Selasa, 26 Juli 2011

Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa Pada Materi Pembelajaran Operasi Hitung Bilangan Bulat Dengan Menggunakan Alat Peraga Mistar Bilangan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dunia pendidikan perlu di tingkatkan melalui berbagai upaya, antara lain dalam bentuk penataran guru, kualifikasi pendidikan guru, penerapan model atau metode pembelajaran, persediaan alat peraga yang cukup, penelitian tentang kesulitan dan kesalahan siswa dalam belajar.
Berkaitan dengan upaya tersebut diatas dan disertai alat komunikasi yang maju, maka dapat disebar luaskan keseluruh Indonesia.
Pendidikan di Indonesia mulai meningkat kualitas pendidikan yang di tingkat dasar sampai ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi, maka dapat dirasakan dampak yang positif Apabila sumber daya manusia mi mulai baik dan disertai dengan didekasi yang tinggi. guru-guru tersebut dapat membuat sarana pendidikan. Yang dimaksud sarana pendidikan disini adalah sumber pelajaran (Buku Pelajaran), kurikulum program pengajaran, dan sebagainya sarana pendidikan yang tersedia dapat digunakan untuk membantu pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.
Pendidikan di tingkat propinsi dapat rnenggunakannya hasil karya guru yang telah disebutkan diatas, maka dapat meningkatkan prestasi hasil belajar.
Pendidikan di wilayah Kabupaten sampai di tingkat Kecamatan, dapat menggunakan sumber atau pedoman pendidikan.
Kurikulum sebagai pedoman penyelenggara kegiatan pembelajaran, yang digunakan sekarang adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 (KTSP 2006), isi dan kurikulum tersebut terdiri dan : Kompetensi Dasar, Standar Kompetensi, Materi Pokok, Indikator, dan Alokasi Waktu. Pada KTSP 2006 materi pokoknya masih sempit, guru harus mampu mengembangkannya agar tujuan materi pembelajaran dapat tercapai secara optimal.
Pendidikan di Sekolah Dasar (SD) merupakan sebagai dasar ilmu, maka penyampaian konsep-konsep dasar harus disesuaikan dengan kemampuan anak, supaya hasil yang dicapai sesuai dengan target kurikulum yang digunakan.
Berdasarkan pengamatan kami sebagai guru SDN No. 019 Samarinda, nilai matematika kelas V-A masih rendah di sebabkan karena kurang minat siswa dalam mempelajari matematika, kurang menguasai materi pelajaran, dan anak kurang latihan mengerjakan soal-soal di rumah. Hal tersebut ternyata mempengaruhi hasil belajar siswa terutama pada materi pembelajaran matematika. Berikut mi nilai matematika kelas V-A pada materi pembelajaran operasi hitung bilangan bulat.
Tabel 1. Nilai Rata – rata opersi hitung bilangan bulat kelas V – A Tahun Pembelajaran 2008 / 2009.
Kelas Nilai rata – rata

V – A

45
Sumber : Dokumen nilai guru kelas V – A SDN. 019 Samarinda

Dilihat dari dokumen nilai hasil belajar matematika kelas V-A SDN No. 019 Samarinda pada semester I, kami sebagai guru kelas V-A merasa belum berhasil dalam kegiatan belajar mengajar (KBM).
Terkait dari permasalahan diatas, penulis ingin melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa Pada Materi Pembelajaran Operasi Hitung Bilangan Bulat Dengan Menggunakan Alat Peraga Mistar Bilangan Di Kelas V-A SDN 019 Samarinda”.

B. Batasan Masalah
Agar ruang lingkup permasalahan dalam penelitian ini tidak terlalu luas, maka peneliti hanya membatasi tentang peningkatan hasil belajar matematika siswa pada materi operasi pembagian bilangan bulat dan alat peraga yang digunakan dalam kegiatan penyampaian materi operasi hitung bilangan bulat adalah alat peraga mistar bilangan.

C. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa pada Materi Pembelajaran Operasi Hitung Bilangan Bulat Dengan Menggunakan Alat Peraga Mistar Bilangan di Kelas V-A SDN 019 Samarinda?”

D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peningkatkan hasil belajar matematika siswa pada materi operasi hitung bilangan bulat dengan menggunakan alat peraga mistar bilangan di kelas V-A SDN. 019 Samarinda.



E. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Bagi siswa : Melatih siswa untuk rajin mengerjakan lembar kerja sekolah supaya hasil belajar meningkat
2. Bagi guru : Menambah pengetahuan dalam mengembangkan alat peraga meqip dan materi pembelajaran matematika
3. Bagi Sekolah : Sebagai nilai tambah dan perbaikan materi pembelajaran.













BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Belajar Matematika
Belajar dianggap sebagai proses dan pengalaman dan latihan. Higgard dan Sanjaya (2007 : 53) mengatakan bahwa belajar adalah proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur, baik latihan di dalam laboratorium maupun di lingkungan alamiah. Belajar bukanlah sekedar mengumpulkan pengetahuan. Sehingga menyebabkan munculnya perubahan perilaku.
Terlepas dan pengertian tentang belajar, Soejadi (2000 : 42) memberikan beberapa pengertian tentang matematika, sebagai berikut :
a. Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak yang terorganisasi secara sistematik
b. Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi
c. Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan berhubungan dengan bilangan.
d. Matematika adalah pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk.
e. Matematika adalah pengetahuan tentang struktur-struktur yang logik.
Belajar maternatika adalah belajar yang berkenaan dengan ide-ide / konsep-konsep dasar abstrak yang diatur menurut aturan yang logis dengan penataran deduktif. Melalui proses belajar matematika, subyek pelajar diharapkan memperoleh pengertian dan mampu mengaplikasikan konsep yang dimiliki dalam situasi yang nyata. Agar terjadi perubahan kemampuan tersebut. perlu faktor pendukung yang dapat mempengaruhi proses belajar yakni faktor yang terdapat dalam din siswa yang disebut faktor internal seperti motivasi, bakat, keinginan kemampuan, dan faktor eksternal seperti guru, sarana dan kondisi lingkungan. Belajar matematika berarti ilmu pasti. Belajar ilmu pasti berarti belajar bernalar. Jadi belajar matematika berarti berhubungan dengan peranan Nurhadi (2004: 82).
Gagne mengatakan bahwa belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi sedemikian rupa sehingga perbuatannya berubah dan waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah mengalami situasi tadi (Purwanto, 2004). Belajar dapat dikatakan jika perubahan itu relatif mantap, harus merupakan akhir dan suatu periode waktu yang cukup lama.
Belajar matematika lebih di katakan pada kemampuan berpikir logik yaitu pengertian konsep-konsep dan struktur matematika. Pelajaran matematika harus dibawa ke belajar bermakna. Dimana siswa dapat rnengetahui makna yang terkandung dalam pelajaran matematika itu sendiri tanpa hams menghafalkan karena matematika bukan suatu pelajaran yang hams dihafailcan. Untuk mengetahui matematika tidak cukup hanya dengan menghafal saja, tetapi harus dengan pengertian guru mempunyai peranan yang penting bagaimana membawa matematika itu sehingga menarik bagi siswa dapat diterima dan di pahami sehingga menghilangkan, anggapan bahwa matematika suatu pelajaran yang sulit dan sangat ditakuti.
Dari beberapa pendapat di atas dapat di artikan bahwa belajar matematika adalah belajar ilmu abstrak yang memerlukan cara yang terpola tertuju pada din siswa, dalam mempelajari matematika tidak cukup bila hanya dibaca dihafal rumusnya secara berulang-ulang, melainkan juga harus melibatkan berbagai kegiatan yang dapat meningkatkan kemampuan daya pikir.
Belajar matematika yaitu suatu usaha perubahan tingkah laku yang diperoleh dan pengalaman yang terorganisasi secara sistematis dan menggunakan penalaran yang logik.

B. Hasil Belajar
Amirin dan Samsu Irawan (2000 43), mengatakan hasil belajar adalah kemajuan yang diperoleh seseorang dalam segala hal akibat dan belajar. Seseorang yang mempelajani suatu melalui proses pembelajaran telah mernperoleh hasil dan apa yang telah dipelajarinya, hasil maksimal yang diperoleh inilah yang dikatakan hasil belajar.
Sudjana (2001 : 82), menjelaskan hasil belajar adalah kemampuan — kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajamya. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2002 : 95), hasil belajar merupakan hasil dan suatu intruksi tindak belajar dan tindak mengajar.
Hasil belajar menentukan tercapai tidaknya tujuan pendidikan yang diaplikasikan dalam bentuk penilaian dalam rangka memberikan pertimbangan apakah tujuan pendidikan tersebut tercapai. Penilaian hasil belajar tersebut dilakukan terhadap proses belajar mengajar untuk mengetahui tercapainya tidaknya tujuan pengajaran dalam hal penguasaan bahan pelajaran oleh siswa, selain itu penilaian tersebut dilakukan untuk mengetahui keefektifan proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru. Dengan kata lain rendahnya hasil belajar yang dicapai siswa tidak hanya disebabkan oleh kurang berhasilnya guru mengajar.
Djamarah dan Zain (2002), menjelaskan belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan artinya, tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap.
Sujana (2001), mengatakan hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.
Dalam sistem pendidikan rasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikulum maupun tujuan intruksional, menggunakan kiasifikasi hasil belajar matematika dan Bloom (dalam Sujana, 2001) secara garis besar menjadi tiga ranah yaitu:
1. Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dan enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sentesis, dan evaluasi.
2. Ranah efektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dan lima aspek yakni, penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi dan internalisasi.
3. Ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak yang terdiri dan enam aspek yakni, gerakan refleksi, ketepatan, gerakan keterampilan kompleks dan gerakan ekspresif dan interpretatif.
Dimyanti dan Mujiono (2002), mengatakan hasil belajar merupakan hasil dari suatu intraksi tindak belajar dan tindak mengajar.
Dan beberapa pendapat diatas maka hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti suatu pembelajaran matematika.

C. Ketuntasan Belajar Matematika
Melalui belajar tuntas ini, siswa yang sudah menguasai materi pelajaran perlu diberikan kegiatan pembelajaran pengayaan (enrichment), sedangkan kepada siswa yang belum menguasai materi pelajaran perlu diberikan kegiatan.
Pembelajaran perbaikan (remedial). sehingga sebagian besar atau seluruh siswa dapat mencapai ketuntasan belajar yang diharapkan (Muhtar dan Rusmini, 2003).
Pembelajaran remedial merupakan suatu bentuk pembelajaran yang bersifat mengobati, menyembuhkan atau membetulkan pembelajaran dan membuatnya menjadi lebih baik dalam mencapai tujuan pembelajaran yang optimal, terutama di peruntukkan bagi para siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar atau belum dapat mencapai ketuntasan belajar. Pembelajaran pengayaan adalah pembelajaran yang bersifat memperluas. memperdalam dan menunjang satuan pelajaran dan di peruntukkan btii siswa yang telah tuntas belajar. Melalui pembelajaran remedial dan pengayaan mi, perhatian guru tidak hanya tertuju pada pemberian bantuan dan bimbingan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar, tetapi juga ditujukan kepada siswa yang memiliki kemampuan belajar yang lebih tinggi dan pada yang dituntut oleh program standar, agar kelebihan yang mereka miliki tidak sia-sia (Muktar dan Rusmini, 2003).
Untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap tujuan pembelajaran dan suatu unit pelajaran tertentu tersebut dapat di ukur melalui tes hasil belajar siswa.
Dan pendapat di atas dapat disimpulkan, ketuntasan belajar matematika adalah tingkat penguasaan siswa terhadap tujuan pembelajaran.

D. Alat Peraga
Dalam kegiatan belajar-mengajar guru harus mampu menjelaskan konsep kepada siswanya. Usaha mi dapat dibantu dengan alat peraga matematika, karena dengan bantuan alat-alat tersebut, yang sesuai dengan topik yang diajarkan, konsep akan dapat lebih mudah dipahami lebihjelas.
Salah satu peranan alat peraga dalam matematika adalah meletakan ide-ide dasar konsep. Dengan bantuan alat peraga yang sesuai, siswa dapat memahami ide-ide dasar yang melandasi sebuah konsep. mengetahui cara membuktikan suatu rumus atau teorema, dan dapat menarik suatu kesimpulan dan hasil pengamatannya.
Setelah siswa mendapat kesempatan terlibat dalam proses pengamatan dengan bantuan alat peraga, maka dapat diharapkan akan tumbuh minat belajar matematika pada dirinya, dan akan menyenangi konsep yang disajikan, karena sesuai dengan tahap perkembangan mentalnya, yang masih menyenangi permainan.
Selain tumbuhnya minat, siswa juga dapat dibangkitkan motivasinya. Melalui demonstrasi penggunaan alat peraga matematika, guru dapat merangsang munculnya motivasi dalam din siswa untuk mempelajari materi lebih lanjut. Siswa yang merasa penasaran dan ingin tahu lebih jauh tentang konsep yang dipelajarinya akan terus berusaha mempelajari konsep itu lebih mendalam.
Selain itu, pengajaran dengan menggunakan alat peraga akan dapat memperbesar perhatian siswa terhadap pengajaran yang dilangsungkan, karena mereka terlibat dengan aktif dalam pengajaran yang dilaksanakan. Dengan bantuan alat peraga konsentrasi belajar dapat lebih ditingkatkan.
Alat peraga dapat pula membantu siswa untuk berpikir logis dan sistematik, sehingga mereka pada akhimya memiliki pola pikir yang diperlukan dalam mempelajari matematika.
Dengan bantuan alat peraga matematika, siswa akan semakin mudah memahami hubungan antara matematika dan lingkungan alam sekitar. Siswa akan semakin mudah memahami kegunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Diharapkan, dengan adanya kesadaran seperti in mereka terdorong untuk mempelajari matematika lebih lanjut. Misalnya dengan penggunaan alat peraga dalam penjelasan konsep ruang berdimensi tiga. Siswa akan semakin terlatih daya tilik ruangnya, sehingga pada akhirnya mampu menemukan atau menyadari hubungan antara matematika dengan lingkungan sekitar.
Apakah manfaat alat peraga dalam pengajaran matematika ? Pertanyaan mi sering muncul, terutarna kalangan pendidikan yang mempunyai perhatian dalam pengembangan proses belajar-mengajar.
Beberapa hasil penelitian, penggunaan alat peraga menunjang penjelasan konsep matematika. Penelitian yang dilaksanakan oleb Higgins dan Suydam tahun 1999 (dalam Ruseffendi, 2000), memberikan hasil-hasil berikut
1. Secara umum hasil penelitian yang dilaksanakan tersebut mengisyaratkat bahwa alat peraga berfungsi efektif dalam memotivasi belajar siswa.
2. Terdapat perbandingan keberhasilan 6 : I antara pengajaran yang menggunakan alat peraga dengan yang tidak menggunakannya.
3. Memanipulasi (mengutak-atik) alat peraga sangat penting bagi siswa.
4. Terdapat sedikit bukti yang mengambarkan bahwa memanipulasi alat peraga hanya berhasil bagi siswa-siswa yang tingkat rendah.
5. Gambar dan benda, sebagai alat peraga dalam pengajaran, memiliki kegunaan yang tidak jauh berbeda dengan bendanya sendiri.
Penggunaan alat peraga harus dilaksanakan secara cermat. Jangan sampai konsep menjadi lebih unit akibat diuraikan dengan bantuan alat peraga. Alat peraga harus digunakan secara tepat, sesuaikan dengan sifat materi yang disampaikan, metode pengajaran yang digunakan dan tahap perkembangan mental anak.
Penggunaan alat peraga harus mampu menghasilkan generalisasi atau kesimpulan abstrak dan presentasi kongkrit. Maksudnya, dengan bantuan alat peraga yang sifatnya kongkrit, siswa diharapkan mampu menarik kesimpulan.
Alat peraga yang digunakan tanpa persiapan bisa mengakibatkan habisnya waktu dan sedikitnya materi yang dapat disampaikan. Jika mi yang terjadi, maka dapat dikatakan bahwa alat peraga yang kita pakai atau cara penggunaan alat peraga yang kita lakukan tidak mencapai sasaran. Konsep yang menjadi semakin rumit untuk dipahami sebagai akibat digunakannya alat peraga, adalah suatu hal yang keliru. Sesuatu topik tertentu tidak memerlukan penggunaan alat peraga, penggunaan alat peraga tidak harus dilaksanakan, sebab alat peraga pada hakikatnya tidak harus digunakan untuk setiap penjelasan topik-topik dalam matematika.
Alat peraga harus dibuat sebaik mungkin, menarik untuk diamati, dan mendorong siswa untuk sifat penasaran, sehingga diharapkan motivasi belajarnya semakin meningkat.
Alat peraga juga diharapkan menumbuhkan daya imajinasi dalam diri siswa. Misalnya alat peraga benda-benda ruang dapat mendorong siswa dalam meningkatkan daya tilik ruangnya, mampu membandingkannya dengan benda-benda sekitar dalam lingkungannya sehari-hari, dan mampu menganalisis sifat-sifat benda yang dihadapinya itu.
Dari uraian di atas dapat disarikan bahwa beberapa faedah penggunaan alat peraga di antaranya adalah membantu guru dalam :
1. Memberikan penjelasan konsep.
2. Merumuskan atau membentuk konsep.
3. Melatih siswa dalam keterampilan.
4. Memberi penguatan konsep pada siswa (reinforcement).
5. Melatih siswa dalam pemecahan masalah.
6. Mendorong siswa untuk berpikir kritis dan analitik.
7. Mendorong siswa untuk melakukan pengamatan terhadap suatu objek secara sendiri.
8. Melatih siswa untuk belajar menemukan suatu ide-ide barn dan relasinya dengan konsep-konsep yang telah diketahuinya.
9. Melatih siswa dalam melakukan pengukuran.
Berkaitan dengan penjelasan di atas alat peraga secara umum dapat diartikan sebagai alat bantu yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.

E. Alat Peraga Meqip
Meqip kepanjangan dari mathematies Education Quality Improvement Program. Alat peraga meqip dalam penelitian tindakan kelas ini adalah suatu media atau alat yang berfungsi sebagai program peningkatan qualitas pendidikan matematika di sekolah dasar adapun jenis – jenis meqip digunakan dalam pembelajaran matematika adalah sebagai berikut :
1. Alat peraga mistar bilangan
2. Alat peraga papan KPK
3. Alat peraga pecahan
4. Alat percaha luar bola
5. Alat peraga setiga, daerah segitiga dan macamnya
6. Alat peraga segiempat, daerah segiempat dan macamnya
7. Alat peraga luas daerah persegi panjang
8. Alat peraga luas daerah segitiga dengan pendekatan luas daerah persegi panjang
9. Alat peraga luas daerah jajargenjang dengan pendekatan luas daerah persegi panjang.
10. Alat peraga semetri lipat dan sebagainya.
Yang digunakan dalam operasi hitung bilangan bulat menggunakan alat peraga mistar bilangan.

F. Materi Pembelajaran Matematika
1. Operasi Penjumlahan
Operasi Hitung Bilangan Bulat.
Prinsip kerja yang harus dilakukan yang harus diperhatikan dalam melakukan operasi penjumlahan dengan menggunakan alat peraga mistar bilangan sebagai berikut :
a. Posisi awal benda yang menjadi model harus berada pada skala nol.
b. Jika bilangan pertama berada positif maka bagian muka model menghadap ke bilangan positif dan kemudian melangkahkan model tersebut ke skala yang sesuai dengan besarnya bilangan pertama tersebut. Proses yang sama juga dilakukan apabila bilangan pertamanya negatif bertanda negatif.
c. Jika model di langkahkan Maju, dalam prinsip operasi hitung istilah maju diartikan sebagai tambah (+) silangkan jika model di langkahkan mundur, istilah mundur diartikan sebagai kurang (-)
Contoh : I
3 + 2 = ….?
1. Tempatkan model pada skala nol dan menghadap ke arah bilangan positif.

-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4

Gb.1 Garis Bilangan pada operasi penjumlahan
Sumber : (Gatot Muhsetyo 2007)
2. Langkahkan model tersebut satu langkah demi satu langkah maju dari 0 sebanyak 3 skala. Hal ini untuk menunjukan bilangan pertama dari operasi tersebut yaitu positif 3

-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4
3. Karena penjumlahannya merupakan bilangan positif, maka pada skala tersebut posisi muka model tetap menghadap ke bilangan pasif dan melangkahkan maju sebanyak dua skala.


-5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6

4. Posisi akhir dari model pada langkah ke 3 di atas terletak pada skala 5 dan ini menunjukan hasil dari 3 + 2 = 5.
Contoh = 2
3 + (-5) = …?
Untuk menjawab soal diatas perlu diperhatikan langkah – langkahnya.
1. Tempatkan model pada skala nol dan menghadap ke bilangan positif.

-6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6
2. Langkahkan model tersebut satu langkah demi satu langkah maju dari 0 sebanyak 3 skala. Hal ini untuk menunjukan bilangan pertama dari operasi tersebut, yaitu positif 3


-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6
3. Karena bilangan penjumlahannya merupakan bilangan negatif, maka pada posisi model balik ke arah ke bilangan negatif.


-5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6

4. Karena operasi penjumlahan, yaitu oleh bilangan (-5) berarti model tersebut harus di langkahkan maju dari angka 3 satu langkah demi satu langkah sebanyak 5 skala.



-6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5




5. Posisi terakhir dari model pada langkah ke 4 di atas terletak pada skala -2 dan ini menunjukan hasil dari 3 + (-5).
Contoh : 3
(-2) + (-5) =….?
1. Tempatkan model pada skala nol dan menghadap ke arah bilangan negatif.


-7 6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7

2. Model melangkah dari bilangan nol ke bilangan -2. Untuk menunjukkan bilangan pertama adalah negatif dua.


-7 6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5

3. Langkahkan model tersebut dari negatif 2 maju lima skala ke bilangan -7.


-7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6

4. Dari langkah ke 3 di atas terletak pada skala -7 dan ini menunjukan -2 + (-5). Jadi -2 + (-5) = - 7.
2. Operasi pengurangan bilangan bulat.
Misalkan a dan b bilangan bulat, untuk mencari hasil a – b dapat dilakukan peragaan sebagai berikut.
a. Letak model menghadap ke kanan
(menghadap bilangan positif)
Pada posisi nol (0)
Misal : 3 – 2 = ….?


-3 -2 -1 0 1 2 3 4




Gb. 2 Garis Bilangan pada Operasi Pengurangan
Sumber : (Gatot Muhsetyo 2007)
b. Model melangkah ke 3 skala


-5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3




c. Model tersebut mundur 2 skala dari titik 3.


-2 -1 0 1 2 3 4

d. Langkah ke tiga di atas menunjukan operasi 3 – 2 = 1.
Contoh : 2.
- 2 – 5 =…?
1. Model pada skala 0 dan menghadap ke arah bilangan negatif.


-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4






2. Model melangkah maju dari bilangan 0 ke bilangan -2


-5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5





3. Model berbalik arah menghadap ke bilangan positif.



-6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5




4. Model setelah berbalik arah kemudian mundur 5 satuan dari bilangan negatif 2.


-8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6

5. Dari langkah ke 4 di atas terletak pada skala – 7 ini menunjukkan - 2 – 5. Jadi - 2 – 5 = - 7.
Contoh : 3

- 2 – (-5) = …?
1) Model pada skala nol menghadap ke arah bilangan negatif.


-5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5







-5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6
2) Model melangkah dari bilangan 0 ke bilangan -2.



3) Model mundur 5 satuan dari – 2.



-5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6



4) Dari langkah ke 3 diatas menunjukkan hasil dari –2 – (-5). Jadi – 2 – (-5) = 3.
3. Operasi Hitung Perkalian
Pada bilangan bulat.
Sebelum membahas perkalian bilangan bulat, pada operasi perkalian bilangan cacah, telah diketahui bahwa “3 x 4” (yang dibaca tiga kali empat atau) diartikan sebagai 4 + 4 + 4 sedangkan 4 x 3 (yang dibaca empat kali tigaan) diartikan “3 + 3 + 3 + 3” dari uraian yang singkat ini dapat kiita katakan bahwa sebenarnya perkalian pada suatu bilangan dapat diartikan sebagai penjumlahan berulang, berarti untuk mencari hasil dari axb sama halnya dengan cara menunjukan penjumlahan b + b + b +…. sebanyak a kali.
Berpedoman pada prinsip tersebut maka dapatlah diperlihatkan bentuk – bentuk peragaan perkalian bilangan bulat menggunakan mistar bilangan dengan berbagai kemungkinannya yaitu :
1. a x b dengan a > 0 dan b > 0, maka prinsip kerja yang harus di jalankan adalah :
a. Pasang model pada skala 0 dan menghadap ke bilangan positif.
Misalnya.


-1 0 1 2 3 4 5 6
Gb. 3. Garis Bilangan pada Operasi Perkalian
Sumber : (Gatot Muhsetyo, 2007)
b. Langkahkan model maju sebanyak a langkah, dan setiap langkah sebanyak b skala


-1 0 1 2 3 4 5 6
c. Kedudukan akhirnya model menunjukan hasil perkalian
2. a x b dengan a > 0 dan b < 0, maka prinsip kerja yang harus dijalankan adalah :
a. pasang model pada skala 0 dan menghadap ke bilangan negatif.
Misal : 3 x – 2


-7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0




b. Langkahkan model maju sebanyak a langkah, dan setiap langkah, sebanyak b skala.


-7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1




3. a x b dengan a < b dan b > 0, maka prinsip kerja yang harus dijalankan adalah :
a. Pasang model pada skala 0 dan menghadap ke bilangan positif
Misal : -3 x 2

-7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1
b. Langkahkan model mundur sebanyak a langkah, dan setiap langkah sebanyak b skala


-7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1


c. kedudukan akhir model menunjukkan hasil perkalian.
4. a x b dengan a < 0 dan b < 0, maka prinsip kerja yang harus dijalankan adalah :
a. pasang model pada skala 0 dan meghadap pada bilangan negatif.
Misal : -3 x -2


-1 0 1 2 3 4 5 6 7
b. Langkahkan model mundur sebanyak sebanyak a langkah, dan setiap langkah sebanyak b skala.



-1 0 1 2 3 4 5 6 7
c. Kedudukan akhir model menunjukan hasil perkalian.

6. Operasi Pembagian Pada Bilangan Bulat.
Operasi pembagian pada dasarnya sama dengan mencari faktor (bilangan) yang belum diketahui. Karenanya bentuk pembagian dapat dipandang sebagai bentuk operasi perkalian dengan salah satu faktornya belum diketahui. Sebagai contoh, kalau dalam perkalian 3x4 = n tentu nilai n = 12.dalam pembagian hal tersebut dapat dinyatakan dengan bentuk 12 :3 = n atau 12 : 4 = n. dari bentuk ini, bagaimanakah proses mencari nilainnya?.
Seperti halnya pada operasi hitung penjumlahan, pengurangan, dan perkalian, maka pada operasi hitung pembagian bilangan bulat pada tahap pengenalan konsep secara konkret juga dapat didekati dengan menggunakan alat peraga mistar bilangan. Selanjutnya untuk memperagakan hasil pembagian bilangan bulat dengan menggunakan mistar bilangan. Prinsip kerja yang harus diperhatikan adalah
Contoh : I
1) - 6 : 2 =…?
1. Dari soalnya diketahui b > 0 berarti posisi awal model menghadap ke bilangan positif pada skala 0.


-7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6




Gb. 4 Garis Bilangan pada Operasi Pembagian
Sumber : (Gatot Muhsetyo 2007)
2. Untuk sampai ke bilangan -6 model bergerak mundur sebanyak 3 langkah dengan masing – masing langkah sebanyak 2 skala (bilangan pembaginya dua).


-6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2

3. Hasil dari -6 : 2 = -3 (diperlihatkan oleh mundurnya model sebanyak 3 langkah).
Contoh : 2.
2) - 6 : -2 =…..?
1. Dari soalnya diketahui b < 0 berarti posisi awal model menghadap ke bilangan negatif pada skala 0.

-6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2
2. Untuk sampai ke bilangan - 6 model beregerak maju sebhanyak 3 langkah dengan masing – masing langkah sebanyak 2 skala ( bilangan pembaginya -2).


-6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2
3. Hasil dari -6 : -2 = 3 (diperlihatkan oleh majunya model sebanyak 3 langkah).
5. Operasi Hitung Campuran Bilangan Bulat
Langkah – langkah dalam mengerjakan hitungan campuran. Urutan langkahnya sebagai berikut :
a. Pengerjaan hitung dalam kurung
b. Pengerjaan perkalian dan pembagian (urut dari depan)
c. Pengerjaan penjumlahan dan pengurangan (urut dari depan atau dibuat penjumlahan semua).
Contoh : 1
a. Berikut ini perhitungannya,
Uang mereka mula – mula = Rp. 45.000,00
Harga 4 bet = 4 x Rp. 10.500,00
Harga 5 bola = 5 x Rp. 1.250,00
Harga seluruhnya = 4 x Rp. 10.500,00 + 5 x Rp.1.250,00
Uang mereka sekarang
= Rp.45.000,00 - (4 x Rp.10.500,00 + 5 x Rp.10.500,00 x Rp.1.250,00)
= Rp. 45.000,00 – (Rp. 42.000,00 + Rp. 6.250,00)
= Rp. 45.000,00 – Rp. 48.250,00
= Rp. 3.250,00
Berarti uang mereka kurang Rp. 3. 250,00.
Contoh : 2
b. 1850 + 24 x (-59) + 1.975
= 1.850 - ….+ 1.975
=……..
Jadi, 1.850 + 24 x (-59) + 1.975 = ......
13.750 – 855 x (-35) + 67.200 : (-24)
= 13.750 - …..+…..
= … + …
= ….
Jadi, 13750 – 855 x (-35) + 67.200 : (24) =….
6. Operasi hitung bilangan bulat dan penggunaan sifat-sifatnya
a. Sifat Pertukaran (Komutatif)
Sifat komutatif berlaku pada penjumlahan dan perkalian. Bentuk umum sifat komutatif pada penjumlahan dan perkalian.


1) Bukti Sifat Komutatif
Bukti : x + y = y +x , x, y € z
Bukti :
Misal x, y € z maka ada y-1, x-1 € z (sifat invers)
Misal x + y = c1, dan y-1, x-1 = c2
Maka c2, c1 € z (sifat tertutup)
c2 + c1= (x+y) + (y-1 + x-1)
= x + (y + y-1) + x-1 (sifat asosiatif)
= x + 0 + x-1 (sifat identitas)
= x + x-1
= 0
c2 + c1 = (y-1 + x-1) + (x+y) +
= y-1 + (x + x-1) + y (sifat asosiatif)
= y-1 + 0 + y (sifat identitas)
= y-1 + y
= 0
Jadi c1 + c2 = c2 + c1
Bukti : x + y = y + x , x, y € z (sifat invers)
Bukti :
Misal x, y € z maka ada x-1 , y-1 € z
Misal x + y = c1, dan y-1, x-1 = c2
x-1 + y-1 = c3 dan y + x = c4
maka c1, c2, c3, c4 (sifat tertutup)
c1 + c4
Bukti : x . y = y . x
Bukti :
x . y = ( y + y + y + … y)

y suku
= ( y + y + y + … y)
x suku
= x . y
a dan b sembarang bilangan bulat. Contoh :
a. 10 + 5 = 5 + 10
b. -2 + 4 = 4 + (-2)
c. 2 x 5 = 5 x 2
d. -5 x 2 = 2x – 5
Bentuk soal cerita yang berhubungan dengan sifat komutatif.
Siti mempunyai 4 kancing baju berwarna hijau dan 2 kancing baju berwarna merah. Sedangan Tini mempunyai 2 kancing baju berwarna merah dan 4 kancing baju berwarna hijau. Samakah jumlah kancing baju yang dimiliki Siti dan Tini?
Kancing baju milik Siti Kancing baju milik Tini






Perhatikan gambar diatas
Ternyata jumlah kancing baju milik Siti sama dengan kancing baju milik Tini. Jadi 4 + 2 = 2 + 4
Cara penjumlahan cara ini menggunakan sifat komutatif.
Soal cerita yang berhubungan dengan sifat komutatif (pertukaran) pada perkalian. Jumlah kancing baju Siti dan Tini sama yaitu 6 biji. Kancing baju Siti dimasukkan ketiga kantong plastik. Setiap kantong berisi 2 biji kancing baju. Kancing baju Tini dimasukkan kedua. Kantong plastik setiap kantong berisi 3 biji kancing baju.
Kancing baju milik Siti.

Dapat ditulis
Kancing baju Siti = 2 + 2 + 2
= 3 x 2
= 6
Kancing baju milik Tini


Gb. 6 Kancing Baju
Sumber : ( Nur Aksin 2008 )
Dapat ditulis
Kancing baju Tini = 3 + 3
= 2 x 3
= 6
Dari uraian diatas dapat ditulis bentuk kalimat matematika 3 x 2 = 2 x 3
b. Sifat asosiatif (pengelompokkan)
Sifat pengelompokkan ini berlaku pada penjumlahan dan perkalian. Bentuk umum dari sifat pengelompokkan baik pada penjumlahan dan perkalian dapat ditulis berikut ini :


2) Sifat Asosiatif
Bukti :
(a + b) + c = a + (b + c)
Maka a, b, c € z (sifat tertutup)
Bukti :
Misal a + b = d d € z

Maka b = d – a ……………………. Persamaan 1

misal b + c = e e € z

maka b = e – c ………………………… Persamaan 2
Dari persamaan 1 dan 2
diperoleh :
d – a = e – c
d = a + e – c
(a + b) + c = d + c
= a – c + e + c
= a + e
= a + (b + c)
Jadi terbukti bahwa :
(a+ b) + c = a (b + c)
a ; b dan c adalah bilangan bulat. Contoh :
a. (2 + (1)) + 3 = 2 + (-1 + 3)
b. (2 x 3) x 5 = (2 x 5) x 3
c. Sifat distributif (penyebaran)
Sifat penyebaran berlaku pada perkalian terhadap penjumlahan dan perkalian terhadap pengurangan.
Bentuk umum perkalian terhadap penjumlahan yaitu :
a x (b + c) = (a x b) + (a x c)
Bukti :
a (b + c) = ab + ac
Bukti : a, b, c €
A (b + c) = (b + c) + (b + c) + (b + c) … + (b + c)
sebanyak a suku
= (b + b + b + … + b) + (c + c + c… + c)
sebanyak a suku sebanyak a suku
= ab + ac
Jadi terbukti a (b + c) = ab + ac
a, b, dan c bilangan bulat.
Contoh :
3 x (6 + 4) = (3 x 6) + (3 x 4)
Bentuk umum perkalian terhadap pengurangan yaitu :
a x (b - c) = (a x b) - (a x c)
a, b, dan c bilangan bulat.
Contoh dari sifat distributif (penyebaran)
a. (3 x 4) + (3 x 6) = 3 x (4 + 6)
Angka pengali disatukan
Perhitungan dilakukan dengan cara menjumlahkan kedua angka yang dikalikan (4 + 6) kemudian hasilnya dikalikan dengan angka pengali (3) 3 x (4 + 6) = 3 x 10 = 30
Mengapa cara ini digunakan karena menghitung 3 x (4 + 6) = 3 x 10 lebih mudah dari pada menghitung (3 x 4) + (3 x 6).
b. 15 x (10 + 2) = (15 x 10) + (15 x 2)
Angka pengali dipisahkan
Perhitngan dilakukan dengan cara kedua angka yang dijumlah (10 dan 2) masing-masing dikalikan dengan angka pengali (15), kemudian hasilnya dijumlahkan.
15 x (10 + 2) = (15 x 10) + (15 x 2)
= 150 + 30
= 180
Cara ini juga mempermudah penghitungan karena menghitung (15 x 10) + (15 x 2) = 150 + 30 lebih mudah daripada menghitung 15 x (10 + 2) = 15 x 12.
d. Sifat Komutatif (pertukaran) pada penjumlahan
a) a + b = b + a
b) Sifat komutatif perkalian
a x b = b x a
c) Sifat asosiatif perkalian
(a x b) x c = a x (b x c)
d) Sifat asosiatif penjumlahan
(a + b) + c = a + (b + c)
e) Sifat distributif perkalian terhadap penjumlahan
a x (b + c)= (a x b) + (a x c)
f) Sifat distributif perkalian terhadap pengurangan
a x (b – c) = (a x b) – (a x c)
g) Untuk setiap a ada dengan tunggal elemen O dalam B sehingga a + O = O + a = a, O disebut elemen identitas penjumlahan.
h) Untuk setiap a, ada dengan tunggal elemen I dengan B sehingga a x I = I x a = a, I disebut elemen identitas perkalian.

5. Membulatkan hasil operasi hitung ke puluhan, dan ratusan terdekat.
1. Pembulatan bilangan pada puluhan terdekat.
Langkah I
Jika satuan 1, 2, 3, dan 4 dihilangkan.
Langkah II
Jika satuan 5, 6, 7, 8, dan 9 dibulatkan menjadi puluhan
Contoh :
44 dibulatkan menjadi 40
Sebab satuannya adalah 4 sesuai pada langkah I.
45 dibulatkan menjadi 50.
Sebab satuannya adalah 5 sesuai dengan langkah ke-2.
Operasi penjumlahan dalam penaksiran puluhan terdekat.
Contoh :
44 + 26 =
Sebelum menjumlahkan lakukan dulu pembulatan.
44 dibulatkan menjadi 40.
26 dibulatkan menjadi 30
Jadi 44 + 26 = 40 + 30
= 70
2. Pembulatan bilangan pada ratusan terdekat.
Langkah I
Jika puluhan 1, 2, 3, dan 4 dihilangkan puluhan 5, 6, 7, 8 dan 9 dibulatkan kedalam ratusan.
Contoh :
175 bulatkan menjadi 200

G. Kerangka Berpikir
Matematika merupakan salah satu ilmu dasar atau ilmu murni yang kini telah berkembang pesat baik materi maupun kegunaannya. Dengan mempelajari matematika diharapkan siswa dapat mengembangkan pola pikir logis, rasional, sestimatis dan kritis dapat menggunakan matematika dalam kehidupan sehari –hari dan dalam mempelajari ilmu pengetahuan.
Proses pembelajaran mempunyai tujuan, yaitu untuk meningkatkan hasil belajar matematika dari yang tidak tau menjadi tau dan dari yang tidak mengerti menjadi mengerti.
Untuk mencapai tujuan tersebut pada saat pembelajaran berlangsung dalam memberikan materi matematika sebaiknya digunakan cara mengajar dan kemampuan lain yang merupakan dasar bagi seorang guru dalam pembelajaran.

H. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka berpikir dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut. Dengan menggunakan alat peraga mistar bilangan pada materi pembelajaran operasi hitung bilangan bulat maka hasil belajar matematika siswa kelas V-A SDN. 019 di tingkatkan.


BAB III
METODELOGI PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian
Penelitian Tindakan kelas (PTK) merupakan proses pengkajian melalui sistem berdaur dari berbagai kegiatan pembelajaran yang bertujuan untuk memberikan solusi berupa tindakan untuk mengatasi permasalahan pembelajaran. Adapun prosedur berdaur pelaksanaan PTK itu dapat digambarkan sebagai berikut :























Gambar 7. Alur dalam Penelitian Tindakan Kelas
Sumber : Tim Pelatihan PGSM 1999

Secara rinci prosedur pelaksanaan rancangan penelitian tindakan kelas untuk setiap siklus dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Permasalahan
Permasalahan penelitian tindakan kelas (PTK) pada siklus I
1. Nilai dasar yang belum mencapai ketuntasan belajar
2. Proses pembelajaran belum baik
2. Perencanaan
Pada tahap perencanaan, peneliti merencanakan kegiatan yang akan dilakukan pada Penelitian Tindakan Kelas (PTK), adapun kegiatan yang akan dilakukan dalam perencanaan adalah sebagai berikut :
Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran
Membuat skenario
Membuat alat evaluasi
Membuat lembar observasi
3. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap pelaksanaan tindakan kegiatan yang dilaksanakan adalah melakukan skenario pembelajaran yang telah direncanakan, yang bertindak sebagai guru dalam penelitian ini adalah peneliti sedangkan yang bertindak sebagai observator adalah guru matematika kelas V – A. pelaksanaan penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam tiga siklus. Setiap siklus dilaksanakan dalam 2 pertemuan kemudian pertemuan terakhir pada masing – masing siklus diberikan tes hasil belajar. Waktu pertemuan 2 jam pelajaran 70 menit.
4. Observasi
Pada observasi, penelitian sebagai guru pengajar melakukan tindakan yaitu pembelajaran operasi hitung bilangan pecahan sedangkan untuk mengobservasi tindakan yang sedang dilakukan oleh teman guru dan aktivitas siswa di dalam kelas dilakukan oleh guru matematika. Dengan menggunakan lembar observasi untuk mengobservasi hasil belajar siswa dengan menggunakan tes.
Analisis Analisis dokumen yang berupa hasil tes belajar yang diberikan kepada siswa pada setiap putaran catatan lapangan digunakan untuk menganalisis tindakan selama pembelajaran berlangsung. Sedangkan analisis dokumen digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa dari tes yang diberikan untuk setiap putaran.
5. Analisis
Analisis dokumen yang berupa hasil tes belajar yang diberikan kepada siswa pada setiap putaran. Catatan lapangan digunakan untuk menganalisis tindakan selama pembelajaran berlangsung, sedangkan analisis dokumen digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa dari tes yang diberikan untuk setiap putaran.
6. Refleksi
Pada tahap refleksi, peneliti dan guru mendiskusikan hasil tindakan yang telah dilaksanakan, kemudian bila perlu merevisi tindakan sebelumnya untuk dilaksanakan pada tahap berikutnya.

B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) akan dilaksanakan dalam semester I bulan Juli 2009 di SDN. No. 019 Samarinda.

C. Subjek dan Objek
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VA semester I SDN. No. 019 Samarinda yang berjumlah 36 siswa.
Objeknya adalah penggunaan alat peraga meqip pada materi pembelajaran operasi hitung bilangan bulat.

D. Teknik Pengumpulan Data
Sesuai dengan tujuan penelitian, maka pengumpulan data di peroleh melalui :
1. Observasi dilakukan pada tahap perencanaan dan selama kegiatan pembelajaran setiap siklus.
2. Tes dilaksanakan pada setiap siklus untuk melihat kemampuan pemecahan masalah siswa pada materi yang telah di ajarkan.
3. Dokumentasi nilai yakni data nilai tes yang diberikan pada awal pembelajaran digunakan sebagai perbandingan dengan tes hasil belajar pada akhir siklus I.

E. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan secara deskreptif yaitu hanya mengumpulkan data yang diperoleh melalui observasi dan tes hasil belajar di susun, dijelaskan, dan akhimya di analisis dalam tiga tahapan yaitu:
1. Reduksi Data
Reduksi data merupakan suatu proses pemilihan, pemusatan dan perbaikan pada penyederhanaan data. Pada tahap reduksi data observasi pengamatan terhadap proses pembelajaran operasi hitung bilangan bulat.
2. Pengajian Data
Data yang diperoleh melalui observasi dan tes hasil belajar berbentuk table dan kalimat sederhana setiap putaran. Sedangkan analisis data kuantitatif menggunakan rata-rata, prosentase dan diagram
a. Rata – rata
Rata – rata digunakan untuk mengetahui peningkatn hasil belajar siswa dengan menggunakn rata – rata skor hasil belajar masing – masing siklus. Adapun rumus mencari rata – rata adalah sebagai berikut.
(Sudjana 2005)
Keterangan :
: Nilai rata –rata hasil belajar siswa pada setiap siklus
: Jumlah nilai seluruh siswa
n : Banyaknya siswa

Untuk mengetahui hasil belajar siswa dapat dilakukan dengan menganalisis data berupa nilai tugas dan nilai tes pada setiap siklus (tes formatif) menggunakan rumus, nilai rata – rata tugsa setiap siklus dijumlahkan dengan dua kali nilai rata – rata tes hasil belajar (nilai tes formatif)
NA =
Keterangan :
Na = Nilai Akhir Setiap Siklus (Depdiknas, 2005 : 29)
NT = Nilai Tugas
NH = Nilai Test Akhir Siklus
Modifikasi Depdiknas 2005 : 29
b. Presentase
Menentukan tingkat kemampuan siswa secara menyeluruh dengan menggunakan rumus.
M = ( Purwanto 2004 )
Keterangan :
M = Besarnya rata – rata dalam persen
x = Jumlah siswa yang termasuk kategori mampu
N = Jumlah siswa secara keseluruhan
c. Diagram
Diagram digunakan untuk menggambarkan peningkatan hasil belajar siswa dalam materi pembelajaran matematika pada operasi hitung bilangan bulat.
3. Kesimpulan
Data yang telah di analisis kemudian dibuat suatu kesimpulan.
F. Indikator Peningkatan
Peningkatan nilai rata – rata akhir setiap siklus dari nilai rata–rata siklus sebelumnya setelah diterapkan penggunaan alat peraga meqip dapat dilihat pada kriteria hasil belajar berikut ini.
Tabel. 2. Kriteria Hasil Belajar
Nilai Keterangan
85 < x  100 Baik Sekali
71 < x  84 Baik
56 < x  70 Cukup
41 < x  55 Kurang
< 40 Sangat Kurang
Sumber : Buku Laporan Pendidikan Sekolah Dasar Negeri No. 019 Samarinda













BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SDN. No.19 Samarinda Semester I Tahun Pembelajaran 2009/2010 yang terletak di Jalan Banggeris Gang 04. Siswa yang dikenakan tindakan adalah siswa kelas V-A yang berjumlah 36 siswa. Daftar hadir siswa dapat lihat pada lampiran 51 Pengamat dalam proses pembelajaran atau sebagai observasi adalah Sain Adri, S.Pd. selaku Wali Kelas V-A.
Peneliti tindakan kelas ini terdiri dari tiga siklus. Dimana nilai dasar diperoleh dari nilai tes yang dimiliki oleh guru pada materi sebelumnya. Nilai dasar digunakan sebagai pedoman dasar peningkatan untuk siklus –siklus yang akan dilaksanakan.
Masing – masing siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Pada pertemuan pertama sampai dengan kedua. Pembelajaran operasi penjumlahan dan pengurangan. Pada setiap pertemuan kedua atau akhir siklus dilakukan pemberian tes untuk mengetahui kemampuan siswa yang kemudian dianalisis untuk mengetahui sejauh mana peningkatan hasil belajar matematika siswa per siklus. Jika permasalahan belum terselesaikan, maka permasalahan tersebut akan selesaikan pada siklus berikutnya. Nilai hasil belajar matematika diperoleh dari nilai rata–rata tugas dan nilai tes akhir siklus secara keseluruhan peningkatan hasil belajar siswa pada tiap siklus dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Rata – rata nilai dasar dan nilai akhir setiap siklus

Siklus Nilai rata – rata Prosentase
Peningkatan %
ND NT NH NA
I 45 43,44 52,77 49,66 44,44
II 49,66 56,75 56,11 56,32 27,77
III 56,32 61,01 66,94 64,96 72,22
Sumber : lampiran 51 halaman 135

Penelitian ini terdiri dari tiga siklus, setiap siklus terdiri dari 2 kali pertemuan. Pada pertemuan pertama siswa melakukan kegiatan mengerjakan soal tugas dan pertemuan kedua digunakan untuk pemberian tes akhir belajar, mengetahui sejauhmana peningkatan hsil belajar matematika siswa per siklus.
Adapun hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah hasil observasi, hasil belajar siswa. Hasil penelitian pada setiap siklus dapat diuraikan sebagai berikut :
I. Siklus Pertama
a. Permasalahan
Permasalahan terjadi pada siklus pertama adalah nilai dasar 45 berarti belum mencapai nilai ketuntasan belajar dan proses pembelajaran pada penggunaan alat peraga mistar bilangan, kebanyakan siswa belum memahami betul dalam operasi penjumlahan.
b. Perencanaan
Pada tahap ini peneliti membuat rencana persiapan pembelajaran skenario pembelajaran, membuat kisi – kisi butir soal, soal tugas dan soal tes yang sesuai dengan materi operasi hitung bilangan bulat, untuk pertemuan pertama, materi yang disajikan penjumlahan bilangan bulat positif dengan positif dan bilangan bulat positif dengan negatif.
Pertemuan kedua materi yang disampaikan adalah pengurangan bilangan bulat negatif dengan negatif dapat dilihat pada lampiran 5. Soal tugas dan soal tes pada lampiran 15 dan 18, untuk mengetahui hasil belajar siklus I pada pertemuan 1 dan 2.
c. Pelaksanaan Tindakan
Peneliti bertindak sebagai guru yang melaksanakan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan skenario pada lampiran 1 dan rencana persiapan pembelajaran lampiran 4 dan 5.
Selain sesuai dengan skenario pembelajaran dan rencana persiapan pembelajaran yang telah disusun, peneliti juga menjalankan saran – saran teknis mengajar di kelas V – A yang disaran oleh wali kelasnya, hal ini dilaksanakan untuk mengadakan perbaikan dalam proses belajar mengajar.
d. Observasi
Observasi terdiri dari aktivitas siswa dan guru. Hasil observasi diperoleh melalui lembar observasi yang diisi oleh observator. Observasi diperoleh, dari nilai pengamatan aktivitas siswa pada lampiran 53 halaman 137
Hasil pengamatan aktivitas siswa pada siklus I dilihat pada tabel 4.

Tabel 4. Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa Siklus I
No Indikator Kreteria
1.
2.
3.
4.
5.
6. Memperhatikan penjelasan guru
Bertanya jika kurang jelas
Mendengar penjelasan guru
Mencatat penjelasan guru
Pemahaman siswa terhadap pelajaran
Kerjasama siswa Cukup
Kurang
Kurang
Cukup
Kurang
Kurang
Sumber : Lampiran 53 Halaman 137

Hasil observasi aktivitas siswa pada kegiatan belajar rata – rata masih kurang dalam. Perhatian pelajaran, penjelasan materi, pemahaman terhadap pelajaran operasi hitung penjumlahan dan penguranan bilangan bulat.
Hasil observasi untuk aktivitas guru secara garis besar dinilai kurang. Hal ini dikarenakan guru belum mampu menyajikan materi pelajaran operasi hitung bilangan bulat dengan tepat dan jelas dan belum berusaha tepat dan jelas dan belum berusaha untuk memotivsai siswa. Kemampuan guru memotivasi siswa dinilai kurang karena guru belum dapat menangani situasi kelas pada waktu belajar. Penggunaan alat peraga mistar bilangan untuk menjelaskan materi penjumlahan dan pengurangan dinilai masih kurang karena siswa belum memahami soal tes yang diberikan oleh guru. Sedangkan bimbingan guru terhadap siswa dinilai cukup karena dapat melakukan bimbingan siswa yang belum memahami cara melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat.
e. Analisis Data
Analisis data yang berupa hasil pre tes dan tes belajar yang diberikan kepada siswa pada setiap putaran.
Analisis data digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa dari tes yang diberikan untuk setiap putaran.
1. Hasil belajar siswa
Pada siklus pertama diperoleh nilai rata – rata 49,66 diperoleh dari akhir tes pada pertemuan 2. Dilihat dari hasil belajar siswa pada siklus pertama dinyatakan dengan kriteria kurang.
Tabel 5. Nilai Rata – Rata Hasil Belajar Siklus I

Siklus Nilai rata – rata Prosentase
Peningkatan %
ND NT NH NA
I 45 43,44 52,77 49,66 44,44
Sumber : lampiran 51 halaman 135
f. Refleksi
Peneliti bersama guru matematika mendiskusikan hasil proses pembelajaran operasi hitung bilangan bulat pada penjumlahan dan pengurangan, berdasarkan hasil observasi dan hasil tes siklus I untuk menentukan langkah-langkah perbaikan pada siklus berikutnya. Berikut adalah hal – hal yang telah dicapai pada siklus I :
1) Siswa mulai tertarik dalam penggunaan alat peraga mistar bilangan
2) Siswa mulai berani bertanya
Beberapa hal yang menjadi hambatan selama proses pembelajaran.
1) Suasana kelas yang ribut pada saat teman memperagakan alat peraga mistar bilangan dikarenakan siswa lain ingin mencobanya.
2) Pada saat diperagakan alat peraga mistar bilangan siswa sebagian pahma, ternyata diberi soal tes siswa mengalami kesulitan dikarenakan kurang memperhatikan penjelasan dari guru.
3) Nilai rata–rata hasil belajar matematika siswa yang masih tergolong kurang karena nilai tersebut berkisar pada 49,66.
4) Guru pada saat memberikan kesempatan untuk bertanya, siswa masih mempunyai sifat malu untuk bertanya.
Dilihat dari nilai rata –rata tes akhir pada siklus pertama 49,66 maka dilanjutkan siklus kedua, karena nilai yang diperoleh belum mencapai nilai ketuntasan belajar sebesar 60,00.
Siklus Kedua
a. Permasalahan
1. Nilai siklus I belum mencapai nilai ketuntasan belajar
2. Proses pembelajaran dengan menggunakan alat peraga mistar bilangan belum baik.
b. Perencanaan
Berdasarkan hasil diskusi pada siklus I peneliti bersama guru matematika mempersiapkan rencana yangakan dilaksanakan pada siklus kedua.
Sama halnya dengan siklus pertama, peneliti menyiapkan skenario pembelajaran, rencana pelaksanaan pembelajaran, membuat lembaran soal tugas, membuat lembar soal tes akhir dan membuat kunci jawaban, untuk perencanaan siklus kedua materi yang diajarkan adalah perkalian bilangan bulat positif dengan negatif pertemuan pertama, sedangkan pada pertemuan kedua materi pembelajaran adalah perkalian bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat negatif, kemudian dilanjutkan dengan pemberian tugas dan tes akhir pada pertemuan kedua dapat dilihat pada lampiran 43 dan 46 halaman 127 dan 129.
c. Pelaksanaan tindakan
Secara umum pelaksanaan pembelajaran siklus kedua sama halnya dengan pelaksanaan pembelajaran pada siklus pertama. Pada siklus kedua guru melaksanakan skenario pembelajaran yang dapat dilihat pada lampiran 2 halaman 71 selain berpatokan pada skenario pembelajaran yang telah dibuat, guru juga melaksanakan beberapa tindakan perbaikan yang telah direncanakan.
d. Observasi
Observasi terdiri dari aktivitas siswa dan guru. Hasil observasi diperoleh melalui lembar observasi yang diisi oleh observer. Hasil pengamatan aktivias siswa, hasil pengamatan aktivitas siswa untuk seluruh siswa, dan hasil pengamatan aktivitas guru. Hasil pengamatan pada siklus II dapat dilihat pada lampiran 54.
Hasil pengamatan aktivitas siswa pada siklus II dapat dilihat pada tabel 6.

Tabel 6. Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa Siklus II
No Indikator Kriteria
1
2
3
4
5
6 Memperhatikan penjelasan guru
Bertanya jika kurang jelas
Mendengar penjelasan guru
Mencatat penjelasan guru
Pemahaman siswa terhadap pelajaran
Kerja sama siswa Cukup
Cukup
Cukup
Cukup
Cukup
Cukup
Sumber : Lampiran 54 halaman 138
Hasil observasi aktivitas siswa pada kegiatan pembelajaran operasi hitung perkalian bilangan bulat dinyatakan nilai cukup karena seluruh siswa memperhatikan dengan baik penjelasan guru. Keaktifan siswa untuk bertanya apabila kurang jelas dinilai cukup karena ada satu orang siswa yang baru berani bertanya apabila mengalami kesulitan baik dari bentuk perkalian bilangan bulat positif dengan negatif.
Kegiatan siswa mendengar penjelasan guru dinilai cukup karena seluruh siswa mencatat menjelaskan dan meminta siswa untuk mencatat.
Kegiatan siswa menyajikan jawaban dinilai cukup karena siswa yang diminta utuk maju berdasarkan nomor urut bersedia untuk maju.
e. Analisa Data
Analisis data yang berupa hasil tes belajar yang diberikan kepada siswa pada setiap putaran. Analisis data digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa dari tes yang diberikan untuk setiap putaran
1. Hasil Belajar
Pada siklus kedua diperoleh skor rata – rata nilai tes akhir pertemuan 2 siklus kedua 56,32, dilihat dari hasil belajar dinilai masih kurang. Nilai rata – rata hasil belajar pada siklus I sebesar 49,66 dijadikan sebagai nilai dasar pada siklus II.
Persentase rata – rata hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II sebesar 27,77. Nilai hasil belajar dari seluruh siswa dapat dilihat pada lampiran 62.
Tabel 7. Nilai rata – rata hasil belajar Siklus II

Siklus Nilai rata – rata Prosentase
Peningkatan %
NT NH NA
II 56,75 56,11 56,32 27,77
Sumber : lampiran 51 halaman 135

f. Refleksi
Berdasarkan hasil observasi dan hasil belajar siklus kedua, terhadap beberapa hal yang telah dicapai dan beberapa kendala yang masih perlu diperbaiki pada siklus berikutnya.
Berikut adalah hal – hal yang telah dicapai pada siklus II yaitu :
1. Siswa mulai mau memberikan pendapat, termotivasi dalam mengerjakan soal – soal latihan.
2. Bimbingan guru kepada seluruh siswa telah dapat dilaksanakan secara merata.
3. Suasana kelas mulai dapat dikontrol oleh guru.
4. Siswa mulai senang dalam penggunakan alat peraga mistar bilangan.
5. Nilai rata – rata hasil belajar matematika siswa mengalami peningkatan dari 49,66 pada siklus I menjadi 56,32 pada siklus II.
Adapun hal – hal yang perlu diperbaiki dalam kegiatan pembelajaran pada siklus selanjutnya adalah sebagai berikut :
1. Pemahaman siswa perlu lebih ditingkatkan dengan penyampaian materi yang tidak terlalu cepat dan pemberian conton soal yang lebih banyak.
2. Pemberian motivasi kepada siswa perlu ditingkatkan terutama dalam mengerjakan soal latihan.
Dilihat dari nilai hasil belajar pada siklus II sebesar 56,32 dengan kreteria kurang, maka pelaksanaan pembelajaran pada siklus II dilanjutkan ke siklus III. Karena nilai yang diperoleh belum mencapai nilai ketentuan belajar sebesar 60,00. Pada siklus selanjutnya diharapkan guru dapat mengatasi, permasalahan dan kesulitan yang dialami siswa. Dengan demikian, penelitian dan guru matematika sepakat untuk melanjutkan siklus ketiga sehingga diperoleh hasil yang maksimal.


SIKLUS III
a. Permasalahan
1. Nilai siklus II yang belum mencapai nilai ketuntasan belajar
2. Proses pembelajaran yang menggunakan alat peraga mistar bilangan menunjukkan perbaikan tetapi belum mencapai tingkat baik.
b. Perencanaan
Berdasarkan hasil refleksi pada siklus II, peneliti melanjutkan tindakan pada siklus III, untuk memperbaiki pelaksanaan siklus II. Peneliti menyiapkan skenario pembelajaran berdasarkan rencana pelaksanaan pembelajaran yang berkaitan dengan operasi pembelajaran yang berkaitan dengan operasi pembagian bilangan bulat positif dengan positif dan pembagian bulat negatif dengan positif dilaksanakan siklus III pertemuan kedua dapat dilihat pada lampiran 26 halaman 110.
Pada tahap perencanaan dilakukan beberapa tindakan perbaikan yaitu dengan memperjelas penyampaian materi pembagian bilangan bulat negatif dan pemanfaatan waktu seefisien mungkin agar proses pembelajaran dapat terlaksana sesuai dengan skenario dan rencana persiapan pembelajaran (RPP) yang telah disusun.
c. Pelaksanaan Tindakan
Pada siklus ketiga, guru melaksanakan skenario pembelajaran yang dapat dilihat pada lampiran 3 halaman 67, rencana pembelajaran yang dapat dilihat pada lampiran 7 dan lampiran 8 halaman 84 dan 89, selain itu peneliti yang bertindak sebagai guru juga melakukan tindakan perbaikan yang telah direncanakan bersama guru matematika berdasarkan hasil refleksi pada siklus kedua. Akan tetapi, secara umum pelaksanaan tindakan siklus ketiga sama halnya dengan pelaksanaan tindakan pada siklus pertama dan kedua.
d. Observasi
Hasil observasi terdiri dari aktivitas siswa dan guru. Hasil observasi diperoleh melalui lembar observasi yang diisi oleh observator. Observasi diperoleh dari nilai hasil pengamatan aktivitas siswa seluruhnya dan hasil pengamatan aktivitas guru.
Hasil pengamatan pada siklus III dapat dilihat pada lampiran 60 halaman 149 hasil pengamatan aktivitas siswa seluruh pada siklus tiga dapat dilihat pada tabel 8.
Tabel 8. Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa Siklus III
No Indikator Kreteria
1.
2.
3.
4.
5.
6. Memperhatikan penjelasan guru
Bertanya jika kurang jelas
Mendengar penjelasan guru
Mencatat penjelasan guru
Pemahaman siswa terhadap penjelasan
Kerjasama siswa Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Sumber : Lampiran 55 halaman 139
Hasil observasi aktivitas siswa pada kegiatan pembelajaran secara keseluruhan dinilai baik.
Perhatian siswa terhadap pembelajaran dengan positif dinilai baik, karena seluruh siswa memperhatikan penjelasan guru. Keaktifan siswa utuk bertanya apabila kurang jelas dinilai baik karena seluruh siswa berani bertanya apabila mengalami kesulitan baik mengerjakan soal tugas dan tes akhir.
Kegiatan siswa mendengarkan penjelasan guru dinilai baik karena seluruh siswa tidak melakukan keributan. Kegiatan siswa mencatat penjelasan guru dinilai baik karena siswa ketika guru selesai menjelaskan siswa mempunyai kemauan untuk mencatat materi pelajaran yang belum mengerti.
Hasil observasi menunjukkan bahwa aktivitas guru secara keseluruhan dinilai baik dengan penyajian materi operasi hitung pembagian bilangan bulat. Kemajuan memotivasi siswa, pengelolaan kelas, dan pembinaan guru terhadap siswa.
Hal ini menunjukkan bahwa di siklus III terjadi peningkatan aktivitas guru. Sedangkan aktivitas siswa tetap dinilai baik karena siswa sudah mulai terbiasa dengan model pembelajaran yang diterapkan. Pelaksanaan pembelajaran yang diterapkan. Pelaksanaan pembelajaran pada siklus III mengalami peningkatan yang signigikan, dari rata –rata hasil belajar siklus II sebesar 56,32 menjadi 64,96 pada siklus III dengan kreteria cukup. Hasil belajar siswa pada siklus III dapat dilihat pada lampiran 47 halaman 131.
e. Analisis Data
Analisis data yang berupa hasil tes belajar yang diberikan kepada siswa pada setiap putaran. Analisis data digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa dari tes yang diberikan untuk setiap putaran.
1. Hasil Belajar Siswa
Pada siklus ketiga di peroleh skor rata – rata dalam mengerjakan soal tugas dan tes akhir maka diperoleh nilai akhir 64,96 dengan kriteria cukup. Nilai rata –rata hasil belajar pada siklus II sebesar 56,32 dijadikan sebagai nilai dasar pada siklus III.
Presentase rata – rata hasil belajar siswa dari Siklus II ke siklus III sebesar 64,96%. Rekapitulasi skor lembar tugas dan tes akhir pada siklus III. Dapat dilihat pada lampiran 26 halaman 110.
Berdasarkan skor lembar tugas dan tes akhir hasil belajar siklus III. Nilai rata – rata hasil belajar matematika pada materi operasi hitung pembagian bilangan bulat pada siklus tiga dapat dilihat pada tabel 9.
Tabel 9. Nilai Rata – rata hasil belajar seluruh siswa siklus III
Siklus Nilai rata – rata Prosentase
Peningkatan %
NT NH NA
III 61,01 66,94 64,96 72,22%
Sumber : Lampiran 51 halaman 135

f. Refleksi
Pada siklus I nilai rata – rata hasil belajar matematika 49,66 nilai dasar 45 dengan kreteria kurang. Pada siklus dua nilai rata–rata hasil belajar matematika siswa meningkat 56,32% dengan kreteria kurang. Kemudian pada siklus III nilai akhir hasil belajar sebesar 64,96 dengan kreteria cukup. Kemudian pada observasi dengan menggunakan pedoman observasi menunjukkan bahwa aktivitas menunjukkan bahwa aktivitas siswa dan guru dari siklus pertama sampai dengan siklus ketiga mengalami peningkatan/pada siklus pertama, aktivitas guru dinilai kurang dan aktivitas siswa kurang. Hal ini krena peneliti yang bertindak sebagai guru dan siswa masih menyesuaikan diri dengan materi pembelajaran operasi hitung bilangan bulat.
Pada siklus kedua aktivitas guru dinilai cukup, demikian pula aktivitas siswa dinilai cukup. Pada siklus ketiga aktivitas guru mengalami peningkatan dengan nilai baik, sedangkan aktivititas siswa dinilai baik. Terjadinya peningkatan aktivtias guru dan aktivitas siswa yang semakin baik menggambarkan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan mengalami peningkatan dan dilaksanakan untuk terus mengadakan perbaikan sehingga pembelajaran yang diterapkan dapat meningkatkan kerja sama siswa yang pada akhirnya akan berdampak positif pada nilai hasil belajar matematika siswa.
Dilihat dari nilai hasil belajar pada siklus III sebesar 64,96 dengan kreteria cukup, maka pelaksanaan pembelajaran pada siklus III tidak dilanjutkan karena nilai yang diperoleh sudah mencapai nilai ketuntasan belajar sebesar 60,00.

B. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa data yang dikumpulkan telah memenuhi dan sesuai dengan indikator dan format panduan observasi. Sebelum melaksanakan pembelajaran operasi hitung bilangan bilat pada siklus I terlebih dahulu pembelajaran ini diperkenalkan kepada siswa, bahwa pembelajaran yang diberikan ini masih dibawah ketuntasan belajar yaitu 60,00 dan nilai rata – rata hasil belajar 45 sebagai nilai dasar.
Pelaksanaan penelitian sebanyak tiga siklus, setiap siklus dua kali pertemuan. Pada pertemuan pertama diberikan tugas sebanyak tiga kali tugas dan pertemuan keduanya dilaksanakan tes akhir.
Proses pelaksanaan siklus pertama ini meliputi kegiatan observasi, kegiatan penyampaian materi operasi hitung bilangan bulat tentang penjumlahan dan pengurangan tersebut masih rendah nilai hasil belajar matematika siklus sebesar 49,66, ini disebabkan karena masih perkenalan alat peraga mistar bilangan dan operai hitung bilangan bulat baru disampaikan sehingga anak mengalami kesulitan.
Aktivitas guru dalam penyampaian pelajaran ini cukup hal ini proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dinilai cukup.
Aktivitas siswa dalam menerima pelajaran, mendengarkan guru menyampaikan pelajaran, dan memperhatikan penjelasan guru masih kurang.
Pelaksanaan siklus kedua ini sama halnya dengan pelaksanaan siklus pertama. Dalam siklus kedua ini materi pembelajaran yang disampaikan perkalian bilangan positif dengan positif, perkalian bilangan bulat negatif dengan positif dan perkalian bilangan bulat negatif dengan negatif hasil yang dicapai masih kurang disebabkan penguasaan materi pelajaran operasi hitung bilangan bulat dan pemahaman penggunaan alat peraga mistar bilangan, siswa belum menguasai, maka hasil belajar matematika akan rendah. Untuk meningkatkan hasil belajar matematika guru harus mampu menjelaskan dan mampu menggunakan alat peraga mistar bilangan dengan baik.
Pengajaran dengan menggunakan alat peraga akan dapat memperbesar perhatian siswa terhadap pengajaran yang diberikan.
Aktivitas siswa pada siklus dua ini masih kurang, maka siklus dilanjutkan ke siklus berikutnya.
Dari siklus kedua ke siklus ke tiga ada peningkatan karena guru dalam penyampaian materi operasi hitung bilangan bulat tentang pembagian siswa sudah menguasai.
Dari siklus pertama, ke siklus ke dua dan ke siklus ke tiga dapat dilihat pada tabel 3 di atas.
Berdasarkan hasil penelitian di hitung dengan menggunakan rumus yang sudah ditentukan pada bagian bab tiga.
Dari hasil penelitian dan pembahasan ketiga siklus digambarkan dengan grafik hasil belajar matematika siswa kelas V – A SDN. 019 Samarinda

Grafik. Nilai Rata – Rata Hasil Belajar Siswa Tiap Siklus


Gambar 8. Grafik Nilai Rata – Rata Hasil Belajar Siswa Tiap Siklus
Sumber : Lampiran 66 Halaman 150


Dari grafik rata – rata hasil belajar matematika siswa ada peningkatan setiap siklusnya. Sesuai dengan hipotesis tindakan yang dilaksanakan dalam penelitian ini adalah penggunaan alat peraga mistar bilangan akan meningkatkan nilai hasil belajar matematika siswa kelas V- A SDN 019 Samarinda.



















BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Peningkatan hasil belajar matematika pada materi pokok operasi hitung bilangan bulat di kelas V – A SDN. No. 019 Samarinda Tahun Pembelajaran 2009 / 2010 dapat diuraikan sebagai berikut :
Pada siklus I : Nilai rata – rata hasil belajar matematika siswa sebesar 49,66 dan prosentase peningkatan 44,44% dalam kreteria kurang.
Pada siklus II : Nilai rata – rata hasil belajar matematika siswa sebesar 56,32 dan prosentase peningkatan sebesar 27,77% dalam kreteris kurang.
Pada siklus III : Nilai rata – rata hasil belajar matematika siswa sebesar 64,96 dan prosentase peningkatan sebesar 72,22% dalam kreteria cukup.

B. Saran-saran
Adapun saran – saran yang dapat peneliti berikan setelah melaksanakan penelitian antara lain.
1. Siswa diharapkan untuk aktif dalam proses bekerja sama dengan siswa lain dalam meningkatan hubungan sosial antara siswa.
2. Guru diharapkan dapat menggunakan alat peraga meqip yang sudah tersedia di sekolah masing – masing.
3. Dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa, diperlukan penelitian lanjut yang lebih cermat dari sekolah menyiapkan desain pembelajaran dan sarana yang diperlukan.
DAFTAR PUSTAKA


Amirin dan SamsuIrawan 2000. Penelitian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung PT. Remaja Rusda Karya.

Dimyati dan Mujiono 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.

Dujana 2001. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung PT. Remaja Rosdakarya.

Djamarah dan Zain 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.

Gatot Muhsetyo, dkk. 2007. Pembelajaran Matematika SD. Universitas Terbuka

Higgisn dan Suydam 1999. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Jakarta : Rineka Cipta.

Higgard dan Sanjaya 2007. Belajar dan Pembelajaran . Jakarta : Rineka Cipta.

Mukhtar dan Rusmini 2003. Pengajaran Remedial Teori dan Penerapannya dalam Pembelqjaran Jakarta : Fifa Mulia Sejahtera.

Nurhadi 2004. Psikologi Pendidikan. Bandung : Remaja Rosda Karya
Nur Aksin, 2008. Gemar Matematika : Jakarta. Intan Pariwara.
Purwanto . 2004. Psikologi Pendidikan . Bandung : Remaja Rosda Karya.
Soejadi 2000. Belajar dan Pembelajaran . Jakarta : Rineka Karya.

Sujana 2001. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung Remaja Rusda Karya.

Dr.I.G.A.K. Wardani, Drs. Kuswaya Wihardit M, Ed. dan Drs. Noehi Nasoetion, M.A. 2004. Penelitian Tindakan Kelas, Pusat Penerbit Universitas Terbuka.

1 komentar: