Selasa, 26 Juli 2011

Penggunaan metode demonstrasi dalam upaya meningkatkan hasil belajar IPA pada Siswa kelas VI SD Negeri 006 Loa Janan kabupaten Kutai Kartanegara”.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam pembangunan nasional, pendidikan diartikan sebagai upaya meningkatkan harkat dan martabat manusia serta dituntut untuk menghasilkan kualitas manusia yang lebih tinggi guna menjaminpelaksanaan dan kelangsungan pembangunan. Peningkatan kualitas pendidikan harus dipenuhi melalui peningkatan kualitas dan kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan lainnya. Pembaharuan kurikulum yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa mengesampingkan nilai-nilai luhur sopan santun dan etika serta didukung penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, karena pendidikan yang dilaksanakan sedini mungkin dan berlangsung seumur hidup menjadi tanggung jawab keluarga, sekolah, masyarakat dan pemerintah.
Pada era globalisasi, perkembangan IPTEK semakin marak dimasyarakat. Maraknya perkembangan IPTEK disebabkan oleh adanya tuntutan manusia untuk berkembang dan maju dalam berbagai bidang sesuai dengan perkembangan zaman. Tuntutan tersebut, dapat diperoleh melalui informasi aktual dari peralatan IPTEK yang canggih. Pendidikan merupakan upaya untuk membentuk sumber daya manusia yang dapat meningkatkan kualitas kehidupannya. Dengan demikian kebutuhan manusia yang semakin kompleks akan terpenuhi. Selain itu melalui pendidikan akan dibentuk manusia yang berakal dan berhati nurani. Kualifikasi sumber daya manusia yang mempunyai karakteristik seperti di atas, sangat diperlukan dalam menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga mampu menghadapi persaingan global.
Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan pembangunan disegala bidang. Hingga kini pendidikan masih diyakini sebagai wadah dalam pembentukan sumber daya manusia yang diinginkan. Melihat begitu pentingnya pendidikan dalam pembentukan sumber daya manusia, maka peningkatan mutu pendidikan merupakan hal yang wajib dilakukan secara berkesinambungan guna menjawab perubahan zaman. Masalah peningkatan mutu pendidikan tentulah sangat berhubungan dengan masalah proses pembelajaran.
Proses pembelajaran yang sementara ini dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan kita masih banyak yang mengandalkan cara-cara lama dalam penyampaian materinya. Di masa sekarang banyak orang mengukur keberhasilan suatu pendidikan hanya dilihat dari segi hasil. Pembelajaran yang baik adalah bersifat menyeluruh dalam melaksanakannya dan mencakup berbagai aspek, baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik, sehingga dalam pengukuran tingkat keberhasilannya selain dilihat dari segi kuantitas juga dari kualitas yang telah dilakukan di sekolah-sekolah. Mengacu dari pendapat tersebut, maka pembelajaran yang aktif ditandai adanya rangkaian kegiatan terencana yang melibatkan siswa secara langsung, komprehensif baik fisik, mental maupun emosi. Hal semacam ini sering diabaikan oleh guru karena guru lebih mementingkan pada pencapaian tujuan dan target kurikulum. Salah satu upaya guru dalam menciptakan suasana kelas yang aktif, efektif dan menyenangkan dalam pembelajaran yakni dengan menggunakan metode demonstrasi. Hal ini dapat membantu guru dalam menggerakkan, menjelaskan gambaran ide dari suatu materi.
Tujuan utama pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah agar siswa memahami konsep-konsep IPA secara sederhana dan mampu menggunakan metode ilmiah, bersikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dengan lebih menyadari kebesaran dan kekuasaan pencipta alam (Depdikbud, 1997:2).
Pembelajaran IPA memiliki fungsi yang fundamental dalam menimbulkan serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif dan inovatif. Agar tujuan tersebut dapat tercapai, maka IPA perlu diajarkan dengan cara yang tepat dan dapat melibatkan siswa secara aktif yaitu melalui proses dan sikap ilmiah. Mutu pembelajaran IPA perlu ditingkatkan secara berkelanjutan untuk mengimbangi perkembangan teknologi. Untuk meningkatkan mutu pembelajaran tersebut, tentu banyak tantangan yang dihadapi. Sementara ini masih banyak orang beranggapan bahwa IPA dan IPA merupakan pelajaran yang sulit, serta kurang menarik minat baik di kalangan siswa maupun guru (Joyonegoro, Dedikasi Vol. 02 Tahun 1993), hal tersebut mungkin karena dalam materi IPA banyak sekali menggunakan rumus-rumus, dan hitungan yang cukup sulit dimengerti oleh Siswa. Permasalahan yang dihadapi siswa di SD adalah hasil belajar IPA yang belum tuntas yakni belum mencapai angka minimal daya serap yang telah ditentukan. Salah satu faktor dalam pembelajaran IPA guru lebih banyak berceramah, sehingga siswa menjadi cepat bosan dan menyebabkan hasil belajar IPA rendah. Guru belum menghayati hakekat IPA karena pembelajaran di sekolah baru menekankan produk saja. Hal itu ditambah dengan pendapat siswa bahwa pelajaran IPA dianggap sulit, sehingga tidak menarik untuk belajar, sehingga berdampak pada rendahnya hasil belajar yang diperoleh siswa. Rendahnya hasil belajar siswa juga terjadi pada Ujian Akhir Sekolah (UAS) untuk mata pelajaran IPA kelas VI. Hal tersebut, diperkirakan karena kurangnya pemahaman siswa terhadap konsep pembelajaran IPA. Mereka menganggap pelajaran IPA sulit dipahami. Untuk anak-anak yang taraf berpikirnya masih berada pada tingkat konkret, maka semua yang diamati, diraba, dicium, dilihat, didengar, dan dikecap akan kurang berkesan kalau sesuatu itu hanya diceritakan, karena mereka belum dapat menyerap hal yang bersifat abstrak. Perlu diketahui bahwa tingkat pemahaman tiap-tiap siswa tidak sama, sehingga kecepatan siswa dalam mencerna bahan pengajaran berbeda. Berdasarkan pengamatan awal di SDN 006 Loa Janannggung dengan jumlah siswa 29 anak. Dalam proses pembelajaran IPA (sains) kurang adanya penggunaan pendekatan, media dan metode yang tepat, sehingga cenderung guru yang aktif dan siswa pasif. Tugas utama guru adalah mengelola proses belajar dan mengajar, sehingga terjadi interaksi aktif antara guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa. Interaksi tersebut sudah barang tentu akan mengoptimalkan pencapaian tujuan yang dirumuskan.
Usman (2000:4) menyatakan bahwa proses belajar dan mengajar adalah suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.
Senada dengan Usman, Suryosubroto (1997:19) mengatakan bahwa proses belajar dan mengajar meliputi kegiatan yang dilakukan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi dan program tindak lanjut yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu yakni pengajaran.
Mengacu dari kedua pendapat tersebut, maka proses belajar dan mengajar yang aktif ditandai adanya keterlibatan siswa secara komprehensif, baik fisik, mental, maupun emosionalnya. Pelajaran IPA misalnya diperlukan kemampuan guru dalam mengelola proses belajar dan mengajar sehingga keterlibatan siswa dapat optimal, yang pada akhirnya berdampak pada perolehan hasil belajar. Hal tersebut, sangat penting karena dalam kehidupan sehari-hari, siswa tidak pernah lepas dengan dunia IPA (Sains), yang dekat dengan aktivitas kehidupan mereka.Salah satu hasil penelitian yang dilakukan oleh Senior Secondary Education Project 2006 memperlihatkan bahwa dalam proses belajar dan mengajar, guru berperan dominan dan informasi hanya berjalan satu arah dari guru ke siswa, sehingga siswa sangat pasif. Untuk itu dalam pembelajaran diperlukan metode yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. Dengan demikian pemilihan metode yang tepat dan efektif sangat diperlukan. Salah satu metode yang ingin penulis lakukan penelitian yaitu metode demonstrasi yang menurut penulis mampu meningkatkan hasil belajar IPA. Dengan metode ini diharapkan dapat tumbuh berbagai kegiatan belajar siswa sehubungan dengan kegiatan belajar siswa. Dengan kata lain terciptalah interaksi edukatif. Dalam interaksi ini guru berperan sebagai penggerak atau pembimbing, sedangkan siswa berperan sebagai penerima atau yang dibimbing. Proses interaksi ini akan berjalan baik apabila siswa banyak aktif dibandingkan guru. Penyampaian materi pelajaran IPA perlu dirancang suatu strategi pembelajaran yang tepat, yakni anak akan mendapatkan pengalaman baru dalam belajarnya, selain itu siswa akan merasa nyaman.
Strategi pembelajaran IPA harus dirancang sedemikian rupa dengan mempertimbangkan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di samping harus bertumpu pada pengalaman indera menuju terbentuknya pengalaman kesimpulan yang logis (Suhirman 1998). Dengan menerapkan metode demonstrasi , maka dalam mengusahakan pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa dan meningkatkan kualitas pembelajaran IPA di pendidikan dasar dapat tercapai. Selain itu juga dapat memperbaiki penerapan kurikulum saat ini dan meningkatkan pemahaman serta menciptakan suasana belajar yang kondusif. Seperti yang telah diutarakan di atas pada saat pembelajaran IPA disebutkan bahwa fungsi metode mengajar dalam keseluruhan system pengajaran adalah sebagaimana alat untuk mencapai tujuan pengajaran.
Berdasarkan uraian di atas maka dalam penelitian ini penulis tertarik untuk meneliti penggunaan metode Demonstarsi sebagai salah satu alternatif dalam pembelajaran IPA yang membawa siswa belajar dalam suasana yang lebih nyaman dan menyenangkan. Dengan menetapkan judul “ Penggunaan metode demonstrasi dalam upaya meningkatkan hasil belajar IPA pada Siswa kelas VI SD Negeri 006 Loa Janan kabupaten Kutai Kartanegara”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang dan batasan masalah di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah : Bagaimana peningkatan hasil belajar IPA siswa menggunakan metode pembelajaran Demonstarsi pada materi Perpindahan dan perubahan energi listrik di kelas VI SDN 006 Loa Janan tahun pembelajaran 2010/2011
C. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar IPA siswa menggunakan metode demonstrasi Pada materi Perpindahan dan perubahan energi listrik di kelas VI semester II SDN 006 Loa Janan tahun pembelajaran 2010/2011
D. Manfaat penelitian
1. Bagi siswa: Menambah keaktifan siswa dalam pembelajaran IPA dan menganggap IPA adalah pelajaran yang menyenangkan
2. Bagi guru: menambah kualitas dan wawasan dalam pembelajaran IPA dengan melaksanakan metode demonstarsi.
3. Bagi sekolah: sebagai sumbangan kepada pihak sekolah maupun sekolah lainnya dalam rangka perbaikan proses pembelajaran IPA.


BAB II
KAJIAN MATERI
A. Metode Demostrasi
1. Pengertian Metode Demonstrasi
Menurut Mulyani Sumantri dan Johar Permana ( 2000: 114 ) Metode adalah cara – cara yang ditempuh guru untuk menciptakan situasi pengajaran yang benar-benar menyenangkan dan mendukung bagi kelancaran proses belajar dan tercapainya prestasi belajar anak yang memuaskan. Metode adalah cara yang digunakan guru untuk mengajar dengan berbagai aktifitas supaya tercipta kegiatan belajar yang kondusif dan menyenangkan dan siswa mendapatkan pemahaan dengan jelas.
Metode Demonstrasi menurut Mulyani Sumantri dan Johar Permana (2001: 133) yaitu: Metode demonstrasi diartikan sebagai cara penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada peserta didik suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari baik dalam bentuk sebenarnya maupun dalam bentuk tiruan yang dipertunjukkan oleh guru atau sumber belajar lain yang memahami atau ahli dalam topik bahasan yang harus didemonstrasikan.
Pada metode demonstrasi guru memperlihatkan suatu proses atau kejadian kepada murid atau memperlihatkan cara kerja suatu alat kepada siswa. Dalam pembelajaran IPA, metode demonstrasi banyak dipergunakan untuk mengembangkan suatu pengertian, mengemukakan masalah, penggunaan prinsip, pengujian kebenaran secara teoritis dan memperkuat suatu pengertian (Soekarno, dkk. 1981: 43).
2. Tujuan Penggunaan Metode Demonstrasi
Tujuan penggunaan metode demonstrasi menurut Mulyani Sumantri dan Johar Permana (2001: 133) yaitu:
Adapun tujuan penggunaan metode demonstrasi ini adalah :
a. Mengajarkan suatu proses atau prosedur yang harus dimiliki peserta didik atau dikuasai peserta didik;
b. Mengkongkritkan informasi atau penjelasan kepada peserta didik;
c. Mengembangkan kemampuan pengamatan pandangan dan penglihatan para peserta didik secara bersama-sama.
Berdasarkan pernyataan di atas, tujuan digunakannya metode demonstrasi dalam suatu pembelajaran adalah:
a) mengajarkan proses atau prosedur,
b) mengkongkritkan informasi, dan
c) pengembangan kemampuan melihat melalui pengamatan.
3. Beberapa hal yang harus diperhatikan guru sebelum dan pada waktu mengadakan demonstrasi
Menurut Soekarno, dkk. (1981: 44-46) adalah:
a) Demonstrasi itu harus dicoba terlebih dahulu sebelum dilakukan di depan kelas.
b) Tujuan demonstrasi ditentukan terlebih dahulu oleh guru.
Usahakan agar demonstrasi dapat dilihat oleh peserta didik.
Alat-alat yang digunakan sebaiknya sederhana.
c) Demonstrasi dilaksanakan berdasarkan tujuan yang telah ditentukan.
4. Langkah-langkah Metode Demonstrasi
Langkah-langkah pembelajaran demonstrasi menurut Fat Hurrahman (2008) adalah:
a. Perencanaan
Dalam perencanaan hal-hal yang dilakukan ialah :
1) Merumuskan tujuan yang baik dari sudut kecakapan atau kegiatan yang diharapkan dapat tercapai setelah metode demontrasi berakhir.
2) Menetapkan garis-garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan di laksanakan.
3) Memperhitungkan waktu yang di butuhkan.
4) Selama demonstrasi berlangsung guru harus intropeksi diri apakah :
- Keterangan-keterangan dapat di dengar dengan jelas oleh siswa
- Apakah semua media yang di gunaka telah di tempatkan pada posisi yang baik, hingga semua siswa dapat melihat semuanya dengan jelas
- Siswa membuat catatan-catatan yang dianggap perlu
5) Menetapkan rencana penilaian terhadap kemampuan anak didik

b. Pelaksaannya
Hal-hal yang di lakukan adalah :
1) Memeriksa hal-hal tersebut di atas untuk kesekian kalinya
2) Melakukan demonstrasi dengan menarik perhatian siswa
3) Mengingat pokok-pokok materi yang akan di demonstrasikan agar mencapai sasaran
4) Memperhatikan kedaan siswa, apakah semuanya mengikuti demonstrasi dengan baik
5) Memberikan kesempatan pada siswa untuk aktif
6) Menghindari ketegangan
7) Evaluasi : dapat berupa pemberian tugas, seperti membuat laporan, menjawab pertanyaan, mengadakan latihan lebih lanjut, baik di sekolah ataupun di rumah
5. Kelebihan dan kelemahan metode Demonstrasi
Kelebihan metode demonstrasi adalah:
- Perhatian anak didik dapat dipusatkan, dan titik berat yang di anggap penting oleh guru dapat di amati.
- Perhatian anak didik akan lebih terpusat pada apa yang didemonstrasikan, jadi proses anak didik akan lebih terarah dan akan mengurangi perhatian anak didik kepada masalah lain.
- .Dapat merangsang siswa untuk lebih aktif dalam mengikuti proses belajar.
- Dapat menambah pengalaman anak didik.
- Bisa membantu siswa ingat lebih lama tentang materi yang di sampaikan.
- Dapat mengurangi kesalah pahaman karena pengajaran lebih jelas dan kongkrit.
- Dapat menjawab semua masalah yang timbul di dalam pikiran setiap siswa karna ikut serta berperan secara langsung.
Kelemahan metode demonstrasi adalah:
- Memerlukan waktu yang cukup banyak
- Apabila terjadi kekurangan media , metode demonstrasi menjadi kurang Memerlukan biaya yang cukup mahal, terutama untuk membeli bahan-bahannya
- Memerlukan tenaga yang tidak sedikit
- Apabila siswa tidak aktif maka metode demonstran menjadi tidak efektif.
B. Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam

Hasil belajar terdiri dari dua kata, yakni hasil dan belajar. Antara hasil dan belajar memiliki arti yang berbeda. Hasil ialah wujud pencapaian dan suatu tujuan yang dikerjakan, diciptakan baik secara individu maupun kelompok. Hasil tak akan pernah didapat selama seseorang tidak melakukan suatu tindakan. Sedangkan belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar untuk menuju suatu perubahan. Dengan demikian dapat dipahami makna hasil belajar merupakan wujud tujuan yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan pada diri individu dalam aktivitas kemandirian hidup. (Djamarah. 1994:1-5). Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. (Sudjana,1991:22)
Sudjana, (1991:56-57) Hasil yang dicapai siswa melalui proses belajar mengajar yang optimal cenderung menunjukkan hasil yang berciri sebagai berikut:
1. Kepuasaan dan kebanggaan yang dapat menumbuhkan motivasi belajar intrinsif pada diri siswa. Motivasi intrinsif adalah semangat juang untuk belajar yang tumbuh dan dalam diri siswa itu sendiri, siswa tidak akan mengeluh dengan prestasi yang rendah, dan siswa akan berjuang lebih keras lagi utuk memperbaikinya, sebaliknya, hasil belajar yang baik akan mendorong siswa untuk meningkatkan apa yang telah dicapainya.
2. Menambah keyakinan akan kemampuan dirinya. Artinya siswa tahu kemampuan dirinya dan percaya siapa punya potensi yang tak kalah dari orang lain apabila siswa berusaha sebagaimana harusnya. Siswa juga yakin tidak ada sesuatu yang tidak dapat dicapai bila siswa berusaha sesuai dengan kesanggupannya.
3. Hasil belajar yang dicapainya bermakna bagi diri siswa, seperti makan tahan lama dilihatnya, membentuk perilakunya, bermanfaat untuk mempelajari aspek lain, dapat digunakan sebagai alat untuk memperoleh informasi dan pengetahuan lainnya, kemauan dan kemampuan untuk belajar sendiri serta dapat mengembangkan kreativitas.
4. Hasil belajar diperoleh siswa secara menyeluruh (komprehensif), yakni mencakup ranah kognitif, pengetahuan atau wawasan, ranah afektif atau sikap yang apresiasif, serta ranah psikomotorik, ketrampilan atau perilaku. Ranah kognitif terutama adalah hasil yang diperolehnya sedangkan ranah afektifnya dan psikomotorik diperolehnya sebagai efek samping yang tidak dilaksanakan dalam pembelajaran.
5. Keterampilan siswa untuk mengontrol atau menilai dan mengendalikan dirinya terutama dalam menerima hasil yang dicapainya maupun menilai dan mengendalikan proses dari usaha belajarnya. Siswa tahu dan sadar bahwa tinggi rendahnya hasil belajar yang dicapaiannya tergantung pada usaha dan motivasi belajar dirinya sendiri.
IPA sebagai salah satu perluasan dan pendalaman sains merupakan ilmu yang mempelajari tentang fakta, konsep,teori IPA secara sistimatis dan dirumuskan mengikuti kaidah-kaidah ilmiah dengan melibatkan unsur proses,baik mental maupun fisik sehiungga terbentuk sikap ilmiah yang kritis, obyektif, sistematis, terbuka, tekun, dan jujur, untuk perkembangan dasar pengetahuan, sikap dan ketrampilan dalam mempelajari IPA serta keterkaitannya antara konsep dan penerapannya dalam kehidupan nyata.
Hasil belajar IPA adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah siswa menerima materi-materi IPA yang cenderung menggunakan aspek kognitifnya yang diukur melalui tes.
Arikunto (2002:26) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah:
a. Faktor yang berasal dari dalam diri siswa (internal) dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu faktor psikologis dan jasmaniah. Yang dikategorikan faktor jasmaniah anatra lain: kelelahan, motivasi. suasana hati dan kebiasaan belajar.
b. Faktor yang berasal dari luar individu (eksternal) dapat diklasifikasikan menjadi dua , yaitu faktor manusia dan manusia, seperti alam, hewan, dan lingkungan fisik.
Berdasarkan pendapat yang telah dipaparkan dapat disimpulkan bahwa hasil belajar IPA siswa adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa dalam menerima materi yang telah disampaikan dan dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari dalam diri siswa (internal) maupun faktor yang berasal dari luar individu (eksternal).
C. Perpindahan Energi dan perubahannya
1. Bentuk-bentuk dan sifat Energi
Energi memiliki tiga bentuk dan sifat. Energi bisa berbentuk kinetik, potensial, dan internal (energi dalam). Energi kinetik dimiliki oleh benda yang sedang bergerak aktif, misalnya udara yang bergerak dan air yang mengalir. Energi memiliki sifat bisa disimpan (stored), dipindahkan (transferred), dan diubah bentuknya (transformed).
2. Perpindahan Energi
Sumber-sumber energi yang umum digunakan manusia bisa digolongkan berdasarkan bentuk energinya, misalnya bentuk energi angin adalah kinetik, bentuk energi air adalah potensial, dan bentuk energi matahari adalah internal. Energi angin dan air berpindah melalui kerja, sedangkan energi matahari berpindah melalui perpindahan panas.
Perpindahan Energi Secara Radiasi
Perpindahan energi secara memancar tanpa benda penghantar atau konduktor disebut perpindahan energi secara radiasi.
Penggunaan tenaga matahari untuk memanaskan air juga menggunakan cara radiasi ini. Air yang telah dipanaskan ada yang digunakan untuk memanaskan ruangan (di daerah dingin) dan ada yang dimanfaatkan sebagai penggerak turbin yang memutar generator untuk menghasilkan aliran listrik.
Perpindahan Panas Secara Konduksi
Energi panas dari air akan berpindah ke ujung sendok dan merambat ke bagian sendok yang kamu pegang. Jadinya, kamu merasakan sendok yang kamu pegang semakin lama semakin panas sehingga kamu akan melepaskannya.
Perpindahan Energi secara Konveksi
percobaan sederhana.
Alat dan bahan:
1. Gelas piala atau bejana
2. Air dingin
3. Kompor spirtus
4. Tinta
Langkah percobaan
1. siapkan gelas piala dia atas kompot spirtus
2. gunakan pipet, masukkan sedikit tinta ke dasar bejana
3. nyalakan kompor dan tunggu beberapa saat
4. perhatikan, bagaimana gerakan cairan tinta?

sebelum panas

setelah panas
Cairan tinta akan bergerak ke atas. Setelah sampai permukaan tinta bergerak menyebar ke kanan dan ke kiri. Setelah beberapa saat, tinta akan bercampur dengan air semuanya dan merubah warna air. Jadi, perpindahan energi dengan cara mengalir disebut konveksi. Alat yang memanfatkan cara konveksi ini adalah baling-baling (fan) yang digunakan untuk ventilasi di pabrik-pabrik. Alat ini dibuat dari aluminium dan dipasang di atap pabrik.
Energi Listrik
Listrik sudah menjadi kebutuhan primer sebagian besar manusia. Aktivitas manusia akan terhambat jika pengadaan listrik terganggu.
Gejala kelistrikan
Percobaan
Alat dan bahan
1. Dua buah balon karet
2. Baju/kain wol
3. Benang
Langkah percobaan
1. Tiuplah dua balon karet
2. Ikat dengan benang sepanjang ± 50 cm
3. Gosokkan kedua balon pada baju wol
4. Perhatikan, apa yang terjadi?

gejala kelistrikan
Pada gambar diatas, mengapa balon tolak menolak? Karena kedua balon itu sama-sama bermuatan listrik negatif, sehingga balon saling menjauh. Hal ini membuktikan adanya listrik statis. Alat yang menggunakan listrik statis, misalya mesin fotokopi.
Perubahan Bentuk Energi Listrik Ke Bentuk Energi Lain
Energi harus diubah agar energi yang ada dapat dimanfatkan sesuai kebutuhan manusia.
1. Energi listrik diubah menjadi cahaya dan panas
Energi listrik adalah energi yang paling banyak kemungkinannya untuk diubah ke bentuk energi lainnya. Lampu merupakan alat yang mengubah energi listrik menjadi cahaya dan panas. Lampu neon yang dinyalakan beberapa jam hanya akan terasa hangat. Namun, lampu dengan kekuatan besar misal lampu stadion olah raga atau lampu penerangan jalan, selain cahayanya sangat menyilaukan juga sangat panas, itulah mengapa hewan-hewan kecil yang mendekat akan langsung mati. Panas yang tidak terlalu besar dari lampu yang menyala ada yang digunakan untuk pemanas kandang ayam, atau bahkan memanaskan bayi yang diinkubator.
2. Energi lsitrik diubah menjadi energi suara
Walkman dan radio adalah contoh alat yang memanfatkan energi listrik untuk mengubah getaran elektromagnetik menjadi getaran suara. Gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh stasiun pemancar radio atau sinyal audio dari kaset magnetik atau citra optic dari piringan audia (audio CD) diubah sedemikian rupa oleh rangkaian elektronik, diperkuat oleh amplifier, dan disalurkan ke speaker. Getaran listrik pada speaker terdengar sebagai bunyi atau suara oleh telinga kita.
3. Energi listrik diubah menjadi energi cahaya (gambar) dan suara
Cotohnya televisi.Gambar dihasilkan oleh cahaya yang membentuk bayangan pada layar kaca. Listrik memberi energi pada rangkaian elektronik untuk mengubah getaran yang diterima dari pemancar televisi menjadi suara dan gambar sehingga dapat didengar dan dilihat. Sebaliknya, energi listrik mengubah suara dan benda-benda visual menjadi getaran suara dan sinyal gambar.

4. Energi listrik diubah menjadi energi gerak
Alat yang mengubah energi listrik menjadi energi gerak adalah motor listrik. Contohnya pada kipas angin, blender, mixer, penggerak mesin jahit, dsb. Dipasang juga pada fan untuk mendinginkan alat elektronik seperti amplifier dan komputer. Juga pada mesin sepeda motor dan mobil untuk menyalakan mesin (motor starter). Dalam ukuran besar, motor listrik dipasang pada mobil listrik dan kereta api listrik. Kelebihan menggunakan motor listrik dari motor yang berbahan bakar minyak adalah lebih bersih. Motor listrik tidak mengeluarkan gas buang yang beracun sehingga akan lebih ramah lingkungan karena tidak menimbulkan polusi udara.
5. Energi listrik diubah menjadi energi panas
Contohnya setrika listrik. Di dalam setrika terdapat elemen yang mengubah energi listrik menjadi panas. Panas itu secara konduksi diteruskan ke badan setrika yang terbuat dari logam sehingga seluruh setrika menjadi panas kecuali pegangannya yang memang terbuat dari isolator. Contoh lainnya adalah penanak nasi (rice cooker), oven, pengering pakaian, pengering rambut (hair dryer), dsb.
Rangkaian listrik sederhana
Rangkaian listrik adalah suatu rangkaian yang terdiri atas:
sumber listrik
- kabel sebagai penghantar listrik
- alat listirk atau elektronik
- Percobaan listrik sederhana
Alat dan bahan:
1. dua baterai 1,5 volt
2. dua kabel kecil
3. lampu 2,5 volt
4. fiting
Langkah percobaan
1. rangkailah baterai, kabel, dan lampu seperti gambar di atas!
2. apakah lampu menyala?
3. jika tidak, periksalah mungkin ujung kabel masih terbungkus. Kupaslah bungkusnya, dan coba lagi.
4. jika menyala, rangkaian dalam keadaan terbuka. Artinya listrik dapat kembali ke  lampu  kabel mengalir secara lancar dari baterai baterai.
5. jika lampu padam, itu berarti rangkaian dalam keadaan tertutup, yaitu listrik tidak dapat mengalir karena rangkaian terputus. Contoh rangkaian listrik sederhana yang lainnya adalah senter.


lampu senter merupakan rangkaian listrik sederhana


BAB III
METODE PENELITIAN

1. Setting Penelitian
Pokok bahasan yang menjadi bahan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah materi Perpindahan dan perubahan energi listrik pada kelas VI SD 006 semester II ntahun pembelajaran 2010/2011
2. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada Semester II Tahun pembelajaran 2010/2011. Tempat penelitian adalah SDN No. 006 Loa Janan.
3. Aspek yang di Teliti
Subjek penelitian dalam penelitian ini siswa kelas VI yang berjumlah 29 siswa di SDN No. 006 Loa Janan, sedangkan yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah metode demonstrasi.
4. Prosedur Penelitian
Adapun rancangan (desain) PTK yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan model Kemmis dan McTaggart (Depdiknas, 2004:2), Pelaksanaan tindakan dalam PTK meliputi empat alur (langkah): (1) perencanaan tindakan; (2) pelaksanaan tindakan; (3) Pengamatan; (4) refleksi. Alur (langkah) pelaksanaan tindakan yang dimaksud dapat dilihat pada gambar berikut.






`









Gambar tersebut di atas menunjukkan bahwa pertama, sebelum melaksanakan tindakan, terlebih dahulu peneliti merencanakan secara seksama jenis tindakan yang akan dilakukan. Kedua, setelah rencana disusun secara matang, barulah tindakan itu dilakukan. Ketiga, bersamaan dengan dilaksanakan tindakan, peneliti mengamati proses pelaksanaan tindakan itu sendiri dan akibat yang ditimbulkannya. Keempat, berdasarkan hasil pengamatan tersebut, peneliti kemudian melakukan refleksi atas tindakan yang telah dilakukan. Jika hasil refleksi menunjukkan perlunya dilakukan perbaikan atas tindakan yang telah dilakukan., maka rencana tindakan perlu disempurnakan lagi agar tindakan yang dilaksanakan berikutnya tidak sekedar mengulang apa yang telah diperbuat sebelumnya. Demikian seterusnya sampai masalah yang diteliti dapat mengalami kemajuan.
5. Rancangan Penelitian
Adapun rancangan penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam beberapa siklus. Dengan catatan: Apabila siklus I berhasil sesuai kriteria yang diinginkan, maka tetap dilakukan siklus II untuk pemantapan, tetapi kalau siklus I tidak berhasil, maka dilakukan siklus II dengan cara menyederhanakan materi dan menambah media pembelajaran. Apabila pada siklus II belum terjadi peningkatan, maka siklus III harus dipersiapkan untuk mengatasi kesulitan yang dialami siswa.
Secara rinci prosedur pelaksanaan rancangan penelitian tindakan kelas untuk setiap siklus dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Pra Siklus
a. Perencanaan
Pada tahap perencanaan, peneliti merencanakan kegiatan yang akan dilakukan pada Penelitian Tindakan Kelas (PTK), adapun kegiatan yang akan dilakukan dalam perencanaan adalah sebagai berikut :
Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran
Membuat skenario
Membuat alat evaluasi
Membuat lembar observasi

b. Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan dilaksanakan selama 2 jam pelajatan ( 2 x 35 menit ) pada bulan Oktober 2010 dalam tahap ini adalah melaksanakan skenario pembelajaran yang telah direncanakan sesuai dengan RPP yang terlampir
c. Pengamatan
Pada tahap observasi, peneliti sebagai guru pengajar melakukan tindakan dengan menggunakan model pembelajaran konvensional dan teman sejawat mengobservasi tindakan yang sedang dilakukan oleh guru dan aktivitas siswa di dalam kelas di lakukan dengan lembar pengamatan yang telah disiapkan.( Lembar pengamatan terlampir)
d. Refleksi
Kegiatan pada tahap ini adalah peneliti bersama-sama observer mendiskusikan hasil tindakan, dari hasil tersebut peneliti dan guru dapat merefleksikannya dengan melihat data pengamatan
2. Siklus I
a. Perencanaan
Pada tahap ini peneliti merumuskan dan mempersiapkan: rencana jadwal pelaksanaan tindakan, rencana pelaksanaan pembelajaran, materi/bahan pelajaran sesuai dengan pokok bahasan, lembar tugas siswa, lembar penilaian hasil belajar, instrumen lembar observasi, dan mempersiapkan kelengkapan lain yang diperlukan dalam rangka analisis data.

b. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan dilaksanakan selama 2 x 35 mrnit ( 1 x pertemuan ) pada November 2010 disesuaikan dengan setting tindakan yang telah ditetapkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) terlampir.
c. Pengamatan
Pengamatan saat proses pembelajaran berlangsung dilakukan pengamatan terhadap perilaku siswa. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui sikap dan perilaku siswa terhadap pembelajaran Perpindahan dan perubahan energi listrik dengan metode demonstrasi. Pelaksanaan pengamatan mulai awal pembelajaran ketika guru melakukan apersepsi sampai akhir pembelajaran dengan menggunakan lembar pengamatan terlampir
d. Refleksi
Refleksi merupakan kegiatan menganalisis semua data atau informasi yang dikumpulkan dari penelitian tindakan yang dilaksanakan, sehingga dapat diketahui berhasil atau tidaknya tindakan yang telah dilaksanakan dengan tujuan yang diharapkan.
2. Siklus II
Berdasarkan refleksi pada siklus I, diadakan kegiatan-kegiatan untuk memperbaiki rencana dan tindakan yang telah dilakukan. Langkah-langkah kegiatan pada siklus II pada dasarnya sama seperti langkah-langkah pada siklus I, tetapi ada beberapa perbedaan kegiatan pembelajaran pada siklus II.
a. Perencanaan
Sebagai tindak lanjut siklus I, dalam siklus II dilakukan perbaikan. Penulis mencari kekurangan dan kelebihan pada pembelajaran membuat ringkasan wacana pada siklus I. Kelebihan yang ada pada siklus I dipertahankan pada siklus II, sedangkan kekurangannya diperbaiki. Peneliti memperbaiki rencana pelaksanaan pembelajaran berdasarkan siklus I. penulis juga menyiapkan pedoman wawancara, lembar observasi untuk mengetahui kemampuan siswa memahami Perpindahan dan perubahan energi listrik dengan metode demonstrasi Pelaksanaan Tindakan
Proses tindakan pada siklus II dengan melaksanakan proses pembelajaran berdasarkan pada pengalaman hasil dari siklus I. Dalam tahap ini peneliti melaksanakan proses pembelajaran berdasarkan Tindakan pada siklus I, perbedaannya adalah pada siklus II dilaksanakan dengan cara menyederhanakan materi pembelajaran dan menambahkan media pengajaran dengan cara membagikan contoh ringkasan wacana kepada masing-masing siswa.
b. Pengamatan
Adapun yang diobservasi pada siklus II sama seperti siklus I, meliputi: hasil tes dan nontes ( pengamatan dan wawancara). Pedoman pengamatan pada siklus II memperhatikan instrumen serta kriteria seperti yang terdapat pada siklus I.
c. Refleksi
Refleksi merupakan kegiatan menganalisis semua data atau informasi yang dikumpulkan dari penelitian tindakan yang dilaksanakan, sehingga dapat diketahui berhasil atau tidaknya tindakan yang telah dilaksanakan pada siklus II dengan tujuan yang diharapkan.
6. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan secara deskreptif yaitu hanya mengumpulkan data yang diperoleh melalui pengamatan dan tes hasil belajar di susun, dijelaskan, dan akhirnya di analisis dalam tiga tahapan yaitu:
1. Reduksi Data
Reduksi data merupakan suatu proses pemilihan, pemusatan dan perbaikan pada penyederhanaan data. Pada tahap reduksi data pengamatan terhadap proses pembelajaran energ dan perubahannya.
2. Display Data (Penyajian Data )
Data yang diperoleh melalui pengamatan dan tes hasil belajar berbentuk tabel dan kalimat sederhana setiap putaran. Sedangkan analisis data kuantitatif menggunakan rata-rata, prosentase dan diagram
a. Rata – rata
Rata – rata digunakan untuk mengetahui peningkatn hasil belajar siswa dengan menggunakn rata – rata skor hasil belajar masing – masing siklus. Adapun rumus mencari rata – rata adalah sebagai berikut.

(Sutrisno Hadi, 1993 : 38 )

Keterangan :
M = Mean (nilai rata-rata)
∑X = Jumlah Nilai
N = Jumlah Siswa (sampel)

Rumus diatas akan diperoleh nilai rata-rata hasil tes, yang selanjutnya nilai rata-rata tersebut ditentukan sesuai dengan kriteria yang dipakai untuk membuktikan atau menentukan nilai tersebut, maka dilanjutkan dengan menggunakan rumus berikut :



Kriteria nilai dimasukkan dalam model kriteria penilaian dari Burhan Nurgiantoro (995:393) sebagai berikut :
SKALA DAN KRITERIA NILAI
Nomor Nilai Dalam Kriteria
Angka 100 Angka 100 Huruf Keterangan
1
2
3
4
5 80 – 100
70 – 79
60 – 69
40 – 59
0 – 39 8,0 – 1,00
7,0 – 7,9
6,0 – 6,9
4,0 – 5,9
0 – 3,9 A
B
C
D
E Baik Sekali
Baik
Cukup
Kurang
Gagal
(Nurgiantoro, 1995 : 393)

b. Diagram
Diagram digunakan untuk menggambarkan peningkatan hasil belajar siswa dalam materi pembelajaran energi dan perubahannya.
3. Conclusion Data ( Kesimpulan )
Data yang telah di analisis kemudian dibuat suatu kesimpulan.
7. Jadwal Penelitian
No. Kegiatan September Oktober Nopember
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Penyusunan Proposal √ √
2. Revisi Proposal √ √
3. Pra Siklus √ √
4. Siklus I √ √
5. Siklus II √ √
6. Kegiatan Akhir √ √












DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S.2002. Prosedur Penelitian suatu pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta

Depdiknas 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

Ismail, 2003. Media Pembelajaran (Model-Model Pembelajaran). Jakarta Direktorat Pendidikan Nasional.
Mustaqim Burhan ,Ayo Belajar IPA Untuk SD Kelas IV Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
Susilo, 2007.Penelitian Tindakan Kelas Yokyakarta: Pustaka book publisher
Tim penyusun modul FKIP Unmul 2008 ,Paikem Samatinda
Trianto 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif – Progresif . Jakarta : Kencana Pernada Media Group.

Uno Hamzah B. 2007. Model Pembelajaran. Jakarta PT. Bumi Aksara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar