dengan cara memaksimalkan daya pikir dan kreatifitas. Dengan demikian tujuan pembelajaran yang sudah ditentukan dapat tercapai.
Dengan metode ini diharapkan dapat tumbuh berbagai kegiatan belajar siswa sehubungan dengan kegiatan belajar siswa. Dengan kata lain terciptalah interaksi edukatif. Dalam interaksi ini guru berperan sebagai penggerak atau pembimbing, sedangkan siswa berperan sebagai penerima atau yang dibimbing. Proses interaksi ini akan berjalan baik apabila siswa banyak aktif dibandingkan guru. Penyampaian materi pelajaran IPA perlu dirancang suatu strategi pembelajaran yang tepat, yakni anak akan mendapatkan pengalaman baru dalam belajarnya, selain itu siswa akan merasa nyaman.
Strategi pembelajaran IPA harus dirancang sedemikian rupa dengan mempertimbangkan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di samping harus bertumpu pada pengalaman indera menuju terbentuknya pengalaman kesimpulan yang logis (Suhirman 1998). Dengan menerapkan metode demonstrasi , maka dalam mengusahakan pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa dan meningkatkan kualitas pembelajaran IPA di pendidikan dasar dapat tercapai. Selain itu juga dapat memperbaiki penerapan kurikulum saat ini dan meningkatkan pemahaman serta menciptakan suasana belajar yang kondusif. Seperti yang telah diutarakan di atas pada saat pembelajaran IPA disebutkan bahwa fungsi metode mengajar dalam keseluruhan system pengajaran adalah sebagaimana alat untuk mencapai tujuan pengajaran.
Berdasarkan uraian di atas maka dalam penelitian ini penulis tertarik untuk meneliti penggunaan metode peta pikiran (Mind Mapping) sebagai salah satu alternatif dalam pembelajaran IPA yang membawa siswa belajar dalam suasana yang lebih nyaman dan menyenangkan. Dengan menetapkan judul “ Peningkatan Hasil Belajar IPA melalui Metode Peta Pikiran (Mind Mapping ) Pada siswa kelas II SDN 006 Loa Kulu Tahun Pembelajaran 2010/2011

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang dan batasan masalah di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah : Bagaimana peningkatan hasil belajar IPA siswa dengan menggunakan metode Metode Peta Pikiran (Mind Mapping ) pada materi mengenal bagian-bagian utama hewan dan tumbuhan di kelas II SDN 006 Loa Kulu tahun pembelajaran 2010/2011
C. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar IPA siswa menggunakan metode Metode Peta Pikiran (Mind Mapping ) Mengenal bagian-bagian utama hewan dan tumbuhan di kelas II semester II SDN 006 Loa Kulu tahun pembelajaran 2010/2011
D. Manfaat penelitian
1. Bagi siswa: Menambah keaktifan siswa dalam pembelajaran IPA dan menganggap IPA adalah pelajaran yang menyenangkan
2. Bagi guru: menambah kualitas dan wawasan dalam pembelajaran IPA dengan melaksanakan metode Peta Pikiran (Mind Mapping
3. Bagi sekolah: sebagai sumbangan kepada pihak sekolah maupun sekolah lainnya dalam rangka perbaikan proses pembelajaran IPA.


BAB II
KAJIAN MATERI
A. Metode Mind Mapping
1. Pengertaian Mind Mapping
Metode ini dikembangkan di luar negeri oleh seorang bernama Tony Buzan. Metode ini dapat digunakan dalam pembelajaran IPA dan bidang lain. Mind Map yang ditemukan oleh Tony Buzan system revolusioner dalam perencanaan dan pebuatan catatan yang telah mengubah hidup jutaan orang di selurah dunia .Pembuatan Mind Map didasarkan pada cara kerja alamiah otak dan mampu menyalakan percikan – percikan kreatifitas dalam otak karena melibatkan kedua belah otak kita.
2. Kegunaan Mind Map
Mind Map tidak hanya dapat digunakan untuk kepentingan pendidikn saja akan tetapi dapat juga digunakan untuk kepentingan bisnis ataupun berkaitan dengan penggunaan pikiran Mind Map dapat digunakan untuk setiap aspek kehidupan dan dapat meningkatkan kemampuan belajar dan berpikir sehingga kemampuan manusia dapat
lebih tinggi lagi . Mind Map adalah metode akhir Buzan yang sekarang digunakan jutaan orang diseluruh dunia mulai dari muda sampai tua, mereka berharap dengan metode ini dapat meningkatkan efektifitas kemampuan otak mereka . Hampir sama dengan peta jalan kegunaan
Mind Map adalah :
a) Memberikan pandangan menyeluruh pokok masalah atau area yang luas.
b) Memungkinkan kita merencanakan rute atau membuat pilihan – pilihan dan mengetahui ke mana kita akan pergi dan di mana kita berada .
c) Mengumpulkan sejumlah besar data di satu tempat .
d) Mendorong pemecahan masalah dengan membiarkan kita melihat jalan – jalan terobosan kreatif baru.
e) Menyenangkan untuk dilihat, dibaca, dicerna dan diingat Mind Map juga merupakan peta rute yang hebat bagi ingatan ,memungkinkan kita menyusun fakta dan pikiran sedemikian rupa sehingga cara kerja alami otak dilibatkan sejak awal. Ini berarti meningat informasi akan lebih mudah dan lebih diandalkan dari pada menggunakan teknik pencatatan tradisional.
Semua Mind Map mempunyai kesamaan ,menggunakan warna.
Semuanya memiliki truktur alami yang memancar dari pusat.
Semuanya menggunakan garis lengkung, symbol, kata, dan gambar yang sesuai dengan satu rangkaian aturan yang sederhana, mendasar, alami, dan sesuai dengan cara kerja otak .
Dengan Mind Map, daftar informasi yang panjang bisa dialihkan menjadi diagram warna – warni, sangat teratur, dan mudah diingat yang bekerja selaras dengan cara kerja alami otak dalam melakukan bebagai hal.
Mind Map dapat digunakan pada waktu :
a) Ketika ingin menemukan ide yang inovatif dan jalan keluar yang kreatif
b) Ketika ingin mengingat informasi secara efektif dan efisien artinya, seklipun dalam tekanan , tetap saja dapat mengingat informasi itu dengan baik.
c) Ketika ingin menetapkan sebuah tujuan, dan langkah – langkah untuk mencapainya.
d) Ketika sedang berpikir untuk mengubah karier atau memulai usaha baru.
e) Ketika ingin mengadakan rapat yang efisien dan lancar
2) Prinsip Dasar Mind Mapping
Mind Map merupakan metode yang menggabungkan kerja otak kanan dan otak kiri yang masing – masing memiliki kelebihan dan memiliki tingkat kecerdasan yang berbeda – beda untuk setiap bagian dari otak. Lazaer ( 2000:7 ) mengemukakan kecerdasan jamak ( multi Inteligences ) merupakan perkembangan mutakhir dalam bidang inteligensi yang menjelaskan hal – hal yang berkaitan dengan jalur – jalur yang digunakan oleh manusia untuk menjadi cerdas
Macam – macam kecerdasan jamak sebagai berikut :
a) Kecerdasan verbal /linguistik adalah bagian dari kecerdasan jamak berkaitan dengan kepekaan terhadap bunyi, struktur, makna dan fungsi kata serta bahasa yang muncul melalui kegiatan bercakap- cakap , berdiskusi dan membaca.
b) Kecerdasan logika matematika adalah bagian dari kecerdasan jamak berkaitan dengan kepekaan dalam mencari dan menemukan pola yang digunakan untuk melakukan kalkulasi hitung dan berpikir abstrak serta berpikir logis dan berpikir ilmiah.
c) Kecerdasan Intrapersonal adalah kecerdasan jamak yang berkaitan dengan kepekaan dalam melakukan intropeksi terhadap diri sendiri dan membandingkannya dengan kelemahan dan kekuatan oarang lain.
d) Kecerdasan Interpersonal adalah kecerdasan jamak yang berkaitan dengan kepekaan dalam membedakan dan merespon perilaku yang ditampilkan orang lain.
e) Kecerdasan naturalis adalah bagian dari kecerdasan jamak yang berkaitan dengan kepekaan dalam mengapresiasi alam dan lingkungan sekitar.
f) Kecerdasan kinestetik dan gerakan tubuh ( bodily – kinesthetic adalah bagian dari kecerdasan jamak yang berkaitan dengan kepekaan dan ketrampilan dalam mengotrol koordinasi gerakan tubuh melalui gerakan motorik kasar dan halus, seperti menggunakan alat-alat secara terampil, melompat, berlari, berheni secara tiba - tiba dengan terampil dalam rangka melakukan gerakan senam atau gerakan menari, silat,dll.
g) Kecerdasan musik dan irama adalah bagian dari kecersadan jamak yang berkaitan dengan kepekaan dalam mendengarkan suara . musik, dan suara lainnya.
h) Kecerdasan visual-spatial adalah bagian dari kecerdasan jamak yang berkaitan dengan kepekaan dalam memadukan kegiatan persepsi visual (mata) maupun pikiran serta kemampuan mentranspormasikan persepsi visual spatial seperti yang dilakukan dalam kegiatan melukis, mendesain pola,merancang dll.
3) Bahan Mind Map
Karena Mind Map begitu mudah dan alami, maka bahan-bahan yang diperlukan dalam pembuatan Mind Map sangat sedikit (Tony Buzan:2008:14) ,antara lain
a) Kertas kosong tak bergaris
b) Pena dan pensil berwarna
c) Otak
d) Imajinasi
4) Langkah-langkah membuat Mind Map Bedasarkan buku pintar Tony buzan ada tujuh langkah dalam pembuatan Mind Map,antara lain sebagai berikut :
Mulailah dari bagian tengah kertas kosong yang sisi panjangnya diletakkan mendatar,karena mulai dari tengah memberi kebebasan kepada otak untuk menyebar kesegala arah dan untuk mengungkapkan dirinya dengan lebih bebas dan alami.
Gunakan gambar atau simbol untuk ide sentral,karena sebuah gambar bermakna seribu kata dan membantu kita menggunakan imajinasi.Sebuah gambar sentral akan lebih menarik membuat kita tetap terfokus, membantu kita berkonsentrasi, dan mengaktifkan otak kita.
Gunakan warna, karena bagi otak warna sama menariknya dengan gambar. Warna membuat Mind Map lebih hidup,menambah energy kepada pemikiran kreatif, dan menyenangkan
Hubungkan cabang-cabang utama ke gambar pusat (ide pokok) dan hubungkan cabang ketingkat dua dan tiga ketingkat satu dan dua, seterusnya. Karena otak bekerja menurut asosiasi, otak senang mengaitkan dua (atau tiga, atau empat ) hal sekaligus.Bila kita menghubungkan cabang-cabang ,akan lebih mudah mengerti dan
mengingat.
Buatlah garis melengkung, bukan lurus, karena garis lurus akan membosankan otak.
Gunakan satu kata kunci untuk setiap garis, karena kata kunci tunggal memberi banyak daya dan fleksibilitas kepada Mind Map.Setiap kata tunggal atau gambar adalah seperti pengganda, menghasilkan sederet asosiasi , lebih bebas dan bisa memicu ide dan pikiran baru.
Gunakan gambar, karena seperti gambar sentral setiap gambar bermakna seribu kata.
Membuat Mind Map berdasarkan Mind Map Book ghapter “Mind Mapping Guidelines” yang dikutip dari http/en Wikipedia org/Wiki/Mind Map// origin adalah sebagai berikut :
Pergunakan gambar, symbol, kode dan ukuran untuk seluruh Mind Map
Memilih kata kunci dan cetak menggunakan kertas yang kecil.
Tiap-tiap kata atau gambar harus berdiri sendiri dan terletak pada garis tersediri.
Garis dimulai dari tengah dengan gambar sebagai topik, pergunakan sedikitnya tiga warna.
Garis tersebut harus saling berhubungan yang berasal dari tengah .garis tengah dibuat tebal, menyatakan dengan bagian tengah ( ide pokok) berbentuk aliran saat menjauh menjadi menyebar saat menjauhi pusat.
Garis pada gambar atau tulisan memiliki panjang yang sama.
Pergunakalah warna dan kode sesuai keinginan untuk membuat Mind Map, berilah penegasan dan memperlihatkan hasil penggabungan pada Mind Map. Untuk menjaga Mind Map agar jelas dengan menggunakan tingkat kecerahan, menggunakan angka atau skema yang diinginkan untuk semua cabang.
5) Langkah-langkah membuat Mind Map dalam pembelajaran IPA sebagai berikut:
Mulailah dari bagian tengah kertas kosong yang sisi panjangnya diletakan mendatar,buatlah gambar atau simbol sesuai dengan imajinasi siswa menggunakan pensil warna sebagai ide sentral dengan menulis topik pembelajaran.
Dari topik pembelajaran kemudian membuat cabang-cabang sesuai dengan sup topik pembelajaran dengan menggunakan symbol gambar atau kata kunci yang dipahami oleh siswa.
Hubungkan cabang-cabang atau sub topik pembelajaran dari ide sentral atau topik pembelajaran ke sub topik pembelajaran tingkatdua, tiga ke tingkat selanjutnya.
Buatlah garis melengkung dengan warna tebal dari topic pembelajaran ke sub-sub topik pembelajaran selanjutnya.
Simbol gambar atau kata kunci yang dibuat sesuai dengan ide kreatif siswa.
Dari berbagai macam metode pambelajaran IPA tersebut di atas peneliti hanya membatasi penggunaan metode Mind Map yang divariasi dengan metode ceramah, tanya jawab dan diskusi, karema dalam setiap pembelajaran harus diawali penjelasan atau informasi dari guru dalam penyajian atau penyampaian bahan pelajaran,(Djamarah dan Aswan Zain ;2006:98-99) .
C. Metode Pembelajaran Peta Pikiran ( Mind Mapping)
1. Pengertian Metode Pembelajaran
Agar lebih mudah dalam menyampaikan materi pelajaran diperlukan sebuah metode untuk menyampaikannya. Menurut Edward (2009: 74) bahwa metode adalah cara. Menurut St.Y. Slamet (2008: 51) metode pembelajaran bahasa adalah rencana pembelajaran bahasa, yang mencakup pemilihan, penentuan dan penyusunan secara sistematis bahan yang akan diajarkan. Dengan kata lain, metode pembelajaran adalah sebuah cara dalam pembelajaran yang tersusun secara sistematik dan terarah yang akan mempermudahkan dalam pengajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dapat diartikan juga, bahwa metode pembelajaran adalah cara-cara yang ditempuh guru untuk menciptakan situasi pengajaran yang benar-benar menyenagkan dan mendukung bagi kelancaran proses belajar dan tercapainya prestasi belajar anak yang memuaskan.
Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa. Dalam belajar menulis yang baik diperlukan suatu metode. Salah satu metode yang dapat dipakai adalah metode peta pikiran (mind mapping). Metode ini merupakan sistem terbaru yang di desain sesuai dengan kerja alami otak manusia (Edward, 2009: 67). Metode mind mapping menggunakan berbagai gambar dengan metode ini dapat menjadikan anak senang untuk belajar.

2. Pengertian Peta Pikiran (Mind Mapping)
Salah satu metode pembelajaran yang telah terbukti mampu mengoptimalkan hasil belajar adalah metode peta pikiran atau disebut mind mapping. Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh Buzan pada awal 1970-an yaitu, seorang ahli dan penulis produktif di bidang psikologi, kreativitas dan pengembangan diri. Buzan (2008: 4) mengungkapkan bahwa mind mapping adalah cara mencatat yang kreatif, efektif, dan secara hafiah yang akan “memetakan” pikiran.
Berikut ini merupakan beberapa pengertian Mind Map.(Tony Buzan, 2008:3-4)
Mind Map adalah cara mengembangkan kegiatan berpikir ke segala arah, menangkap berbagai pikiran dalam berbagai sudut.
Mind Map mengembangkan cara pikir divergen, berpikir kreatif,efektif, dan secara harfiah akan “ memetakan “ pikiran – pikiran kita.
Mind adalah alat berpikir organisasional yang sangat hebat.
Mind Map adalah cara termudah untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil informasi itu ketika dibutuhkan.
Mind Map adalah hasil dari metrode Mind Mapping yang berupa hasil visualisasi yang berupa symbol atau gambar, yang dapat digunakan sebagai ganti catatan tertulis dan hasilnya lebih cepat untuk diingat.

Sejalan dengan hal tersebut De Porter, dkk. (2005: 175-176) mengatakan bahwa peta pikiran (mind mapping) adalah metode mencatat kreatif yang memudahkan kita mengingat banyak informasi.
A mind map is a diagram used to represent words, ideas, tasks, or other items linked to and arranged around a central key word or idea. Mind maps are used to generate, visualize, structure, and classify ideas, and as an aid in study, organization, problemsolving, decisionmaking, andwriting
Mind map atau Peta pikiran adalah sebuah diagram yang digunakan untuk mempresentasikan kata-kata, ide-ide (pikiran), tugas-tugas atau hal-hal lain yang dihubungkan dari ide pokok otak. Peta pikiran juga digunakan untuk menggeneralisasikan, memvisualisasikan serta mengklasifikasikan ide-ide dan sebagai bantuan dalam belajar, berorganisasi, pemecahan masalah, pengambilan keputusan serta dalam menulis.
Sementara itu De Porter dan Hernacki (2006: 152) mengungkapkan bahwa Peta pikiran menggunakan pengingat-ingat visual dan sensorik dalam suatu pola dari ide-ide yang berkaitan, seperti peta jalan yang digunakan untuk belajar, mengorganisasikan, dan merencanakan. Peta konsep ini dapat membangkitkan ide-ide orisinal dan memicu ingatan yang mudah.
Sejalan dengan hal tersebut, Wycoff berpendapat bahwa pemetaan-pikiran atau Peta pikiran adalah alat pembuka pikiran yang ajaib. (Hernowo,2005: 54). Mind mapping atau peta konsep adalah cara paling efektif dan efisien untuk memasukkan, menyimpan dan mengeluarkan data dari/ke otak (Edward, 2009: 64).
Lebih lanjut Buzan (2007: 4) berpendapat bahwa mind mapping adalah cara mudah menggali informasi dari dalam dan dari luar otak. Dalam peta pikiran, sistem bekerja otak diatur secara alami. Otomatis kerjanya pun sesuai dengan kealamian cara berpikir manusia. Peta konsep membuat otak manusia ter-eksplor dengan baik, dan bekerja sesuai fungsinya. Seperti kita ketahui, otak manusia terdiri dari otak kanan dan otak kiri. Dalam peta konsep, kedua sistem otak diaktifkan sesuai porsinya masing-masing. Kemampuan otak akan pengenalan visual untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya (Buzan, 2008: 9). Dengan kombinasi warna, gambar, dan cabang-cabang melengkung, akan merangsang secara visual. Sehingga infomasi dari mind mapping mudah untuk diingat.
Dari berbagai pendapat para ahli tersebut, dapat lebih ditegaskan lagi oleh John W. Budd yang mengungkapkan bahwa A Mind Map is an outline in which the major categories radiate from a central image and lesser categories are portrayed as branches of larger branches yang berarti bahwa peta konsep (mind mapping) merupakan garis besar dari kategori utama dan pikiran-pikiran kecil yang digambarkan sebagai cabang dari cabang pikiran yang lebih besar. Dengan peta konsep daftar informasi yang panjang dapat dialihkaan menjadi diagram warna-warni, sangat teratur, dan mudah diingat yang bekerja selaras dengan cara kerja alami otak dalam melakukan berbagai hal.
Dari uraian di atas, dapat diambil sebuah definisi bahwa peta konsep (mind mapping) adalah suatu cara memetakan sebuah informasi yang digambarkan ke dalam bentuk cabang-cabang pikiran dengan berbagai imajinasi kreatif.
2. Langkah-langkah Membuat Peta pikiran (Mind Mapping)
Sebelum membuat sebuah Peta pikiran diperlukan beberapa bahan, yaitu kertas kosong tak bergaris, pena dan pensil warna, otak, serta imajinasi. Buzan (2008: 15) mengemukakan ada tujuh langkah untuk untuk membuat mind mapping. Tujuh langkah tersebut adalah sebagai berikut:
1) Dimulai dari bagian tengah kertas kosong yang sisi panjangnya dilektakkan mendatar (landscape). Karena apabila dimulai dari tengah akan memberi kebebasan kepada otak untuk menyebar ke segala arah dan untuk mengungkapkan dirinya secara lebih bebas dan alami.
2) Menggunakan gambar atau foto untuk sentral. Karena sebuah gambar atau foto akan mempunyai seribu kata yang membantu otak dalam menggunakan imajinasi yang akan diungkapkan. Sebuah gambar sentral akan lebih menarik, membuat otak tetap terfokus, membantu otak berkosentrasi, dan mengaktifkan otak.
3) Menggunakan warna yang menarik. Karena bagi otak, warna sama menariknya dengan gambar. Warna membuat Peta pikiran(mind mapping) lebih hidup, menambah energi pada pemikiran yang kreatif, dan menyenangkan.
4) Hubungkan cabang-cabang utama ke gambar pusat dan hubungkan cabang-cabang tingkat dua dan tingkat tiga ke tingkat satu dan dua, dan seterusnya. Karena otak bekerja menurut asosiasi. Otak senang mengaitkan dua (atau tiga atau empat) hal sekaligus. Apabila cabang-cabang dihubungkan akan lebih mudah dimengerti dan diingat.
5) Membuat garis hubung yang melengkung, bukan garis lurus. Karena dengan garis lurus akan membosankan otak. Cabang-cabang yang melengkung dan organis seperti cabang-cabang pohon jauh lebih menarik bagi mata.
6) Menggunakan satu kata kunci untuk setiap garis. Karena dengan kata kunci tunggal dapat memberi lebih banyak daya dan fleksibilitas kepada Peta pikiran(mind mapping).
7) Menggunakan gambar. Karena seperti gambar sentral, setiap gambar bermakna seribu kata.
3. Kegunaan Peta Pikiran (Mind Mapping)
Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, siswa dapat menggunakan peta pikiran (mind mapping) sebagai gagasan dalam kegiatan menulis. Di dalam kegiatan menulis, Peta pikiran membantu siswa menyusun informasi dan melancarkan aliran pikiran. Peta pikiran dapat membantu siswa dalam mengatasi hambatan menulis. Tugas menulis dapat menghasilkan beberapa , saat topik-topik utama yang mungkin berkembang menjadi subjek baru, dengan pemikiran dan penjelajahan lebih lanjut. Di samping itu, menurut Yuliatul Maghfiroh dalam (http://cara hidup.um.ac.id/2009/10/peta-pikiran-mind-mapping/) Peta pikiran (mind mapping) mempunyai beberapa kelebihan yaitu:
1) Mudah melihat gambaran keseluruhan.
2) Membantu otak untuk: mengatur, mengingat, membandingkan, dan membuat hubungan.
3) Memudahkan penambahan informasi baru.
4) Pengkajian ulang bisa lebih cepat.
5) Setiap peta bersifat unik.
Dari pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan metode Peta pikiran (mind mapping) akan memudahkan siswa dalam pembelajaran khususnya dalam menulis puisi bagi siswa SD. Melalui Peta pikiran (mind mapping) siswa lebih mudah dalam mengorganisasikan pikirannya untuk dituangkan dalam bentuk tulisan
7 Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam

Hasil belajar terdiri dari dua kata, yakni hasil dan belajar. Antara hasil dan belajar memiliki arti yang berbeda. Hasil ialah wujud pencapaian dan suatu tujuan yang dikerjakan, diciptakan baik secara individu maupun kelompok. Hasil tak akan pernah didapat selama seseorang tidak melakukan suatu tindakan. Sedangkan belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar untuk menuju suatu perubahan. Dengan demikian dapat dipahami makna hasil belajar merupakan wujud tujuan yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan pada diri individu dalam aktivitas kemandirian hidup. (Djamarah. 1994:1-5). Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. (Sudjana,1991:22)
Sudjana, (1991:56-57) Hasil yang dicapai siswa melalui proses belajar mengajar yang optimal cenderung menunjukkan hasil yang berciri sebagai berikut:
1. Kepuasaan dan kebanggaan yang dapat menumbuhkan motivasi belajar intrinsif pada diri siswa. Motivasi intrinsif adalah semangat juang untuk belajar yang tumbuh dan dalam diri siswa itu sendiri, siswa tidak akan mengeluh dengan prestasi yang rendah, dan siswa akan berjuang lebih keras lagi utuk memperbaikinya, sebaliknya, hasil belajar yang baik akan mendorong siswa untuk meningkatkan apa yang telah dicapainya.
2. Menambah keyakinan akan kemampuan dirinya. Artinya siswa tahu kemampuan dirinya dan percaya siapa punya potensi yang tak kalah dari orang lain apabila siswa berusaha sebagaimana harusnya. Siswa juga yakin tidak ada sesuatu yang tidak dapat dicapai bila siswa berusaha sesuai dengan kesanggupannya.
3. Hasil belajar yang dicapainya bermakna bagi diri siswa, seperti makan tahan lama dilihatnya, membentuk perilakunya, bermanfaat untuk mempelajari aspek lain, dapat digunakan sebagai alat untuk memperoleh informasi dan pengetahuan lainnya, kemauan dan kemampuan untuk belajar sendiri serta dapat mengembangkan kreativitas.
4. Hasil belajar diperoleh siswa secara menyeluruh (komprehensif), yakni mencakup ranah kognitif, pengetahuan atau wawasan, ranah afektif atau sikap yang apresiasif, serta ranah psikomotorik, ketrampilan atau perilaku. Ranah kognitif terutama adalah hasil yang diperolehnya sedangkan ranah afektifnya dan psikomotorik diperolehnya sebagai efek samping yang tidak dilaksanakan dalam pembelajaran.
5. Keterampilan siswa untuk mengontrol atau menilai dan mengendalikan dirinya terutama dalam menerima hasil yang dicapainya maupun menilai dan mengendalikan proses dari usaha belajarnya. Siswa tahu dan sadar bahwa tinggi rendahnya hasil belajar yang dicapaiannya tergantung pada usaha dan motivasi belajar dirinya sendiri.
IPA sebagai salah satu perluasan dan pendalaman sains merupakan ilmu yang mempelajari tentang fakta, konsep,teori IPA secara sistimatis dan dirumuskan mengikuti kaidah-kaidah ilmiah dengan melibatkan unsur proses,baik mental maupun fisik sehiungga terbentuk sikap ilmiah yang kritis, obyektif, sistematis, terbuka, tekun, dan jujur, untuk perkembangan dasar pengetahuan, sikap dan ketrampilan dalam mempelajari IPA serta keterkaitannya antara konsep dan penerapannya dalam kehidupan nyata.
Hasil belajar IPA adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah siswa menerima materi-materi IPA yang cenderung menggunakan aspek kognitifnya yang diukur melalui tes.
Arikunto (2002:26) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah:
a. Faktor yang berasal dari dalam diri siswa (internal) dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu faktor psikologis dan jasmaniah. Yang dikategorikan faktor jasmaniah anatra lain: kelelahan, motivasi. suasana hati dan kebiasaan belajar.
b. Faktor yang berasal dari luar individu (eksternal) dapat diklasifikasikan menjadi dua , yaitu faktor manusia dan manusia, seperti alam, hewan, dan lingkungan fisik.
Berdasarkan pendapat yang telah dipaparkan dapat disimpulkan bahwa hasil belajar IPA siswa adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa dalam menerima materi yang telah disampaikan dan dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari dalam diri siswa (internal) maupun faktor yang berasal dari luar individu (eksternal).
B. Perpindahan Energi dan perubahannya
1. Bentuk-bentuk dan sifat Energi
Energi memiliki tiga bentuk dan sifat. Energi bisa berbentuk kinetik, potensial, dan internal (energi dalam). Energi kinetik dimiliki oleh benda yang sedang bergerak aktif, misalnya udara yang bergerak dan air yang mengalir. Energi memiliki sifat bisa disimpan (stored), dipindahkan (transferred), dan diubah bentuknya (transformed).
2. Perpindahan Energi
Sumber-sumber energi yang umum digunakan manusia bisa digolongkan berdasarkan bentuk energinya, misalnya bentuk energi angin adalah kinetik, bentuk energi air adalah potensial, dan bentuk energi matahari adalah internal. Energi angin dan air berpindah melalui kerja, sedangkan energi matahari berpindah melalui perpindahan panas.
Perpindahan Energi Secara Radiasi
Perpindahan energi secara memancar tanpa benda penghantar atau konduktor disebut perpindahan energi secara radiasi.
Penggunaan tenaga matahari untuk memanaskan air juga menggunakan cara radiasi ini. Air yang telah dipanaskan ada yang digunakan untuk memanaskan ruangan (di daerah dingin) dan ada yang dimanfaatkan sebagai penggerak turbin yang memutar generator untuk menghasilkan aliran listrik.
Perpindahan Panas Secara Konduksi
Energi panas dari air akan berpindah ke ujung sendok dan merambat ke bagian sendok yang kamu pegang. Jadinya, kamu merasakan sendok yang kamu pegang semakin lama semakin panas sehingga kamu akan melepaskannya.
Perpindahan Energi secara Konveksi
percobaan sederhana.
Alat dan bahan:
1. Gelas piala atau bejana
2. Air dingin
3. Kompor spirtus
4. Tinta
Langkah percobaan
1. siapkan gelas piala dia atas kompot spirtus
2. gunakan pipet, masukkan sedikit tinta ke dasar bejana
3. nyalakan kompor dan tunggu beberapa saat
4. perhatikan, bagaimana gerakan cairan tinta?

sebelum panas

setelah panas
Cairan tinta akan bergerak ke atas. Setelah sampai permukaan tinta bergerak menyebar ke kanan dan ke kiri. Setelah beberapa saat, tinta akan bercampur dengan air semuanya dan merubah warna air. Jadi, perpindahan energi dengan cara mengalir disebut konveksi. Alat yang memanfatkan cara konveksi ini adalah baling-baling (fan) yang digunakan untuk ventilasi di pabrik-pabrik. Alat ini dibuat dari aluminium dan dipasang di atap pabrik.
Energi Listrik
Listrik sudah menjadi kebutuhan primer sebagian besar manusia. Aktivitas manusia akan terhambat jika pengadaan listrik terganggu.
Gejala kelistrikan
Percobaan
Alat dan bahan
1. Dua buah balon karet
2. Baju/kain wol
3. Benang
Langkah percobaan
1. Tiuplah dua balon karet
2. Ikat dengan benang sepanjang ± 50 cm
3. Gosokkan kedua balon pada baju wol
4. Perhatikan, apa yang terjadi?

gejala kelistrikan
Pada gambar diatas, mengapa balon tolak menolak? Karena kedua balon itu sama-sama bermuatan listrik negatif, sehingga balon saling menjauh. Hal ini membuktikan adanya listrik statis. Alat yang menggunakan listrik statis, misalya mesin fotokopi.
Perubahan Bentuk Energi Listrik Ke Bentuk Energi Lain
Energi harus diubah agar energi yang ada dapat dimanfatkan sesuai kebutuhan manusia.
1. Energi listrik diubah menjadi cahaya dan panas
Energi listrik adalah energi yang paling banyak kemungkinannya untuk diubah ke bentuk energi lainnya. Lampu merupakan alat yang mengubah energi listrik menjadi cahaya dan panas. Lampu neon yang dinyalakan beberapa jam hanya akan terasa hangat. Namun, lampu dengan kekuatan besar misal lampu stadion olah raga atau lampu penerangan jalan, selain cahayanya sangat menyilaukan juga sangat panas, itulah mengapa hewan-hewan kecil yang mendekat akan langsung mati. Panas yang tidak terlalu besar dari lampu yang menyala ada yang digunakan untuk pemanas kandang ayam, atau bahkan memanaskan bayi yang diinkubator.
2. Energi lsitrik diubah menjadi energi suara
Walkman dan radio adalah contoh alat yang memanfatkan energi listrik untuk mengubah getaran elektromagnetik menjadi getaran suara. Gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh stasiun pemancar radio atau sinyal audio dari kaset magnetik atau citra optic dari piringan audia (audio CD) diubah sedemikian rupa oleh rangkaian elektronik, diperkuat oleh amplifier, dan disalurkan ke speaker. Getaran listrik pada speaker terdengar sebagai bunyi atau suara oleh telinga kita.
3. Energi listrik diubah menjadi energi cahaya (gambar) dan suara
Cotohnya televisi.Gambar dihasilkan oleh cahaya yang membentuk bayangan pada layar kaca. Listrik memberi energi pada rangkaian elektronik untuk mengubah getaran yang diterima dari pemancar televisi menjadi suara dan gambar sehingga dapat didengar dan dilihat. Sebaliknya, energi listrik mengubah suara dan benda-benda visual menjadi getaran suara dan sinyal gambar.

4. Energi listrik diubah menjadi energi gerak
Alat yang mengubah energi listrik menjadi energi gerak adalah motor listrik. Contohnya pada kipas angin, blender, mixer, penggerak mesin jahit, dsb. Dipasang juga pada fan untuk mendinginkan alat elektronik seperti amplifier dan komputer. Juga pada mesin sepeda motor dan mobil untuk menyalakan mesin (motor starter). Dalam ukuran besar, motor listrik dipasang pada mobil listrik dan kereta api listrik. Kelebihan menggunakan motor listrik dari motor yang berbahan bakar minyak adalah lebih bersih. Motor listrik tidak mengeluarkan gas buang yang beracun sehingga akan lebih ramah lingkungan karena tidak menimbulkan polusi udara.
5. Energi listrik diubah menjadi energi panas
Contohnya setrika listrik. Di dalam setrika terdapat elemen yang mengubah energi listrik menjadi panas. Panas itu secara konduksi diteruskan ke badan setrika yang terbuat dari logam sehingga seluruh setrika menjadi panas kecuali pegangannya yang memang terbuat dari isolator. Contoh lainnya adalah penanak nasi (rice cooker), oven, pengering pakaian, pengering rambut (hair dryer), dsb.
Rangkaian listrik sederhana
Rangkaian listrik adalah suatu rangkaian yang terdiri atas:
sumber listrik
- kabel sebagai penghantar listrik
- alat listirk atau elektronik
- Percobaan listrik sederhana
Alat dan bahan:
1. dua baterai 1,5 volt
2. dua kabel kecil
3. lampu 2,5 volt
4. fiting
Langkah percobaan
1. rangkailah baterai, kabel, dan lampu seperti gambar di atas!
2. apakah lampu menyala?
3. jika tidak, periksalah mungkin ujung kabel masih terbungkus. Kupaslah bungkusnya, dan coba lagi.
4. jika menyala, rangkaian dalam keadaan terbuka. Artinya listrik dapat kembali ke  lampu  kabel mengalir secara lancar dari baterai baterai.
5. jika lampu padam, itu berarti rangkaian dalam keadaan tertutup, yaitu listrik tidak dapat mengalir karena rangkaian terputus. Contoh rangkaian listrik sederhana yang lainnya adalah senter.


lampu senter merupakan rangkaian listrik sederhana


BAB III
METODE PENELITIAN

1. Setting Penelitian
Pokok bahasan yang menjadi bahan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah materi Perpindahan dan perubahan energi listrik pada kelas VI SD 006 semester II ntahun pembelajaran 2010/2011
2. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada Semester II Tahun pembelajaran 2010/2011. Tempat penelitian adalah SDN No. 006 Loa Janan.
3. Aspek yang di Teliti (Subjek dan Objek Penelitian)
Subjek penelitian dalam penelitian ini siswa kelas VI yang berjumlah 29 siswa di SDN No. 006 Loa Janan, sedangkan yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah metode demonstrasi.
4. Prosedur Penelitian
Adapun rancangan (desain) PTK yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan model Kemmis dan McTaggart (Depdiknas, 2004:2), Pelaksanaan tindakan dalam PTK meliputi empat alur (langkah): (1) perencanaan tindakan; (2) pelaksanaan tindakan; (3) Pengamatan; (4) refleksi. Alur (langkah) pelaksanaan tindakan yang dimaksud dapat dilihat pada gambar berikut.






`








Gambar tersebut di atas menunjukkan bahwa pertama, sebelum melaksanakan tindakan, terlebih dahulu peneliti merencanakan secara seksama jenis tindakan yang akan dilakukan. Kedua, setelah rencana disusun secara matang, barulah tindakan itu dilakukan. Ketiga, bersamaan dengan dilaksanakan tindakan, peneliti mengamati proses pelaksanaan tindakan itu sendiri dan akibat yang ditimbulkannya. Keempat, berdasarkan hasil pengamatan tersebut, peneliti kemudian melakukan refleksi atas tindakan yang telah dilakukan. Jika hasil refleksi menunjukkan perlunya dilakukan perbaikan atas tindakan yang telah dilakukan., maka rencana tindakan perlu disempurnakan lagi agar tindakan yang dilaksanakan berikutnya tidak sekedar mengulang apa yang telah diperbuat sebelumnya. Demikian seterusnya sampai masalah yang diteliti dapat mengalami kemajuan.
Adapun rancangan penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam beberapa siklus. Dengan catatan: Apabila siklus I berhasil sesuai kriteria yang diinginkan, maka tetap dilakukan siklus II untuk pemantapan, tetapi kalau siklus I tidak berhasil, maka dilakukan siklus II dengan cara menyederhanakan materi dan menambah media pembelajaran. Apabila pada siklus II belum terjadi peningkatan, maka siklus III harus dipersiapkan untuk mengatasi kesulitan yang dialami siswa.
Secara rinci prosedur pelaksanaan rancangan penelitian tindakan kelas untuk setiap siklus dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Pra Siklus
a. Perencanaan
Pada tahap perencanaan, peneliti merencanakan kegiatan yang akan dilakukan pada Penelitian Tindakan Kelas (PTK), adapun kegiatan yang akan dilakukan dalam perencanaan adalah sebagai berikut :
Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran
Membuat skenario
Membuat alat evaluasi
Membuat lembar observasi
b. Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini adalah melaksanakan skenario pembelajaran yang telah direncanakan. Pelaku tindakan adalah peneliti selaku guru, dan yang bertindak sebagai observer adalah teman sejawat sesama guru Ilmu Pengetahuan Alam.
c. Pengamatan
Pada tahap observasi, peneliti sebagai guru pengajar melakukan tindakan dengan menggunakan model pembelajaran konvensional dan teman sejawat mengobservasi tindakan yang sedang dilakukan oleh guru dan aktivitas siswa di dalam kelas di lakukan dengan lembar observasi yang telah disiapkan.
d. Refleksi
Kegiatan pada tahap ini adalah peneliti bersama-sama observer mendiskusikan hasil tindakan, dari hasil tersebut peneliti dan guru dapat merefleksikannya dengan melihat data observasi
2. Siklus I
a. Perencanaan
Pada tahap ini peneliti merumuskan dan mempersiapkan: rencana jadwal pelaksanaan tindakan, rencana pelaksanaan pembelajaran, materi/bahan pelajaran sesuai dengan pokok bahasan, lembar tugas siswa, lembar penilaian hasil belajar, instrumen lembar observasi, dan mempersiapkan kelengkapan lain yang diperlukan dalam rangka analisis data.
b. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan pada dasarnya disesuaikan dengan setting tindakan yang telah ditetapkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini dilakukan sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran pada pola metode demonstrasi
c. Pengamatan
Pengamatan saat proses pembelajaran berlangsung dilakukan pengamatan terhadap perilaku siswa. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui sikap dan perilaku siswa terhadap pembelajaran Perpindahan dan perubahan energi listrik dengan metode demonstrasi. Pelaksanaan pengamatan mulai awal pembelajaran ketika guru melakukan apersepsi sampai akhir pembelajaran.
Sejalan dengan hal tersebut, tim UPT PPL UM menyatakan bahwa jenis instrumen yang diperlukan dalam penilaian belajar afektif dalam hal ini bisa berupa pengamatan, dokumentasi, atau kuesioner sikap. Langkah penyusunannya adalah dengan cara (1) menentukan aspek afektif yang akan dinilai, (2) menentukan instrumen yang akan digunakan, (3) mengidentifikasi ciri/indikator aspek afektif yang dapat diamati dan cukup mewakili indikator, (4) menyusun pedoman pengamatan, skala sikap, atau kuesioner yang berisi deskriptor dari suatu indikator, dan (5) menentukan skor/kategori yang dicapai siswa berdasarkan hasil pengamatan.Dalam hal ini penilaian terhadap aspek belajar pembiasaan yang pada umumnya berkait dengan aspek afektif dan psikomotor dapat dipadukan dan digunakan untuk mengamati unjuk kerja siswa. (Tim UPT PPL UM, 2005).
Tabel 2 Format Pengamatan Aktifitas Belajar Siswa
No Nama Siswa Aspek yang Diamati
Jml Skor Interpretasi
Tanggung Jawab Perhatian Kerjasama
3 2 1 3 2 1 3 2 1 B C K









Keterangan:
Kolom aspek tanggung jawab, perhatian, dan kerjasama diisi dengan membubuhkan tanda ceklis ( V ) pada kolom skor yang sesuai.
Deskriptor
- Tanggung Jawab
a. Siswa melaksanakan perintah guru
b. Siswa mempelajari bagian tugas kelompok yang ditugaskan
c. Siswa mengikuti kegiatan kelompok
- Perhatian
a. Siswa memperhatikan penjelasan materi yang disampaikan guru
b. Siswa memperhatikan petunjuk guru
c. Siswa memperhatikan penjelasan teman
- Kerjasama
a. Siswa saling memberikan ide dan gagasan dalam kegiatan diskusi kelompok
b. Siswa saling membantu kesulitan teman sesama kelompok
c. Siswa bekerjasama mempelajari tugas kelompok
Skor 3 = Apabila semua indikator muncul
Skor 2 = Hanya 2 indikator yang muncul
Skor 1 = Hanya 1 indikator yang muncul
Rentang Skala
7 – 9 = Baik (B)
4 – 6 = Cukup (C)
1 – 3 = Kurang (K)
d. Refleksi
Refleksi merupakan kegiatan menganalisis semua data atau informasi yang dikumpulkan dari penelitian tindakan yang dilaksanakan, sehingga dapat diketahui berhasil atau tidaknya tindakan yang telah dilaksanakan dengan tujuan yang diharapkan.
2. Siklus II
Berdasarkan refleksi pada siklus I, diadakan kegiatan-kegiatan untuk memperbaiki rencana dan tindakan yang telah dilakukan. Langkah-langkah kegiatan pada siklus II pada dasarnya sama seperti langkah-langkah pada siklus I, tetapi ada beberapa perbedaan kegiatan pembelajaran pada siklus II.
a. Perencanaan
Sebagai tindak lanjut siklus I, dalam siklus II dilakukan perbaikan. Penulis mencari kekurangan dan kelebihan pada pembelajaran membuat ringkasan wacana pada siklus I. Kelebihan yang ada pada siklus I dipertahankan pada siklus II, sedangkan kekurangannya diperbaiki. Peneliti memperbaiki rencana pelaksanaan pembelajaran berdasarkan siklus I. penulis juga menyiapkan pedoman wawancara, lembar observasi untuk mengetahui kemampuan siswa memahami Perpindahan dan perubahan energi listrik dengan metode demonstrasi Pelaksanaan Tindakan
Proses tindakan pada siklus II dengan melaksanakan proses pembelajaran berdasarkan pada pengalaman hasil dari siklus I. Dalam tahap ini peneliti melaksanakan proses pembelajaran berdasarkan Tindakan pada siklus I, perbedaannya adalah pada siklus II dilaksanakan dengan cara menyederhanakan materi pembelajaran dan menambahkan media pengajaran dengan cara membagikan contoh ringkasan wacana kepada masing-masing siswa.
b. Pengamatan
Adapun yang diobservasi pada siklus II sama seperti siklus I, meliputi: hasil tes dan nontes ( pengamatan dan wawancara). Pedoman pengamatan pada siklus II memperhatikan instrumen serta kriteria seperti yang terdapat pada siklus I.
c. Refleksi
Refleksi merupakan kegiatan menganalisis semua data atau informasi yang dikumpulkan dari penelitian tindakan yang dilaksanakan, sehingga dapat diketahui berhasil atau tidaknya tindakan yang telah dilaksanakan pada siklus II dengan tujuan yang diharapkan.
3. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan secara deskreptif yaitu hanya mengumpulkan data yang diperoleh melalui pengamatan dan tes hasil belajar di susun, dijelaskan, dan akhirnya di analisis dalam tiga tahapan yaitu:
1. Reduksi Data
Reduksi data merupakan suatu proses pemilihan, pemusatan dan perbaikan pada penyederhanaan data. Pada tahap reduksi data pengamatan terhadap proses pembelajaran energ dan perubahannya.
2. Display Data (Penyajian Data )
Data yang diperoleh melalui pengamatan dan tes hasil belajar berbentuk table dan kalimat sederhana setiap putaran. Sedangkan analisis data kuantitatif menggunakan rata-rata, prosentase dan diagram
a. Rata – rata
Rata – rata digunakan untuk mengetahui peningkatn hasil belajar siswa dengan menggunakn rata – rata skor hasil belajar masing – masing siklus. Adapun rumus mencari rata – rata adalah sebagai berikut.
(Sudjana 2005)
Keterangan :
: Nilai rata –rata hasil belajar siswa pada setiap siklus
: Jumlah nilai seluruh siswa
n : Banyaknya siswa

Untuk mengetahui hasil belajar siswa dapat dilakukan dengan menganalisis data berupa nilai tugas dan nilai tes pada setiap siklus (tes formatif) menggunakan rumus, nilai rata – rata tugas setiap siklus dijumlahkan dengan dua kali nilai rata – rata tes hasil belajar (nilai tes formatif)
NA =
Keterangan :
Na = Nilai Akhir Setiap Siklus (Depdiknas, 2005 : 29)
NT = Nilai Tugas
NH = Nilai Test Akhir Siklus
Modifikasi Depdiknas 2005 : 29

b. Presentase
Persentasi digunakan untuk menggambarkan peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II dengan menggunakan rumus:

Presentasi = %
Keterangan :
a. Selisih skor rata-rata prestasi siswa pada dua siklus
b. Skor rata-rata prestasi siswa pada siklus sebelummnya.
Langkah-langkah memberi penghargaan kelompok:
1. Menentukan nilai dasar (awal) masing-masing siswa. Nilai dasar (awal) dapat berupa nilai tes/kuis awal atau menggunakan nilai ulangan sebelumnya.
2. Menentukan nilai tes/kuis yang telah dilaksanakan siswa bekerja dalam kelompok; misal nilai kuis I, nilai kuis II, atau rata-rata nilai kuis I dan kuis II kepada setiap siswa yang telah kita sebut nilai kuis terkini.
3. Menentukan nilai peningkatan hasil belajar yang besarnya ditentukan berdasarkan selisih nilai kuis terkini atau nilai dasar (awal) masing-masing siswa dengan menggunakan kriteria berikut ini:
Perhitungan Skor Perkembangan
KRITERIA NILAI PENINGKATAN
Nilai kuis/tes terkini turun lebih dari 10 poin di bawah nilai awal. 5
Nilai kuis/tes terkini turun 1 sampai dengan 10 poin di bawah nilai awal. 10
Nilai kuis/tes terkini sama dengan nilai awal sampai dengan 10 di atas nilai awal. 20
Nilai kuis/tes terkini lebih dari 10 poin di atas nilai awal. 30
Sumber : Ratumanan (2002)
Penghargaan kelompok diberikan berdasarkan rata-rata nilai peningkatan yang diperoleh masing-masing kelompok dengan memberikan predikat cukup, baik, sangat baik, dan sempurna
Tingkat Penghargaan Kelompok
Nilai Rata-rata peningkatan kelompok Penghargaan
N<15 Cukup
15 ≤ N < 20 Baik
20 ≤ N < 25 Sangat Baik
N ≥ 25 Sempurna
Sumber : Ratumanan (2002)
c. Diagram
Diagram digunakan untuk menggambarkan peningkatan hasil belajar siswa dalam materi pembelajaran Kondiktor dan Isolator Panas.
3. Conclusion Data ( Kesimpulan )
Data yang telah di analisis kemudian dibuat suatu kesimpulan.
4. Jadwal Penelitian
No. Kegiatan September Oktober Nopember
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Penyusunan Proposal √ √
2. Revisi Proposal √ √
3. Pra Siklus √ √
4. Siklus I √ √
5. Siklus II √ √
6. Kegiatan Akhir √ √













DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S.2002. Prosedur Penelitian suatu pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta

Depdiknas 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

Ismail, 2003. Media Pembelajaran (Model-Model Pembelajaran). Jakarta Direktorat Pendidikan Nasional.
Mustaqim Burhan ,Ayo Belajar IPA Untuk SD Kelas IV Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
Susilo, 2007.Penelitian Tindakan Kelas Yokyakarta: Pustaka book publisher
Tim penyusun modul FKIP Unmul 2008 ,Paikem Samatinda
Trianto 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif – Progresif . Jakarta : Kencana Pernada Media Group.

Uno Hamzah B. 2007. Model Pembelajaran. Jakarta PT. Bumi Aksara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar