Selasa, 26 Juli 2011

Peningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa dengan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT di kelas IV B SDN 012 Loa Janan Tahun Pembelaja

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Matematika merupakan ilmu yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peranan penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Untuk menguasai dan menciptakan teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika sejak dini.
Dalam pembelajaran matematika dibutuhkan pemahaman konsep yang baik sebagai dasar untuk pengembangan materi lebih lanjut, hal ini sangat dipengaruhi oleh faktor model pembelajaran yang digunakan. Pembelajaran yang pasif akan menghambat kreatifitas pola pikir siswa dalam memahami suatu konsep. Oleh karena itu dalam proses pembelajaran matematika siswa dituntut benar-benar aktif, sehingga daya ingat siswa tentang apa yang telah dipelajari akan lebih baik. Suatu konsep akan mudah dipahami dan diingat oleh siswa bila konsep tersebut disajikan melalui prosedur dan langkah-langkah yang tepat, jelas dan menarik. Keaktifan siswa dan belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam belajar.
Berdasarkan urgensi pelajaran matematika di atas, pengajaran matematika perlu diperbaharui, di mana siswa diberikan porsi lebih banyak dibandingkan dengan guru, bahkan siswa harus dominan dalam kegiatan belajar mengajar. Sasaran dari pembelajaran matematika adalah siswa diharapkan mampu berpikir logis, kritis dan sistematis. Untuk mengembangkan potensi to live together salah satunya melalui model pembelajaran kooperatif. Aktivitas pembelajaran kooperatif menekankan pada kesadaran siswa perlu belajar untuk mengaplikasikan pengetahuan, konsep, keterampilan kepada siswa yang membutuhkan atau anggota lain dalam kelompoknya, sehingga belajar kooperatif dapat saling menguntungkan antara siswa yang berprestasi rendah dan siswa yang berprestasi tinggi.
Berdasarkan pengamatan kami sebagai guru SDN 012 Loa Janan, nilai matematika kelas IVB masih rendah di sebabkan karena kurangnya minat siswa dalam mempelajari matematika, kurang menguasai materi pelajaran, dan anak kurang latihan mengerjakan soal-soal di rumah. Hal tersebut ternyata mempengaruhi hasil belajar siswa terutama pada materi pembelajaran matematika.
Mempelajari matematika tidak lepas dari operasi hitung. Keterampilan berhitung tidak hanya berguna dalam persoalan matematika melainkan juga berguna untuk pelajaran lain dan persoalan pada kehidupan sehari-hari. Jika pemahaman siswa mengenal operasi hitung sangat lemah, hal ini akan sangat menghambat siswa tersebut dalam mengikuti pelajaran matematika ataupun pada pelajaran lain yang membutuhkan basis berhitung yang handal. Berhitung merupakan modal utama dari matematika dan matematika merupakan salah satu fondasi dari kemampuan sains dan teknologi, sehingga pemahaman konsep hitung sangat diperlukan siswa sebagai modal utama dalam mengikuti pembelajaran matematika.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti mengadakan penelitian dengan judul “ Peningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa dengan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT di kelas IV B SDN 012 Loa Janan Tahun Pembelajaran 2010/2011
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang dan batasan masalah di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah : Bagaimana peningkatan hasil belajar matematika siswa menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT pada materi Penjumlahan dan Pengurangan bilangan bulat di kelas IV SDN 012 Loa Janan tahun pembelajaran 2010/2011
C. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar matematika siswa menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT Pada materi Penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat di kelas IV B semester II SDN 012 Loa Janan tahun pembelajaran 2010/2011
D. Manfaat penelitian
1. Bagi siswa: Menambah keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika dan menganggap matematika adalah pelajaran yang menyenangkan
2. Bagi guru: menambah kualitas dan wawasan dalam pembelajaran matematika dengan melaksanakan pembelajaran kooperatif tipe NHT.
3. Bagi sekolah: sebagai sumbangan kepada pihak sekolah maupun sekolah lainnya dalam rangka perbaikan proses pembelajaran matematika.


BAB II
KAJIAN MATERI
A. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan interaksi antara guru dengan siswa. Berikut ini beberapa pengertian pembelajaran kooperatif menurut para ahli.
Posamentier (dalam Rachmadi, 2004:13) secara sederhana menyebutkan cooperative learning atau belajar secara kooperatif adalah penempatan beberapa siswa dalam kelompok kecil dan memberikan mereka sebuah atau beberapa tugas.
Menurut Zainurie Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Setiap kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang dan rendah) dan jika memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kerja kesetaraan jender.
Pembelajaran kooperatif adalah suatu strategi pembelajaran sukses dalam kelompok kecil dimana setiap siswa memiliki perbedaan tingkat kemampuan, menggunakan berbagai aktivitas belajar untuk meningkatkan pemahaman mereka pada suatu materi. Masing-masing anggota kelompok bertanggung jawab tidak hanya pada apa yang dipelajari tetapi juga untuk membantu teman satu kelompok.
Jadi, Pembelajaran Kooperatif adalah pembelajaran yang mengharuskan siswa untuk bekerja dalam suatu tim untuk menyelesaikan masalah, menyelesaikan tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk tujuan bersama.
Nur menjelaskan adapun prinsip dasar dan ciri-ciri dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
1. Prinsip dasar pembelajaran kooperatif:
a. Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya.
b. Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama.
c. Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya.
d. Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.
e. Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
f. Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
2. Ciri-ciri pembelajaran kooperatif:
a. Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
b. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender.


c. Penghargaan lebih menekankan pada kelompok dari pada masing-masing individu.
Pengelolaan pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran koopeartif ada tiga tujuan yang hendak dicapai yaitu :
(1) Hasil belajar akademik
Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Banyak ahli yang berpendapat bahwa pembelajaran kooperatif unggul dalam membantu siswa untuk memahami konsep-konsep yang sulit.
(2) Pengakuan adanya keragaman
Pembelajaran kooperatif bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai macam perbedaan antara lain perbedaan suku agama,kemampuan akademik, dan tingkat sosial.
(3) Pengembangan ketrampilan sosial
Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk mengembangkan ketrampilan sosial siswa. Ketrampilan sosial yang dimaksud dalam pembelajaran koopertif antara lain adalah : berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, , mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan sebagainya (Ismail . 2003: 19-20)
Berdasarkan beberapa pendapat yang ada, pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang memandang keberhasilan individu diorientasikan dalam keberhasilan kelompok. Dalam hal ini, maka siswa bekerja sama dalam mencapai


tujuan dan siswa berusaha keras membantu dan mendorong pada teman-teman untuk bersama-sama berhasil dalam belajar.
B. Pembelajaran Kooperatif tipe NHT
Umumnya, jika seorang guru ingin mengetahui tingkat pemahaman siswa pada saat pembelajaran, guru akan mengajukan pertanyaan kepada siswa. Selanjutnya, guru akan menunjuk salah seorang siswa (yang telah mengangkat tangannya ketika guru memberikan pertanyaan) untuk menjawabnya. Seandainya jawaban yang diberikan tidak tepat, barulah siswa yang lain berpeluang untuk menjawab pertanyaan tersebut. itupun seorang saja.
Untuk menghindari terjadinya hal seperti itu, salah satu cara ialah melalui pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Number Heads Together merupakan kegiatan belajar kooperatif yang dikembangkan oleh Spencer Kagan (1993) untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.
Tipe NHT adalah suatu metode belajar dimana setiap siswa diberi nomor kemudian dibuat suatu kelompok kemudian secara acak guru memanggil nomor dari siswa Pembelajaran kooperatif tipe NHT menggunakan tujuh langkah.


Tabel 2.1 Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT
FASE TINGKAH LAKU GURU
Fase-1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa. Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
Fase-2
Menyajikan informasi. Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Fase-3
Penomoran Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 3-5 siswa dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1 sampai 5.
Fase-4
Mengajukan pertanyaan/ permasalahan. Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa untuk dipecahkan bersama dalam kelompok. Pertanyaan dapat bervariasi
Fase-5
Berpikir bersama. Siswa menyatukan pendapatnya terhadap pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban itu.
Fase-6
Menjawab (evaluasi). Guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.
Fase-7
Memberikan penghargaan Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.
Sumber: Ibrahim dkk, (2000 : 10

B. Pembentukan dan Penghargaan Kelompok

Salah satu cara membentuk kelompok berdasarkan kemampuan akademik seperti berikut ini.
Tabel 2.2 Cara membentuk kelompok berdasarkan kemampuan akademik.
Kemampuan No Nama Rangking Kelompok
Tinggi 1 1 A
2 2 B
3 3 C
4 4 D
5 5 E
Sedang 6 6 A
7 7 B
8 8 C
9 9 D
10 10 E
11 11 E
12 12 D
Rendah 13 13 C
14 14 B
15 15 A
16 16 A
17 17 B
18 18 C
19 19 D
20 20 E
21 21 A
Sumber : Hasil Penelitian Tenggarong (2009)

C. Hasil Belajar Matematika

Hasil belajar terdiri dari dua kata, yakni hasil dan belajar. Antara hasil dan belajar memiliki arti yang berbeda. Hasil ialah wujud pencapaian dan suatu tujuan yang dikerjakan, diciptakan baik secara individu maupun kelompok. Hasil tak akan pernah didapat selama seseorang tidak melakukan suatu tindakan. Sedangkan belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar untuk menuju suatu perubahan. Dengan demikian dapat dipahami makna hasil belajar merupakan wujud tujuan yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan pada diri individu dalam aktivitas kemandirian hidup. (Djamarah. 1994:1-5). Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. (Sudjana,1991:22)
Sudjana, (1991:56-57) Hasil yang dicapai siswa melalui proses belajar mengajar yang optimal cenderung menunjukkan hasil yang berciri sebagai berikut:
1. Kepuasaan dan kebanggaan yang dapat menumbuhkan motivasi belajar intrinsif pada diri siswa. Motivasi intrinsif adalah semangat juang untuk belajar yang tumbuh dan dalam diri siswa itu sendiri, siswa tidak akan mengeluh dengan prestasi yang rendah, dan siswa akan berjuang lebih keras lagi utuk memperbaikinya, sebaliknya, hasil belajar yang baik akan mendorong siswa untuk meningkatkan apa yang telah dicapainya.
2. Menambah keyakinan akan kemampuan dirinya. Artinya siswa tahu kemampuan dirinya dan percaya siapa punya potensi yang tak kalah dari orang lain apabila siswa berusaha sebagaimana harusnya. Siswa juga yakin tidak ada sesuatu yang tidak dapat dicapai bila siswa berusaha sesuai dengan kesanggupannya.
3. Hasil belajar yang dicapainya bermakna bagi diri siswa, seperti makan tahan lama dilihatnya, membentuk perilakunya, bermanfaat untuk mempelajari aspek lain, dapat digunakan sebagai alat untuk memperoleh informasi dan pengetahuan lainnya, kemauan dan kemampuan untuk belajar sendiri serta dapat mengembangkan kreativitas.
4. Hasil belajar diperoleh siswa secara menyeluruh (komprehensif), yakni mencakup ranah kognitif, pengetahuan atau wawasan, ranah afektif atau sikap yang apresiasif, serta ranah psikomotorik, ketrampilan atau perilaku. Ranah kognitif terutama adalah hasil yang diperolehnya sedangkan ranah afektifnya dan psikomotorik diperolehnya sebagai efek samping yang tidak dilaksanakan dalam pembelajaran.
5. Keterampilan siswa untuk mengontrol atau menilai dan mengendalikan dirinya terutama dalam menerima hasil yang dicapainya maupun menilai dan mengendalikan proses dari usaha belajarnya. Siswa tahu dan sadar bahwa tinggi rendahnya hasil belajar yang dicapaiannya tergantung pada usaha dan motivasi belajar dirinya sendiri.
Matematika sebagai salah satu perluasan dan pendalaman sains merupakan ilmu yang mempelajari tentang fakta, konsep,teori matematika secara sistimatis dan dirumuskan mengikuti kaidah-kaidah ilmiah dengan melibatkan unsur proses,baik mental maupun fisik sehiungga terbentuk sikap ilmiah yang kritis, obyektif, sistematis, terbuka, tekun, dan jujur, untuk perkembangan dasar pengetahuan, sikap dan ketrampilan dalam mempelajari matematika serta keterkaitannya antara konsep dan penerapannya dalam kehidupan nyata.
Hasil belajar matematika adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah siswa menerima materi-materi matematika yang cenderung menggunakan aspek kognitifnya yang diukur melalui tes.
Arikunto (2002:26) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah:
a. Faktor yang berasal dari dalam diri siswa (internal) dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu faktor psikologis dan jasmaniah. Yang dikategorikan faktor jasmaniah anatra lain: kelelahan, motivasi. suasana hati dan kebiasaan belajar.
b. Faktor yang berasal dari luar individu (eksternal) dapat diklasifikasikan menjadi dua , yaitu faktor manusia dan manusia, seperti alam, hewan, dan lingkungan fisik.
Berdasarkan pendapat yang telah dipaparkan dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa dalam menerima materi yang telah disampaikan dan dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari dalam diri siswa (internal) maupun faktor yang berasal dari luar individu (eksternal).
E. Penggunaan Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT
Langkah-langkah pembelajaran:
Fase-1. Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.
Guru menyampaikan indikator, tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
Tujuan pembelajaran Siswa dapat:
1. Siswa mampu melakukan pengerjaan operasi penjumlahan dan pengurangan pada bilangan bulat
2. Siswa mampu melakukan pengerjaan operasi hitung campuran pada bilangan bulat
Fase-2. Menyajikan informasi
Guru menjelaskan pengertian penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dan memberi contoh.
Dalam konsep penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dipelajari pengertian bilangan bulat dan mengerjakan operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat.
1. Bilangan bulat
Bilangan bulat adalah bilangan bukan pecahan yang terdiri dari bilangan :
- Bulat positif (1, 2, 3, 4, 5, …)
- Nol : 0
- Bulat Negatif ( …,-5,-4,-3,-2,-1)
2. Operasi Penjumlahan Bilangan Bulat
Penjumlahan Bilangan bulat adalah proses penggabungan dua atau lebih bilangan bulat
Penjumlahan dan Sifat-sifatnya
Sifat Asosiatif
( a + b ) + c = a + ( b + c )
Contoh :(5 + 3 ) + 4 = 5 + ( 3 + 4 ) = 12
Sifat Komutatif
a + b = b + a
Contoh :
7 + 2 = 2 + 7 = 9
(-4) + 2= 2+(-4)=-2
Unsur Identitas terhadap penjumlahan
Bilangan Nol (0) disebut unsur identitas atau netral terhadap penjumlahan
a + 0 = 0 + a
Contoh :
6 + 0 = 0 + 6
Unsur invers terhadap penjumlahan
Invers jumlah (lawan) dari a adalah -a
Invers jumlah (lawan) dari – a adalah a
a + (-a) = (-a) + a
contoh :
5 + (-5) = (-5) + 5 = 0
Bersifat tertutup
Apabila dua buah bilangan bulat ditambahkan maka hasilnya adalah bilangan bulat juga.
a dan b ∈ bilangan bulat maka a + b = c ; c ∈ bilangan bulat
contoh : 4 + 5 = 9 ; 4,5,9 ∈ bilangan bulat
Prinsip kerja yang harus dilakukan yang harus diperhatikan dalam melakukan operasi penjumlahan dengan menggunakan diagram panah sebagai berikut :
a. Posisi awal diagram panah harus berada pada skala nol.
b. Jika bilangan pertama berada positif maka bagian muka panah menghadap ke bilangan positif dan kemudian melangkahkan panah tersebut ke skala yang sesuai dengan besarnya bilangan pertama tersebut. Proses yang sama juga dilakukan apabila bilangan pertamanya negatif bertanda negatif.
c. Jika diagram panah di langkahkan maju, dalam prinsip operasi hitung istilah maju diartikan sebagai tambah (+) silangkan jika diagram panah di langkahkan mundur, istilah mundur diartikan sebagai kurang (-)
Contoh : I
3 + 2 = ….?
a. Tempatkan diagram panah pada skala nol dan menghadap ke arah bilangan positif.

4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4

Gb.1 Garis Bilangan pada operasi penjumlahan
Sumber : (Gatot Muhsetyo 2007)
b. Langkahkan diagram panah tersebut satu langkah demi satu langkah maju dari 0 sebanyak 3 skala. Hal ini untuk menunjukan bilangan pertama dari operasi tersebut yaitu positif 3

-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4
c. Karena penjumlahannya merupakan bilangan positif, maka pada skala tersebut posisi muka diagram panah tetap menghadap ke bilangan positif dan melangkahkan maju sebanyak dua skala.


-5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6

d. Posisi akhir dari diagram panah pada langkah ke 3 di atas terletak pada skala 5 dan ini menunjukan hasil dari 3 + 2 = 5.
Contoh = 2
3 + (-5) = …?
Untuk menjawab soal diatas perlu diperhatikan langkah – langkahnya.
a. Tempatkan diagram panah pada skala nol dan menghadap ke bilangan positif.

-6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6
b. Langkahkan diagram panah tersebut satu langkah demi satu langkah maju dari 0 sebanyak 3 skala. Hal ini untuk menunjukan bilangan pertama dari operasi tersebut, yaitu positif 3

-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6
c. Karena bilangan penjumlahannya merupakan bilangan negatif, maka pada posisi diagram panah balik ke arah ke bilangan negatif.


-5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6

d. Karena operasi penjumlahan, yaitu oleh bilangan (-5) berarti diagram panah tersebut harus di langkahkan maju dari angka 3 satu langkah demi satu langkah sebanyak 5 skala.





e. Posisi terakhir dari diagram panah pada langkah ke 4 di atas terletak pada skala -2 dan ini menunjukan hasil dari 3 + (-5).
Contoh : 3
(-2) + (-5) =….?
a. Tempatkan diagram panah pada skala nol dan menghadap ke arah bilangan negatif.


-7 6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7

b. Diagran panah melangkah dari bilangan nol ke bilangan -2. Untuk menunjukkan bilangan pertama adalah negatif dua.


-7 6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5

c. Langkahkan diagram panah tersebut dari negatif 2 maju lima skala ke bilangan -7.


-7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6

d. Dari langkah ke 3 di atas terletak pada skala -7 dan ini menunjukan -2 + (-5). Jadi -2 + (-5) = - 7.
3. Operasi Pengurangan Bilangan Bulat
Pengurangan bilangan bulat adalah proses pemisahan atau pengambilan dua atau lebih bilangan bulat
Pengurangan dan Sifat-sifatnya
- Untuk sembarang bilangan bulat berlaku :
a – b = a + (-b)
a – (-b) = a + b
contoh:
8 – 5 = 8 + (-5) = 3
7 – (-4) = 7 + 4 = 11
- Sifat Komutatif dan asosiatif tidak berlaku
a – b ≠ b - a
(a – b ) – c ≠ a – ( b – c )
Contoh :
7 – 3 ≠ 3 -7 �� 4 ≠ - 4
(9 – 4) – 3 ≠ 9 – (4-3) �� 2 ≠ 8
- Pengurangan bilangan nol mempunyai sifat :
a – 0 = a dan 0 – a = -a
- Bersifat tertutup, yaitu bila dua buah bilangan bulat dikurangkan hasilnya adalah bilangan bulat juga
a dan b ∈ bilangan bulat maka a - b = c ; c ∈ bilangan bulat
contoh :
7 - 8 = -1 ; 7,8,-1 ∈ bilangan bulat

Cara Pengerjaan operasi pengurangan dengan menggunakan diagram panah adalah sebagai berikut:
Misalkan a dan b bilangan bulat, untuk mencari hasil a – b dapat dilakukan peragaan sebagai berikut.
a. Letak diagram panah menghadap ke kanan
(menghadap bilangan positif)
Pada posisi nol (0)
Misal : 3 – 2 = ….?



-3 -2 -1 0 1 2 3 4




)
b. Diagram panah melangkah ke 3 skala


-5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3




c. Diagram panah tersebut mundur 2 skala dari titik 3.


-2 -1 0 1 2 3 4

d. Langkah ke tiga di atas menunjukan operasi 3 – 2 = 1.
Contoh : 2.
- 2 – 5 =…?
a. Diagram panah pada skala 0 dan menghadap ke arah bilangan negatif.


-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4






b. Diagram panah melangkah maju dari bilangan 0 ke bilangan -2


-5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5





c. Diagram panah berbalik arah menghadap ke bilangan positif.



-6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5




d. Diagram panah setelah berbalik arah kemudian mundur 5 satuan dari bilangan negatif 2.


-8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6

e. Dari langkah ke 4 di atas terletak pada skala – 7 ini menunjukkan - 2 – 5. Jadi - 2 – 5 = - 7.
4. Operasi Hitung campuran pada bilangan Bulat
Aturan dalam mengerjakan operasi campuran adalah sebagai berikut:
- Operasi dalam tanda kurung dikerjakan terlebih dahulu.
- Perkalian dan pembagian adalah setara, yang ditemui terlebih dahulu dikerjakan terlebih dahulu
- Penjumlahan dan pengurangan adalah setara, yang ditemui terlebih dahulu dikerjakan terlebih dahulu
- Perkalian atau pembagian dikerjakan lebih dahulu daripada penjumlahan atau pengurangan.
Contoh
1. a. 20 + 30 – 12 = 50 – 12 = 38
b. 40 – 10 - 5 = 30 – 5 = 25
c. 40 - (10 - 5) = 40 – 5 = 35
2. a. 600 : 20 : 5 = 30 : 5 = 6
b. 600 : (20 : 5) = 600 : 4 = 150
c. 5 x 8 : 4 = 40 : 4 = 10
3. a. 5 x (8 + 4) = 5 x 12 = 60
b. 5 x 8 -4 = 40 – 4 = 36
c. 5 x (8 – 4) = 5 x 4 = 20

Fase-3 Penomoran
Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 5 siswa dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1 sampai 5.
Fase-4 Mengajukan Pertanyaan/Permasalahan
Guru memberikan pertanyaan kepada siswa untuk dipecahkan bersama dalam kelompok.
Soal:
1. Tentukan nilai dari -3 + 1 = -2
Fase-5 Berpikir Bersama
Siswa menyatukan pendapatnya terhadap pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban itu.
Fase-6 Menjawab (Evaluasi)
Guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.
Guru : “Kepala Bernomor 3, selesaikan soal nomor 1 di papan tulis.”
(Jika jumlah kelas ada sebanyak 20 orang siswa dan satu kelompok terdapat 4 orang, maka siswa dengan kepala bernomor 3 ada sebanyak 4 orang. Keempat siswa tersebutlah yang akan menjawab soal nomor 1).
Salah seorang siswa dengan kepala bernomor 3 (anggota kelompok I) mengerjakan soal nomor 1 di papan tulis sebagai berikut:
-3 + 1 = -2
Demikianlah selanjutnya proses presentase untuk soal no. 2 dan 3.
Guru juga dapat memberikan soal evaluasi (test individual).
Fase-7 Memberikan Penghargaan
Guru memberikan penghargaan. Penentuan penghargaan kelompok dilihat dari skor awal (nilai ulangan sebelumnya).
F. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT
Kita mengetahui bahwa setiap model pembelajaran dan metode pembelajaran yang manapun pasti memiliki kelebihan dan kelemahan. Berikut ini merupakan kelebihan dan kelemahan pembelajaran kooperatif tipe NHT (http://learning-with-me.blogspot.com/2006/09/pembelajaran.html#4) adalah:
1. Kelebihan
a. Setiap siswa menjadi siap semua.
b. Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh.
c. Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai.
2. Kekurangan
a . Kemungkinan nomor yang dipanggil, dipanggil lagi oleh guru.
b. Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru.
c. Kendala teknis, misalnya masalah tempat duduk kadang sulit atau kurang mendukung diatur kegiatan kelompok.


BAB III
METODE PENELITIAN

1. Setting Penelitian
Pokok bahasan yang menjadi bahan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah materi Penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat pada kelas IV SD semester II ntahun pembelajaran 2010/2011
2. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada Semester II Tahun pembelajaran 2010/2011. Tempat penelitian adalah SDN No. 012 Loa Janan.
3. Aspek yang di Teliti (Subjek dan Objek Penelitian)
Subjek penelitian dalam penelitian ini siswa kelas IVB yang berjumlah 30 siswa dipilih dari seluruh kelas IV yang berjumlah 2 kelas di SDN No. 012 Loa Janan, sedangkan yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah pembelajaran kooperatif tipe NHT.
4. Prosedur Penelitian
Adapun rancangan (desain) PTK yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan model Kemmis dan McTaggart (Depdiknas, 2004:2), Pelaksanaan tindakan dalam PTK meliputi empat alur (langkah): (1) perencanaan tindakan; (2) pelaksanaan tindakan; (3) Pengamatan; (4) refleksi. Alur (langkah) pelaksanaan tindakan yang dimaksud dapat dilihat pada gambar berikut.





`








Gambar tersebut di atas menunjukkan bahwa pertama, sebelum melaksanakan tindakan, terlebih dahulu peneliti merencanakan secara seksama jenis tindakan yang akan dilakukan. Kedua, setelah rencana disusun secara matang, barulah tindakan itu dilakukan. Ketiga, bersamaan dengan dilaksanakan tindakan, peneliti mengamati proses pelaksanaan tindakan itu sendiri dan akibat yang ditimbulkannya. Keempat, berdasarkan hasil pengamatan tersebut, peneliti kemudian melakukan refleksi atas tindakan yang telah dilakukan. Jika hasil refleksi menunjukkan perlunya dilakukan perbaikan atas tindakan yang telah dilakukan., maka rencana tindakan perlu disempurnakan lagi agar tindakan yang dilaksanakan berikutnya tidak sekedar mengulang apa yang telah diperbuat sebelumnya. Demikian seterusnya sampai masalah yang diteliti dapat mengalami kemajuan.
Adapun rancangan penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam beberapa siklus. Dengan catatan: Apabila siklus I berhasil sesuai kriteria yang diinginkan, maka tetap dilakukan siklus II untuk pemantapan, tetapi kalau siklus I tidak berhasil, maka dilakukan siklus II dengan cara menyederhanakan materi dan menambah media pembelajaran. Apabila pada siklus II belum terjadi peningkatan, maka siklus III harus dipersiapkan untuk mengatasi kesulitan yang dialami siswa.
Secara rinci prosedur pelaksanaan rancangan penelitian tindakan kelas untuk setiap siklus dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Pra Siklus
a. Perencanaan
Pada tahap perencanaan, peneliti merencanakan kegiatan yang akan dilakukan pada Penelitian Tindakan Kelas (PTK), adapun kegiatan yang akan dilakukan dalam perencanaan adalah sebagai berikut :
Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran
Membuat skenario
Membuat alat evaluasi
Membuat lembar observasi
b. Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini adalah melaksanakan skenario pembelajaran yang telah direncanakan. Pelaku tindakan adalah peneliti selaku guru, dan yang bertindak sebagai observer adalah teman sejawat sesama guru matematika.
c. Pengamatan
Pada tahap observasi, peneliti sebagai guru pengajar melakukan tindakan dengan menggunakan model pembelajaran konvensional dan teman sejawat mengobservasi tindakan yang sedang dilakukan oleh guru dan aktivitas siswa di dalam kelas di lakukan dengan lembar observasi yang telah disiapkan.
d. Refleksi
Kegiatan pada tahap ini adalah peneliti bersama-sama observer mendiskusikan hasil tindakan, dari hasil tersebut peneliti dan guru dapat merefleksikannya dengan melihat data observasi
2. Siklus I
a. Perencanaan
Pada tahap ini peneliti merumuskan dan mempersiapkan: rencana jadwal pelaksanaan tindakan, rencana pelaksanaan pembelajaran, materi/bahan pelajaran sesuai dengan pokok bahasan, lembar tugas siswa, lembar penilaian hasil belajar, instrumen lembar observasi, dan mempersiapkan kelengkapan lain yang diperlukan dalam rangka analisis data.
b. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan pada dasarnya disesuaikan dengan setting tindakan yang telah ditetapkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini dilakukan sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran pada pola dan tahapan pembelajaran Kooperatif NHT
c. Pengamatan
Pengamatan saat proses pembelajaran berlangsung dilakukan pengamatan terhadap perilaku siswa. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui sikap dan perilaku siswa terhadap pembelajaran Penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan pembelajaran Kooperatif NHT. Pelaksanaan pengamatan mulai awal pembelajaran ketika guru melakukan apersepsi sampai akhir pembelajaran.
Sejalan dengan hal tersebut, tim UPT PPL UM menyatakan bahwa jenis instrumen yang diperlukan dalam penilaian belajar afektif dalam hal ini bisa berupa pengamatan, dokumentasi, atau kuesioner sikap. Langkah penyusunannya adalah dengan cara (1) menentukan aspek afektif yang akan dinilai, (2) menentukan instrumen yang akan digunakan, (3) mengidentifikasi ciri/indikator aspek afektif yang dapat diamati dan cukup mewakili indikator, (4) menyusun pedoman pengamatan, skala sikap, atau kuesioner yang berisi deskriptor dari suatu indikator, dan (5) menentukan skor/kategori yang dicapai siswa berdasarkan hasil pengamatan.Dalam hal ini penilaian terhadap aspek belajar pembiasaan yang pada umumnya berkait dengan aspek afektif dan psikomotor dapat dipadukan dan digunakan untuk mengamati unjuk kerja siswa. (Tim UPT PPL UM, 2005).
Tabel 2 Format Pengamatan Aktifitas Belajar Siswa
No Nama Siswa Aspek yang Diamati
Jml Skor Interpretasi
Tanggung Jawab Perhatian Kerjasama
3 2 1 3 2 1 3 2 1 B C K









Keterangan:
Kolom aspek tanggung jawab, perhatian, dan kerjasama diisi dengan membubuhkan tanda ceklis ( V ) pada kolom skor yang sesuai.
Deskriptor
- Tanggung Jawab
a. Siswa melaksanakan perintah guru
b. Siswa mempelajari bagian tugas kelompok yang ditugaskan
c. Siswa mengikuti kegiatan kelompok
- Perhatian
a. Siswa memperhatikan penjelasan materi yang disampaikan guru
b. Siswa memperhatikan petunjuk guru
c. Siswa memperhatikan penjelasan teman
- Kerjasama
a. Siswa saling memberikan ide dan gagasan dalam kegiatan diskusi kelompok
b. Siswa saling membantu kesulitan teman sesama kelompok
c. Siswa bekerjasama mempelajari tugas kelompok
Skor 3 = Apabila semua indikator muncul
Skor 2 = Hanya 2 indikator yang muncul
Skor 1 = Hanya 1 indikator yang muncul
Rentang Skala
7 – 9 = Baik (B)
4 – 6 = Cukup (C)
1 – 3 = Kurang (K)
d. Refleksi
Refleksi merupakan kegiatan menganalisis semua data atau informasi yang dikumpulkan dari penelitian tindakan yang dilaksanakan, sehingga dapat diketahui berhasil atau tidaknya tindakan yang telah dilaksanakan dengan tujuan yang diharapkan.
5. Siklus II
Berdasarkan refleksi pada siklus I, diadakan kegiatan-kegiatan untuk memperbaiki rencana dan tindakan yang telah dilakukan. Langkah-langkah kegiatan pada siklus II pada dasarnya sama seperti langkah-langkah pada siklus I, tetapi ada beberapa perbedaan kegiatan pembelajaran pada siklus II.
a. Perencanaan
Sebagai tindak lanjut siklus I, dalam siklus II dilakukan perbaikan. Penulis mencari kekurangan dan kelebihan pada pembelajaran membuat ringkasan wacana pada siklus I. Kelebihan yang ada pada siklus I dipertahankan pada siklus II, sedangkan kekurangannya diperbaiki. Peneliti memperbaiki rencana pelaksanaan pembelajaran berdasarkan siklus I. penulis juga menyiapkan pedoman wawancara, lembar observasi untuk mengetahui kemampuan siswa memahami pemjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan pembelajaran Kooperatif NHT Pelaksanaan Tindakan
Proses tindakan pada siklus II dengan melaksanakan proses pembelajaran berdasarkan pada pengalaman hasil dari siklus I. Dalam tahap ini peneliti melaksanakan proses pembelajaran berdasarkan Tindakan pada siklus I, perbedaannya adalah pada siklus II dilaksanakan dengan cara menyederhanakan materi pembelajaran dan menambahkan media pengajaran dengan cara membagikan contoh ringkasan wacana kepada masing-masing siswa.
b. Pengamatan
Adapun yang diobservasi pada siklus II sama seperti siklus I, meliputi: hasil tes dan nontes ( pengamatan dan wawancara). Pedoman pengamatan pada siklus II memperhatikan instrumen serta kriteria seperti yang terdapat pada siklus I.
c. Refleksi
Refleksi merupakan kegiatan menganalisis semua data atau informasi yang dikumpulkan dari penelitian tindakan yang dilaksanakan, sehingga dapat diketahui berhasil atau tidaknya tindakan yang telah dilaksanakan pada siklus II dengan tujuan yang diharapkan.
6. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan secara deskreptif yaitu hanya mengumpulkan data yang diperoleh melalui pengamatan dan tes hasil belajar di susun, dijelaskan, dan akhirnya di analisis dalam tiga tahapan yaitu:
1. Reduksi Data
Reduksi data merupakan suatu proses pemilihan, pemusatan dan perbaikan pada penyederhanaan data. Pada tahap reduksi data pengamatan terhadap proses pembelajaran.
2. Display Data (Penyajian Data )
Data yang diperoleh melalui pengamatan dan tes hasil belajar berbentuk table dan kalimat sederhana setiap putaran. Sedangkan analisis data kuantitatif menggunakan rata-rata, prosentase dan diagram
a. Rata – rata
Rata – rata digunakan untuk mengetahui peningkatn hasil belajar siswa dengan menggunakn rata – rata skor hasil belajar masing – masing siklus. Adapun rumus mencari rata – rata adalah sebagai berikut.
(Sudjana 2005)
Keterangan :
: Nilai rata –rata hasil belajar siswa pada setiap siklus
: Jumlah nilai seluruh siswa
n : Banyaknya siswa

Untuk mengetahui hasil belajar siswa dapat dilakukan dengan menganalisis data berupa nilai tugas dan nilai tes pada setiap siklus (tes formatif) menggunakan rumus, nilai rata – rata tugas setiap siklus dijumlahkan dengan dua kali nilai rata – rata tes hasil belajar (nilai tes formatif)
NA =
Keterangan :
Na = Nilai Akhir Setiap Siklus (Depdiknas, 2005 : 29)
NT = Nilai Tugas
NH = Nilai Test Akhir Siklus
Modifikasi Depdiknas 2005 : 29

b. Presentase
Persentasi digunakan untuk menggambarkan peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II dengan menggunakan rumus:

Presentasi = %

Keterangan :
a. Selisih skor rata-rata prestasi siswa pada dua siklus
b. Skor rata-rata prestasi siswa pada siklus sebelummnya.

Langkah-langkah memberi penghargaan kelompok:
1. Menentukan nilai dasar (awal) masing-masing siswa. Nilai dasar (awal) dapat berupa nilai tes/kuis awal atau menggunakan nilai ulangan sebelumnya.
2. Menentukan nilai tes/kuis yang telah dilaksanakan siswa bekerja dalam kelompok; misal nilai kuis I, nilai kuis II, atau rata-rata nilai kuis I dan kuis II kepada setiap siswa yang telah kita sebut nilai kuis terkini.
3. Menentukan nilai peningkatan hasil belajar yang besarnya ditentukan berdasarkan selisih nilai kuis terkini atau nilai dasar (awal) masing-masing siswa dengan menggunakan kriteria berikut ini:
Perhitungan Skor Perkembangan
KRITERIA NILAI PENINGKATAN
Nilai kuis/tes terkini turun lebih dari 10 poin di bawah nilai awal. 5
Nilai kuis/tes terkini turun 1 sampai dengan 10 poin di bawah nilai awal. 10
Nilai kuis/tes terkini sama dengan nilai awal sampai dengan 10 di atas nilai awal. 20
Nilai kuis/tes terkini lebih dari 10 poin di atas nilai awal. 30
Sumber : Ratumanan (2002)
Penghargaan kelompok diberikan berdasarkan rata-rata nilai peningkatan yang diperoleh masing-masing kelompok dengan memberikan predikat cukup, baik, sangat baik, dan sempurna
Tingkat Penghargaan Kelompok
Nilai Rata-rata peningkatan kelompok Penghargaan
N<15 Cukup
15 ≤ N < 20 Baik
20 ≤ N < 25 Sangat Baik
N ≥ 25 Sempurna
Sumber : Ratumanan (2002)
c. Diagram
Diagram digunakan untuk menggambarkan peningkatan hasil belajar siswa dalam materi pembelajaran Penjumlahan dan Pengurangan bilangan bulat.
3. Conclusion Data ( Kesimpulan )
Data yang telah di analisis kemudian dibuat suatu kesimpulan.
7. Jadwal Penelitian
No. Kegiatan September Oktober Nopember
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Penyusunan Proposal √ √
2. Revisi Proposal √ √
3. Pra Siklus √ √
4. Siklus I √ √
5. Siklus II √ √
6. Kegiatan Akhir √ √











DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S.2002. Prosedur Penelitian suatu pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta

Cooperative Learning http://edtech.kennesaw.edu/intech/cooperativelearning.htm
Esis.Widdiarto,Rachmadi. 2004. Makalah: model-model Pembelajaran Matematika SD. Yogyakarta: PPG Matematika
http://learning-with-e.blogspot.com/2006/09/pembelajaran.html#4
http://zainurie.files.wordpress.com/2007/12/ppp pembelajaran kooperatif.pdf
Ibrahim, dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya-University Press.
Ismail, 2003. Media Pembelajaran (Model-Model Pembelajaran). Jakarta Direktorat Pendidikan Nasional.
Mustaqim Burhan ,Ayo Belajar Matematika Untuk SD Kelas IV Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
Sudjana. 1996. Metode Statistik.Bandung: Tarsito
Susilo, 2007.Penelitian Tindakan Kelas Yokyakarta: Pustaka book publisher

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar